Pemangkasan bonus tantiem bagi para pemimpin bank besar pemerintah di Indonesia terus berlangsung. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari arahan pemerintah untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi perbankan negara. Hal ini terlihat pada sejumlah bank milik pemerintah, seperti BNI, Mandiri, dan BRI, yang telah menghapus atau mengurangi besaran tantiem untuk dewan komisaris dan direksi.
BNI: Tantiem Dihapus Total
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi salah satu contoh utama penghapusan tantiem. Dalam laporan tahunan 2025, seluruh dewan komisaris dan direksi BNI tidak lagi menerima tantiem. Padahal, di tahun 2024, mereka masih mendapat tantiem yang cukup besar.
Laba bersih BNI pada tahun 2025 mencapai Rp 20 triliun, turun dari Rp 21,5 triliun di tahun sebelumnya. Sebagai informasi, pada tahun 2024, dewan komisaris dan direksi BNI masing-masing menerima tantiem sebesar 2,76% dari total laba.
Bank Mandiri: Penghapusan Tantiem Juga Terjadi
Selain BNI, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga memberlakukan kebijakan serupa. Dalam laporan tahunan 2025, seluruh dewan komisaris dan direksi Bank Mandiri tidak lagi menerima tantiem. Pada tahun 2024, jumlah tantiem yang dibagikan kepada direksi mencapai Rp 335 miliar, sedangkan untuk dewan komisaris sebesar Rp 784 miliar.
Meskipun penghapusan tantiem terjadi, laba Bank Mandiri pada tahun 2025 justru tumbuh tipis sebesar 0,93% secara year-on-year menjadi Rp 56,3 triliun.
BRI: Penurunan Drastis, Tapi Belum Dihapus Total
Berbeda dengan BNI dan Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) belum sepenuhnya menghilangkan tantiem. Namun, nilai yang diberikan sudah turun drastis. Pada tahun 2025, total tantiem untuk direksi BRI sebesar Rp 181 miliar, turun dari Rp 648 miliar di tahun 2024. Sementara itu, tantiem untuk dewan komisaris BRI turun dari Rp 259,8 miliar menjadi Rp 12,5 miliar.
BCA: Bonus Tantiem Naik
Di sisi lain, bank swasta seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru menunjukkan peningkatan dalam pembagian tantiem. Total tantiem yang dibayarkan BCA kepada dewan komisaris dan direksinya pada tahun 2025 mencapai Rp 887 miliar, naik dari Rp 765 miliar di tahun 2024.
Pandangan Ekonom: Pedang Bermata Dua
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyatakan bahwa penghapusan tantiem di bank himbara disebabkan oleh arahan pemerintah. Menurutnya, faktor utamanya bukanlah kinerja bank, melainkan kebijakan pemerintah yang ingin memperketat skema kompensasi.
Yusuf menilai bahwa penghapusan tantiem bisa menjadi langkah positif di tengah situasi ekonomi yang tidak stabil. Namun, ia khawatir hal ini dapat berdampak negatif terhadap kinerja bank. Ia mengingatkan bahwa tantiem biasanya menjadi alat untuk mendorong kinerja. Jika pengurangan kompensasi tidak diimbangi dengan pengganti yang setara, manajemen bank bisa menjadi lebih konservatif.
Perkembangan di Masa Depan
Selain itu, Yusuf juga memprediksi kemungkinan adanya bankir besar himbara yang beralih ke bank swasta. Pasalnya, bank swasta seperti BCA menawarkan bonus yang semakin besar.
Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan juga menyetujui pandangan tersebut. Menurutnya, bank himbara akan selalu mengikuti kebijakan pemerintah. Sampai saat ini, ia menilai belum ada dampak signifikan dari penghapusan tantiem terhadap kinerja bank. Ia juga menyebut bahwa cara kerja bankir himbara masih sama seperti sebelumnya.
“Efeknya bila kita lihat di sini masih belum terlihat karena kinerja masih tetap bagus,” ujarnya.



