Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Friday, 2 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Politik»Membunuh Filsuf
    Politik

    Membunuh Filsuf

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 April 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Peran Filsafat dalam Masa Kini

    Ali Larijani, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, meninggal dalam serangan Israel pada 17 Maret 2026. Dalam peristiwa ini, filsuf Rusia Aleksandr Dugin mengungkapkan kekecewaannya dengan mengatakan, “Mengapa kalian membunuh para filsuf? Mereka itu sangat langka. Sekarang, dia [Larijani] di surga. Kita justru masih di neraka.” Kalimat ini menunjukkan betapa pentingnya peran filsuf dalam dunia yang semakin pragmatis.

    Filsafat sering kali dianggap sebagai bidang yang tidak praktis dan tidak relevan dalam dunia modern. Namun, bagi sebagian orang, filsafat adalah cara untuk memahami makna hidup dan mencari kebijaksanaan. Sayangnya, banyak orang lebih tertarik pada hal-hal yang terlihat langsung dan bisa memberikan hasil cepat, seperti uang atau kekuasaan. Ini membuat filsafat menjadi kurang diminati, terutama oleh para politisi yang lebih mementingkan kekuasaan daripada pemikiran mendalam.

    Filsafat vs. Materialisme

    Dalam era materialisme, segala sesuatu dinilai berdasarkan nilai ekonomi. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk filsafat dan ilmu agama, seringkali dianggap rendah dibandingkan sains, matematika, dan teknologi. Namun, Farish A. Noor, seorang ahli sejarah poskolonial, menggugat anggapan ini. Baginya, pertanyaannya bukanlah apakah kita membutuhkan ilmu-ilmu tersebut, tetapi apa akibatnya jika kita tidak lagi mempelajarinya.

    Teknologi telah membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari komunikasi hingga pengambilan keputusan. Namun, teknologi hanya alat. Penggunaannya bergantung pada manusia, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Teknologi tidak menjawab pertanyaan tentang makna hidup: Mengapa kita hadir di dunia ini? Apa tujuan hidup ini? Mengapa ada suka dan duka?

    Filsafat dalam Budaya Modern

    Meskipun filsafat masih dipelajari, semakin menjauh dari makna yang sebenarnya. Menurut Seyyed Hossein Nasr, filsafat dalam budaya Barat modern sering kali dianggap sebagai wacana akademis tanpa solusi nyata. Padahal, dalam pengertian klasik, filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Filsafat bukan sekadar olah pikir, tetapi upaya menemukan kebijaksanaan hidup.

    Ibnu Rusyd, filsuf Muslim abad pertengahan asal Spanyol, menyatakan bahwa agama dan filsafat tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Dia menyebut agama sebagai ‘syariah’ dan filsafat sebagai ‘hikmah’. Syariah bersumber dari wahyu Allah, sedangkan hikmah berasal dari pengkajian akal dan indera manusia. Dengan mengkaji apa yang ada, manusia akan mengenali Tuhan yang menciptakan segala sesuatu.

    Ketimpangan di Masa Kini

    Kemajuan sains dan teknologi telah membawa manusia ke era industri, informasi, dan digital. Namun, ketimpangan semakin parah. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Pemimpin dan kaum terpelajar sering kali jauh dari kebijaksanaan hidup, lebih memilih perang daripada damai, nafsu serakah daripada keadilan.

    Ribuan tahun lalu, Socrates dibunuh oleh penguasa. Plato berpikir bahwa negara yang adil harus dipimpin oleh filsuf. Al-Farabi juga menyampaikan ide serupa dalam impiannya tentang ‘negara utama’. Namun, betapa langkanya filsuf yang bisa menjadi penguasa! Jika penguasa bukan seorang filsuf, mereka sebaiknya didampingi oleh filsuf sebagai penasihat. Sayangnya, seringkali penguasa angkuh dan enggan dinasihati.

    Kesimpulan

    Sains dan teknologi penting bagi kemudahan hidup manusia. Namun, manusia tidak hanya terdiri dari tubuh dan otak, tetapi juga jiwa dan ruh. Jika manusia hanya fokus pada hal-hal yang sifatnya bendawi dan jasmani, maka kehilangan kemanusiaannya. Mesin dan manusia, akhirnya tak ada beda!


    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

    31 August 2026

    Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?