Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Friday, 16 October 2026
Trending
  • Prediksi skor Feyenoord vs Como: I Lariani siap bikin kejutan di De Kuip, berpotensi hujan gol!
  • Soal HOTS teks prosedur bahasa Indonesia kelas 9 SMP materi bab 2 buku-buku berbicara, soal terbaru
  • Sosok Rosdianah, alumni magister hukum UMI kini berkarir di Korps Adhyaksa
  • Polisi Tangkap Terduga Pelaku Penyerangan Bus Persib U-18
  • Jelang review MSCI November 2026, pembekuan saham Indonesia diprediksi hingga 2027
  • Elon Musk mengaku tak tahu cara bikin chip, tetapi mau bangun pabrik sendiri
  • Senjakala Mobil Bensin: Pangsa Pasar Anjlok di Bawah 50%
  • 7 hal yang perlu ditingkatkan agar mendapat banyak match di dating apps menurut psikologi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»Gagasan Soekarno dan Tan Malaka dalam Seni Peran di GKJ
Hiburan

Gagasan Soekarno dan Tan Malaka dalam Seni Peran di GKJ

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover31 August 2026No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Ringkasan Berita:

  • Pementasan teater Meradjoet Sendja diadakan di GKJ, Rabu (26/8), dengan mengangkat tema “keberanian mencintai Indonesia”.
  • Karya Olivia Zalianty menggabungkan pemikiran Soekarno, Hatta, Sjahrir, hingga Tan Malaka melalui alunan musik, seni peran, dan cerita sejarah.
  • Pertunjukan menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air

Indonesiadiscover.com, JAKARTA– Pertunjukan teater Meradjoet Sendja digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, pada hari Rabu (26/8/2026).

Pertunjukan ini menggabungkan musik, seni peran, dan cerita sejarah untuk membangkitkan kembali gagasan dari beberapa tokoh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pertunjukan seni dengan tema “keberanian mencintai Indonesia” ini tidak hanya menyajikan kisah sejarah, tetapi juga menghadirkan gagasan para pendiri bangsa dalam situasi kehidupan Indonesia pada masa kini.

Beberapa pertanyaan tentang makna kemerdekaan, relevansi pemikiran para pendiri bangsa, serta cara memaknai rasa cinta terhadap Indonesia menjadi bagian dari cerita dalam pertunjukan.

Pemikiran dan gagasan Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, serta Tan Malaka disusun melalui percakapan, tokoh, musik, dan desain panggung.

Pendekatan tersebut membuat sejarah tidak hanya disampaikan melalui narasi, tetapi juga melalui penggambaran pergulatan pemikiran mengenai Indonesia dan kemerdekaan.

Olivia Zalianty, produser sekaligus sutradara Meradjoet Sendja, mengatakan pementasan tersebut merupakan bentuk perpaduan seni, sejarah, dan kecintaan terhadap Indonesia.

“Karena kalau kita mencintai negara Indonesia, pasti kita ingin memberikan sesuatu yang terbaik. Jadi menumbuhkan cinta tanah air itu penting, salah satunya melalui kesenian,” ujarnya, Rabu (26/8/2026).

Membawa Sejarah ke Atas Panggung

Pementasan Meradjoet Sendja berlangsung di tengah perubahan cara masyarakat, khususnya generasi muda, mengakses informasi sejarah melalui berbagai platform digital.

Pertunjukan teater tersebut menggunakan panggung dan perjumpaan langsung dengan penonton sebagai medium untuk menghadirkan kembali cerita serta pemikiran dari masa lalu.

Melalui perpaduan musik, seni peran, dan narasi sejarah, penonton diajak mengenali kembali sejumlah tokoh sekaligus melihat gagasan dan perdebatan yang berkembang pada masa perjuangan kemerdekaan.

Salah satu pendekatan artistik dalam pertunjukan ini adalah menghadirkan sosok Tan Malaka dan Bung Karno dalam satu ruang imajinatif. 

Adegan tersebut menjadi medium untuk membicarakan kembali persoalan kemerdekaan, cita-cita kebangsaan, serta perjalanan Indonesia.

Ketua Umum PARFI’56 Marcella Zalianty mengatakan pementasan tersebut juga dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai yang diwariskan generasi terdahulu.

“Kita ingin memberikan sumbangsih dari mereka yang telah memberikan arti, untuk kita yang meneruskan hari, dan untuk generasi yang kelak menjaga negeri ini. Mari kita terus melaju,” ujar Marcella.

Meradjoet Sendja diproduseri sekaligus disutradarai Olivia Zalianty. Pementasan ini melibatkan sejumlah pemeran dan penampil, di antaranya Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Dira Sugandi, Isyana Sarasvati, Tanta Ginting, Jane Callista, Shanna Shannon, Fryda Lucyana, Lutfi Adriansyah, Ridho Rokhanah, dan Edopoaha.

Mengenal Gedung Kesenian Jakarta

Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di Jalan Gedung Kesenian No. 1, Jakarta Pusat, merupakan bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh hingga kini. Dibangun pada 1821 dengan gaya neo-renaisans, gedung ini awalnya bernama Theater Schouwburg Weltevreden atau Gedung Komedi.

Ide pembangunan GKJ muncul dari Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels dan direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles pada 1814.

Arsiteknya adalah Mayor Schultze dari VOC. Gedung ini pernah menjadi saksi sejarah penting, mulai dari Kongres Pemuda I (1926), peresmian KNIP oleh Presiden Soekarno (1945), hingga digunakan Universitas Indonesia dan Akademi Teater Nasional Indonesia.

Setelah sempat difungsikan sebagai bioskop “Diana” dan “City Theater”, GKJ akhirnya dikembalikan sebagai pusat kesenian pada 1984 melalui SK Gubernur DKI Jakarta.

Renovasi dilakukan pada 1987, menjadikannya gedung pertunjukan modern dengan kapasitas 475 penonton, panggung besar, tata cahaya, CCTV, hingga fasilitas publikasi digital.

Kini GKJ rutin menggelar festival seni, kerja sama internasional, dan dokumentasi audio-visual.

Gedung ini juga meraih penghargaan Adikarya Wisata (1995–1997) dan Adikaryottama Wisata (2001), menegaskan posisinya sebagai ikon seni dan budaya Jakarta.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Profil Karakter Legendaris: Frank-N-Furter, Pennywise, dan Home Alone 2

31 August 2026

Terjemahan lirik lagu September – Daughtry: Kami tahu kami harus pergi dari kota ini, tapi tidak tahu kapan

31 August 2026

Aida Umumkan 8 Program Kerja Jika Menjadi Deputi Gubernur BI

30 August 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Prediksi skor Feyenoord vs Como: I Lariani siap bikin kejutan di De Kuip, berpotensi hujan gol!

16 October 2026

Soal HOTS teks prosedur bahasa Indonesia kelas 9 SMP materi bab 2 buku-buku berbicara, soal terbaru

15 October 2026

Sosok Rosdianah, alumni magister hukum UMI kini berkarir di Korps Adhyaksa

15 October 2026

Polisi Tangkap Terduga Pelaku Penyerangan Bus Persib U-18

15 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?