Peristiwa Keributan di Rumah Dinas Kasatpol PP Pangkalpinang
Pada Jumat (19/12/2025) malam, rumah dinas Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Pangkalpinang digeruduk oleh sekelompok massa yang didominasi oleh emak-emak. Kejadian ini terjadi setelah istri dari Efran, sang Kasatpol PP, yaitu Dini, mengunggah postingan di media sosial yang menimbulkan konflik dengan beberapa pihak.
Dini, yang memiliki akun TikTok dengan username My-Name-UBM, sering mengunggah kegiatannya sebagai istri pejabat publik. Postingan terbarunya pada Sabtu (20/12/2025) telah dilihat lebih dari 2 ribu kali. Namun, unggahan tersebut menjadi pemicu perseteruan antara Dini dan sejumlah kreator konten lainnya.
Beberapa warganet mengkritik tindakan Dini karena dianggap memperluas konflik hingga melibatkan anak-anak dalam masalah orang dewasa. Selain itu, Dini juga diketahui mengunggah kalimat provokatif yang dianggap sebagai tantangan bagi para pengguna media sosial untuk mendatangi kediamannya.
Pemicu Awal Konflik
Menurut kuasa hukum Dini, Fitriadi, awal mula konflik bermula dari unggahan Instagram Story yang tidak menyebutkan nama siapa pun dan tidak ditujukan kepada pihak tertentu. Namun, pihak Ibu Suri Wakanda Cs merasa tersinggung dan menganggap unggahan itu ditujukan kepada mereka.
Setelah unggahan tersebut dipublikasikan, situasi memanas ketika Ibu Suri Wakanda bersama tiga rekannya datang ke kediaman Efran pada Jumat malam sekitar pukul 21.15 WIB. Mereka melakukan siaran langsung melalui TikTok yang ditonton ratusan orang, sehingga memicu kerumunan massa.
Mediasi yang Tidak Berhasil
Karena merasa tidak nyaman dan kondisi tidak lagi kondusif, Dini kemudian pergi ke Polres Pangkalpinang untuk mediasi. Massa yang didominasi emak-emak ikut bergerak mendatangi Mapolres Pangkalpinang. Namun, mediasi yang difasilitasi oleh pihak Polresta Pangkalpinang tidak berjalan mulus dan tidak menemukan titik temu.
Fitriadi membantah kabar bahwa Dini diamankan di Mapolresta Pangkalpinang. Menurutnya, Dini hanya hadir untuk menjalani proses mediasi, meski akhirnya tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Tindakan Hukum yang Diambil
Lantaran mediasi tidak ada titik temu, Dini berencana melaporkan kasus ini ke pihak berwajib. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), menyusul sejumlah siaran langsung di media sosial yang dinilai berisi hinaan dan cacian.
Fitriadi menyatakan bahwa kliennya merasa rumahnya telah digeruduk dan privasinya dilanggar. Hal ini menjadi dasar untuk membuat laporan. Laporan pertama kini telah masuk tahap penyidikan di Polresta Pangkalpinang.
Keributan di Mapolresta Pangkalpinang
Polisi sempat kewalahan menenangkan emosi ibu-ibu yang datang ke Mapolresta Pangkalpinang pada Jumat (19/12/2025) malam. Ketegangan terjadi antara aparat kepolisian dan sekelompok emak-emak yang mendatangi kantor polisi tersebut. Keributan bermula saat sejumlah emak-emak tiba di lobi gedung utama Mapolresta Pangkalpinang dan terlibat adu mulut dengan aparat.
Massa menilai perempuan yang merupakan istri Kasatpol PP telah menyebarkan pernyataan bernada provokatif melalui media sosial yang memicu konflik. Adu mulut terjadi antara aparat dan emak-emak, dengan polisi berusaha menenangkan massa yang terus berteriak dan meminta kasus yang mereka persoalkan segera ditangani.
Reaksi Massa dan Proses Mediasi
Setelah dilakukan berbagai upaya, kedua belah pihak akhirnya dibawa ke ruang Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pangkalpinang untuk dimediasi. Mediasi dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polresta Pangkalpinang, AKP Singgih Aditya Utama. Meski telah dipertemukan, kedua belah pihak masih bersitegang dan gagal karena belum menemukan titik temu.
AKP Singgih mengimbau kepada seluruh masyarakat agar bijak dalam menggunakan media sosial agar tidak terjadi konflik atau masalah antara kedua belah pihak. Ia menekankan pentingnya menjaga etika dan norma sosial dalam berinteraksi di dunia digital.
Kesimpulan
Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga komunikasi yang sehat dan saling menghormati, terutama dalam lingkungan media sosial. Dampak dari unggahan seseorang dapat berdampak luas, bahkan sampai memicu keributan di dunia nyata. Dengan demikian, penting bagi semua pihak untuk berpikir sebelum bertindak dan menjaga harmoni dalam masyarakat.



