Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 13 Juli 2026
Trending
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
  • Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen
  • Sandro Tonali resmi bergabung dengan Tottenham Hotspur, jadi pemain termahal klub
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Membunuh Filsuf
Politik

Membunuh Filsuf

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 April 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peran Filsafat dalam Masa Kini

Ali Larijani, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, meninggal dalam serangan Israel pada 17 Maret 2026. Dalam peristiwa ini, filsuf Rusia Aleksandr Dugin mengungkapkan kekecewaannya dengan mengatakan, “Mengapa kalian membunuh para filsuf? Mereka itu sangat langka. Sekarang, dia [Larijani] di surga. Kita justru masih di neraka.” Kalimat ini menunjukkan betapa pentingnya peran filsuf dalam dunia yang semakin pragmatis.

Filsafat sering kali dianggap sebagai bidang yang tidak praktis dan tidak relevan dalam dunia modern. Namun, bagi sebagian orang, filsafat adalah cara untuk memahami makna hidup dan mencari kebijaksanaan. Sayangnya, banyak orang lebih tertarik pada hal-hal yang terlihat langsung dan bisa memberikan hasil cepat, seperti uang atau kekuasaan. Ini membuat filsafat menjadi kurang diminati, terutama oleh para politisi yang lebih mementingkan kekuasaan daripada pemikiran mendalam.

Filsafat vs. Materialisme

Dalam era materialisme, segala sesuatu dinilai berdasarkan nilai ekonomi. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk filsafat dan ilmu agama, seringkali dianggap rendah dibandingkan sains, matematika, dan teknologi. Namun, Farish A. Noor, seorang ahli sejarah poskolonial, menggugat anggapan ini. Baginya, pertanyaannya bukanlah apakah kita membutuhkan ilmu-ilmu tersebut, tetapi apa akibatnya jika kita tidak lagi mempelajarinya.

Teknologi telah membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari komunikasi hingga pengambilan keputusan. Namun, teknologi hanya alat. Penggunaannya bergantung pada manusia, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Teknologi tidak menjawab pertanyaan tentang makna hidup: Mengapa kita hadir di dunia ini? Apa tujuan hidup ini? Mengapa ada suka dan duka?

Filsafat dalam Budaya Modern

Meskipun filsafat masih dipelajari, semakin menjauh dari makna yang sebenarnya. Menurut Seyyed Hossein Nasr, filsafat dalam budaya Barat modern sering kali dianggap sebagai wacana akademis tanpa solusi nyata. Padahal, dalam pengertian klasik, filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Filsafat bukan sekadar olah pikir, tetapi upaya menemukan kebijaksanaan hidup.

Ibnu Rusyd, filsuf Muslim abad pertengahan asal Spanyol, menyatakan bahwa agama dan filsafat tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Dia menyebut agama sebagai ‘syariah’ dan filsafat sebagai ‘hikmah’. Syariah bersumber dari wahyu Allah, sedangkan hikmah berasal dari pengkajian akal dan indera manusia. Dengan mengkaji apa yang ada, manusia akan mengenali Tuhan yang menciptakan segala sesuatu.

Ketimpangan di Masa Kini

Kemajuan sains dan teknologi telah membawa manusia ke era industri, informasi, dan digital. Namun, ketimpangan semakin parah. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Pemimpin dan kaum terpelajar sering kali jauh dari kebijaksanaan hidup, lebih memilih perang daripada damai, nafsu serakah daripada keadilan.

Ribuan tahun lalu, Socrates dibunuh oleh penguasa. Plato berpikir bahwa negara yang adil harus dipimpin oleh filsuf. Al-Farabi juga menyampaikan ide serupa dalam impiannya tentang ‘negara utama’. Namun, betapa langkanya filsuf yang bisa menjadi penguasa! Jika penguasa bukan seorang filsuf, mereka sebaiknya didampingi oleh filsuf sebagai penasihat. Sayangnya, seringkali penguasa angkuh dan enggan dinasihati.

Kesimpulan

Sains dan teknologi penting bagi kemudahan hidup manusia. Namun, manusia tidak hanya terdiri dari tubuh dan otak, tetapi juga jiwa dan ruh. Jika manusia hanya fokus pada hal-hal yang sifatnya bendawi dan jasmani, maka kehilangan kemanusiaannya. Mesin dan manusia, akhirnya tak ada beda!


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen

11 Juli 2026

Sigit Rakha Utomo, Siswa SMP 1 Sengkang, Wakili Sulsel di AMKM Nasional

11 Juli 2026

Alumni UI Minta Ahmad Khozinudin Mundur Jika Tak Selaras dengan Roy Suryo-Tifa

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026

Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global

11 Juli 2026

Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?