Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Wednesday, 7 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Ragam»Manusia dan Hewan Sama-Sama Berpikir Logis, Tapi Pengukurannya Tidak Mudah
    Ragam

    Manusia dan Hewan Sama-Sama Berpikir Logis, Tapi Pengukurannya Tidak Mudah

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover9 March 2026No Comments6 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Apakah Hewan Bisa Berpikir Seperti Manusia?

    Pertanyaan ini sering muncul dalam berbagai eksperimen yang dilakukan para ilmuwan. Dari monyet hingga burung merpati, banyak hewan yang menunjukkan kemampuan untuk membuat kesimpulan logis, meskipun tidak selalu dengan cara yang sama seperti manusia.

    Bayangkan kamu sedang mengisi bagan prediksi hasil pertandingan turnamen basket. Jika kamu tahu bahwa Tim A menang atas Tim B, dan Tim B menang atas Tim C, maka kamu akan menyimpulkan bahwa Tim A lebih unggul dari Tim C. Pola berpikir ini disebut penalaran transitif—suatu bentuk pemikiran yang terjadi secara otomatis dan sering kali tanpa sadar.

    Namun, manusia bukan satu-satunya makhluk yang bisa melakukan penalaran seperti ini. Di berbagai laboratorium di seluruh dunia, para peneliti telah menguji kemampuan hewan dalam berbagai tugas yang dirancang untuk menguji penalaran mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar hewan berhasil melakukan penalaran secara baik.

    Sebagai ilmuwan yang mempelajari pembelajaran dan perilaku hewan, saya fokus pada studi tentang burung merpati. Tujuan saya adalah memahami bagaimana mereka memahami hubungan, pola, dan aturan. Dengan kata lain, saya ingin mengetahui bagaimana hewan dapat memprediksi pemenang suatu pertandingan, meskipun mereka tidak pernah mengisi bagan prediksi turnamen basket.

    Tes Logika Tanpa Menggunakan Kata-Kata

    Ide dasarnya sederhana: jika seekor hewan belajar bahwa A lebih baik dari B, dan B lebih baik dari C, apakah hewan tersebut bisa menyimpulkan bahwa A lebih unggul dari C meskipun ia belum pernah melihat keduanya bersamaan?

    Di laboratorium, peneliti memberikan hewan pasangan gambar secara acak. Jika mereka memilih gambar yang benar, mereka akan diberi hadiah berupa makanan. Misalnya, hewan dilatih bahwa foto tangan (A) adalah pilihan yang benar jika dipasangkan dengan foto ruang kelas (B). Foto ruang kelas (B) juga benar jika dipasangkan dengan semak-semak (C). Semak-semak (C) tepat jika dipasangkan dengan jalan raya (D), dan jalan raya benar jika dipasangkan dengan foto matahari terbenam (E).

    Dalam konteks eksperimen ini, pentingnya memahami apa yang ada di dalam gambar tidak menjadi fokus utama. Yang penting adalah apakah hewan dapat membentuk peringkat mental atas gambar-gambar tersebut. Contohnya seperti urutan A>B>C>D>E.

    Untuk menguji hal ini, peneliti memberikan pasangan foto baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, seperti foto kelas (B) vs. jalan raya (D). Jika mereka konsisten memilih item yang lebih tinggi dalam peringkat, maka mereka berhasil menangkap pola urutannya.

    Tidak Semua Tugas Sama Mudahnya

    Namun, tidak semua jenis penalaran bisa dilakukan dengan mudah. Ada aturan lain yang disebut transitivitas. Penalaran ini berbeda dengan penalaran transitif meskipun namanya mirip.

    Alih-alih menanyakan gambar mana yang “lebih baik”, penalaran transitivitas lebih berfokus pada konsep apakah suatu hal dianggap setara atau tidak. Dalam tugas ini, hewan diperlihatkan tiga gambar dan diminta untuk memilih gambar mana yang cocok dengan gambar yang berada di tengah.

    Misalnya, jika terdapat segitiga putih (A1), hewan akan diberi hadiah jika memilih kotak merah (B1). Sementara itu, memilih kotak biru (B2) tidak akan menghasilkan hadiah apapun. Lalu, jika kotak merah (B1) ditunjukkan, hewan akan mendapatkan hadiah saat memilih tanda silang putih (C1). Jika mereka memilih lingkaran putih (C2) sebagai pilihan, mereka tidak akan mendapatkan hadiah.

    Pengujiannya dimulai ketika hewan ditunjukan segitiga putih (A1) bersama dua pilihan, yaitu tanda silang putih (C1) dan lingkaran putih (C2). Jika hewan memilih tanda silang putih (C1), maka mereka dianggap telah menunjukkan kemampuan transitivitas.

    Perbedaan Kecil, Dampak Besar

    Perbedaan antara penalaran transitif dan transitivitas ini mungkin terlihat sepele, tetapi spesies yang berhasil dalam tugas penalaran transitif sering kali kesulitan pada tugas transitivitas ini. Bahkan, mereka cenderung memperlakukan segitiga putih dan tanda silang putih sebagai dua hal yang sepenuhnya terpisah, meskipun keduanya sama-sama pernah dipasangkan dengan kotak merah.

    Berdasarkan ulasan penelitian yang baru-baru ini saya terbitkan, saya berkesimpulan bahwa masih dibutuhkan bukti tambahan untuk menentukan apakah kedua tugas ini menguji kemampuan kognitif yang sama.

    Mengapa Perbedaan Ini Penting?

    Sekilas, kedua jenis penalaran ini tampak seperti dua versi penalaran yang sama, yakni cara berpikir dengan logis. Namun, muncul pertanyaan penting ketika hewan berhasil pada satu jenis tugas tetapi kesulitan pada tugas yang lain: apakah kedua tugas ini benar-benar mengukur jenis cara berpikir yang sama?

    Perbedaan antara kedua tugas ini bukan hanya persoalan perilaku hewan. Para peneliti psikologi juga menerapkan kedua tugas ini pada manusia untuk menarik kesimpulan tentang bagaimana orang bernalar.

    Contohnya, bayangkan kamu sedang memilih susu almond baru. Kamu mengetahui bahwa Merek A lebih kental daripada Merek B. Kemudian salah seorang teman mengatakan bahwa Merek C lebih encer daripada Merek B. Berdasarkan informasi tersebut, karena kamu lebih menyukai susu yang kental, kamu mungkin akan menyimpulkan bahwa Merek A lebih cocok daripada Merek C. Penalaran seperti ini adalah contoh penalaran transitif.

    Kemudian bayangkan, sebuah toko memberi label “barista blend” pada Merek A dan Merek C. Tanpa mencicipinya, kamu mungkin akan menganggap keduanya setara secara fungsi karena masuk dalam kategori yang sama. Penalaran ini lebih mirip dengan tipe penalaran transitivitas, yakni ketika suatu hal dikelompokkan berdasarkan hubungan yang sama. Dalam contoh ini, label “barista blend” menjadi penanda bahwa kedua merek tersebut memiliki kualitas yang serupa.

    Implikasi Besar bagi Penelitian

    Sering kali, peneliti menganggap berbagai jenis penalaran ini mengukur kemampuan yang sama. Padahal, jika proses mental di baliknya berbeda, hasilnya pun tidak bisa disamakan. Artinya, cara peneliti merumuskan pertanyaan dapat membentuk jawaban yang muncul. Ini memiliki implikasi besar bagi cara kita menilai kemampuan hewan dan manusia.

    Perbedaan pendekatan ini berpotensi memengaruhi cara peneliti memahami proses pengambilan keputusan, baik di laboratorium maupun dalam kehidupan sehari-hari dan praktik klinis. Tugas-tugas seperti ini kadang digunakan dalam penelitian tentang autisme, cedera otak, atau penurunan kemampuan kognitif terkait penuaan.

    Saat terdapat dua penalaran yang tampak mirip di permukaan, penggunaan instrumen yang kurang tepat berisiko menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan tentang kemampuan kognitif.

    Inilah alasan mengapa penelitian yang tengah berjalan di laboratorium saya mencari tahu apakah perbedaan antara kedua proses penalaran ini juga berlaku pada manusia.

    Seperti bagan prediksi turnamen yang tak selalu akurat dalam memprediksi pemenangnya, tugas penalaran juga belum tentu mencerminkan proses berpikir bagaimana seseorang sampai pada jawaban yang benar. Inilah teka-teki yang masih digarap para peneliti—memastikan apakah berbagai tugas tersebut benar-benar mengukur jenis penalaran yang sama atau mereka hanya terlihat ‘sama’ di permukaan.

    Pertanyaan ini jugalah yang akhirnya membuat saya sebagai ilmuwan terus kembali ke laboratorium: mengajukan pertanyaan, melakukan eksperimen, dan berusaha memahami apa sebenarnya arti dari “bernalar” bagi siapapun yang melakukannya.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Gagasan Soekarno dan Tan Malaka dalam Seni Peran di GKJ

    31 August 2026

    Ramalan karier hari ini, 27 Agustus 2026: Peluang dan momentum baru

    31 August 2026

    Cara Naykilla dan Tenxi Tunjukkan Karakter Melalui Belanja di Shopee 9.9

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?