Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 29 September 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»Laura Avionita Sinaga, tari Simalungun dari kursi roda
Hiburan

Laura Avionita Sinaga, tari Simalungun dari kursi roda

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover22 April 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kehidupan Laura Tias Avionita Sinaga: Dari Keterpurukan ke Kebangkitan

Laura Tias Avionita Sinaga, yang akrab disapa Kak Vio, adalah seorang perempuan yang telah mengalami berbagai tantangan dalam hidupnya. Namun, dari keterpurukan itu, ia justru menemukan makna baru dan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya.

Lahir di Pematangsiantar pada 27 Januari 1997, Laura sudah mengenal dunia tari sejak usia sangat dini. Kecintaannya pada seni mulai berkembang ketika ia berusia sekitar 4,5 tahun. Ia rutin mengikuti sanggar-sanggar kecil di sekitar rumahnya dan sering tampil di berbagai kesempatan sejak kecil. Keinginan untuk menari terus berkembang hingga ia memutuskan melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Medan (Unimed) dengan jurusan Pendidikan Seni Tari.

Namun, perjalanan hidupnya berubah drastis pada 2017. Di usianya yang menginjak 20 tahun, ia harus menghadapi rentetan peristiwa berat. Menikah di usia 19 tahun, Laura justru dihadapkan pada kenyataan pahit berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Luka itu semakin dalam ketika ia juga mengalami keguguran. Tekanan yang datang bertubi-tubi membuat kondisi mentalnya runtuh, sehingga ia sempat mencoba mengakhiri hidupnya.

Dampaknya sangat serius terhadap kondisi fisiknya. Pinggulnya mengalami pergeseran, tulang belakang berubah posisi, dan kaki kirinya patah hingga menyebabkan kelumpuhan. Pada masa itu, Laura bahkan tidak mampu duduk dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. “Waktu itu benar-benar tidak bisa apa-apa. Duduk saja tidak bisa, apalagi berdiri. Semua dimulai dari nol, dari ngesot sampai akhirnya bisa duduk di kursi roda,” kenangnya.

Meski begitu, Laura menyadari bahwa dirinya masih diberi kesempatan hidup. “Itulah baiknya Allah, masih ngasih kesempatan. Memang yang kulakukan itu tidak benar, tetapi inilah, aku dikasih kesempatan hidup kedua sama Allah untuk memperbaiki semuanya,” ucap Laura.

Kesadaran itulah yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Alih-alih menyerah, Laura justru kembali ke dunia yang ia cintai yakni tari. Meski masih terbaring di tempat tidur, ia mulai mengajar. Sanggar yang ia dirikan sejak 2014, Simalungun Home Dancer (Sihoda) kembali ia aktifkan secara perlahan. Bahkan, ia mengajar dalam kondisi belum bisa duduk.

“Di titik itu aku sadar, tidak ada yang bisa nolong kita selain diri sendiri. Orang lain hanya bisa menyemangati, tapi keputusan untuk bangkit itu ada di diri kita. Semua proses aku belajar duduk, belajar berdiri, itu terjadi sambil latihan nari. Jadi tari itu sekaligus jadi terapi buatku,” lanjutnya.

Dari langkah kecil itulah, sanggar yang sempat vakum kembali hidup. Ia mengajak anak-anak bergabung melalui media sosial. Responsnya di luar dugaan, banyak yang mendaftar. Kini, sanggar tersebut telah berkembang pesat. Muridnya mencapai ratusan orang dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga remaja. Ia juga telah dibantu oleh tiga pelatih dalam mengajar.

Tak hanya fokus pada pelatihan, Laura juga aktif membawa murid-muridnya tampil di berbagai festival, bahkan hingga ke tingkat internasional. “Kami pernah ikut festival di Turki, dan berhasil juara. Tahun 2021 dapat juara dua, 2022 juara satu,” katanya bangga.

Tanamkan Nilai Budaya dalam Tiap Gerakan

Di balik perjalanannya, Laura juga konsisten membawa satu misi besar yakni memperkenalkan dan melestarikan tari khas Simalungun kepada generasi muda. Melalui sanggar yang ia dirikan, Simalungun Home Dancer, Laura tak hanya mengajarkan teknik menari, tetapi juga menanamkan nilai budaya yang melekat dalam setiap gerakan.

Tari Simalungun dikenal dengan gerakan yang lembut namun tegas, penuh makna, serta sarat filosofi kehidupan masyarakat Simalungun. “Untuk identitas, kami tetap mengutamakan Tari Simalungun. Itu yang menjadi ciri khas kami, walaupun kami juga mempelajari berbagai tarian dari etnis lain,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap penampilan dalam festival atau kompetisi, sanggarnya hampir selalu membawa unsur budaya Simalungun sebagai bentuk kebanggaan sekaligus upaya pelestarian. Bagi Laura, tari bukan sekadar hiburan atau pertunjukan. Lebih dari itu, tari adalah media untuk menjaga identitas budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Keterbatasan Fisik Tak Batasi Ekspresi Seni

Meski kini lebih banyak berperan sebagai pelatih dan koreografer, Laura juga tetap tampil menari. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi ekspresi seni. Awalnya ia ragu untuk kembali tampil. Namun setelah mencoba membuat konten menari dalam posisi duduk, respons publik sangat positif.

“Ternyata banyak yang suka. Bahkan ada yang undang aku tampil walau pun menari dengan duduk,” ujarnya. Bagi Laura, tari bukan hanya soal gerakan, tetapi juga tentang jiwa dan ekspresi.

Selain aktif di dunia seni, Laura juga dikenal sebagai kreator konten yang sering membagikan perjalanan hidupnya. Ia mengaku awalnya enggan membuka cerita pribadi, terutama soal kejadian pahit yang dialaminya. Namun sebuah pesan dari pengikutnya mengubah pandangannya.

“Ada yang DM bilang hampir menyerah dalam hidup, tapi karena lihat ceritaku dia jadi bertahan. Dari situ aku mikir, mungkin ceritaku bisa jadi kekuatan buat orang lain,” katanya. Sejak saat itu, ia mulai lebih terbuka. Ia percaya, berbagi cerita bukan tentang mencari simpati, melainkan memberi harapan.

Menurutnya, banyak orang di luar sana yang mengalami hal serupa, namun tidak memiliki keberanian atau ruang untuk bercerita. “Kalau kita cuma cerita tentang keberhasilan, orang yang lagi jatuh tidak akan relate. Tapi kalau kita cerita dari titik terendah, mereka akan merasa dipahami,” jelasnya.

Dalam setiap pesan yang ia sampaikan, Laura selalu menekankan pentingnya fokus pada diri sendiri. Ia mengingatkan agar tidak terlalu bergantung pada orang lain untuk mendapatkan semangat. “Jangan berharap dari manusia, karena manusia tempatnya kecewa. Kamu harus jadi penyemangat untuk dirimu sendiri,” tegasnya.

Perempuan Simalungun ini juga mengajak anak muda untuk tidak membandingkan hidup dengan orang lain. “Semua orang punya masalah masing-masing. Jangan lihat kebahagiaan orang lain terus merasa hidup kita kurang. Kita tidak tahu apa yang mereka hadapi,” katanya.

Saat ini, Laura memilih fokus mengembangkan sanggar dan konten yang ia buat. Disisi lain Vio juga masih memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti. Di tengah segala keterbatasan, Laura telah membuktikan satu hal penting bahwa kekuatan terbesar manusia ada dalam dirinya sendiri. Perjalanannya menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya, melainkan tantangan untuk menemukan cara baru dalam mewujudkan mimpi.

“Selama kita masih hidup, berarti masih ada sesuatu yang disiapkan ke depan. Jadi yakin saja, semua akan berlalu,” tutupnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gagasan Soekarno dan Tan Malaka dalam Seni Peran di GKJ

31 Agustus 2026

Profil Karakter Legendaris: Frank-N-Furter, Pennywise, dan Home Alone 2

31 Agustus 2026

Terjemahan lirik lagu September – Daughtry: Kami tahu kami harus pergi dari kota ini, tapi tidak tahu kapan

31 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?