Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Monday, 12 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Israel Lakukan Penganiayaan di Perbatasan Rafah
    Nasional

    Israel Lakukan Penganiayaan di Perbatasan Rafah

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover11 February 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Pengalaman Traumatik Warga Palestina yang Kembali ke Jalur Gaza

    Warga Palestina yang kembali ke Jalur Gaza setelah beberapa tahun terisolasi mengungkapkan pengalaman traumatis yang mereka alami selama perjalanan melalui penyeberangan Rafah. Mereka menceritakan perlakuan kasar dari tentara pendudukan Israel, termasuk interogasi berjam-jam dan ancaman untuk menjadi mata-mata Zionis.

    Pada Selasa pagi, gelombang pertama pengungsi yang kembali tiba di Jalur Gaza melalui penyeberangan darat Rafah setelah dibuka kembali dalam skala terbatas. Ini adalah pertama kalinya sejak pendudukan pada Mei 2014. Sebuah bus yang membawa 12 warga Palestina (9 wanita dan tiga anak) tiba di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, datang dari penyeberangan Rafah.

    Seorang wanita Palestina yang enggan disebutkan namanya mengatakan dalam beberapa video yang beredar di media sosial bahwa pasukan Israel menginterogasi dia, ibunya, dan wanita lain dengan kejam. Dia menambahkan bahwa tentara menutup mata mereka dan mengikat tangan mereka selama berjam-jam sebelum menginterogasi mereka tentang topik yang menurutnya “tidak dia ketahui sama sekali”. Salah satu penyelidik mengancam akan mengambil anak-anaknya dan mencoba memaksanya untuk bekerja sama dan bekerja untuk Israel.



    Pasien Palestina berkumpul di dalam Rumah Sakit Bulan Sabit Merah Palestina di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, sebelum menuju penyeberangan Rafah, 2 Februari 2026. – (EPA/Haitham Imad)

    Wanita Palestina tersebut menyatakan bahwa tentara melarang mereka membawa apapun ke Gaza, kecuali pakaian dalam satu tas per orang. Dia menyatakan bahwa tentara tersebut menyita makanan, parfum, barang-barang pribadi, dan mainan anak-anak, dalam tindakan yang dia gambarkan sebagai penghinaan yang disengaja. Namun, momen yang paling memilukan, menurut pengakuannya, adalah ketika tentara menolak mengizinkan anaknya membawa mainannya dan merampas mainan tersebut, dalam sebuah adegan yang digambarkan oleh sang ibu sebagai hal yang menghancurkan hati semua orang.

    Wanita Palestina tersebut menegaskan bahwa pesan yang disampaikan tentara tersebut jelas: “Mereka tidak ingin kami kembali, dan mereka ingin mengosongkan Gaza dari penduduknya,” sebelum dia berteriak sekeras-kerasnya, memperingatkan, “Tidak seorang pun boleh beremigrasi… Tidak seorang pun boleh meninggalkan Gaza.” Wanita itu mengakhiri kesaksiannya, pingsan karena kelelahan dan kesedihan, berulang kali berteriak: “Tidak untuk pengungsian!” Dia menggambarkan apa yang dia lalui sebagai “kematian”, mengingat siksaan, kelelahan, dan penghinaan yang mereka alami selama penyeberangan.

    Seorang wanita lanjut usia Palestina yang menerima perawatan di Mesir menceritakan bahwa dia dipermalukan oleh pasukan pendudukan saat melewati penyeberangan Rafah. Pendudukan menginterogasi dan menanyainya selama berjam-jam. “Kami mendapat perlakuan buruk. Tentara Israel mengepung bus dengan kendaraan militer dari depan dan belakang, kemudian membawa kami ke daerah lain, setelah itu kami diinterogasi yang berlangsung berjam-jam.”

    Perempuan lain yang kembali ke Gaza juga berbicara tentang penganiayaan yang mereka alami di pos pemeriksaan pendudukan Israel, dan diinterogasi setelah mata mereka ditutup dan tangan mereka diikat selama berjam-jam, meskipun beberapa dari mereka sakit dan dalam kondisi kesehatan kritis.

    Pembukaan Penyeberangan Rafah yang Terbatas

    Pada hari Senin, perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza mulai beroperasi untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, namun dalam skala terbatas dan dengan pembatasan yang ketat. Lima puluh warga Palestina diperkirakan akan menyeberang ke Jalur Gaza, menurut laporan media Israel dan Mesir pada hari Senin, namun hanya 12 warga Palestina yang mencapai Jalur Gaza.

    Sedangkan Sabah al-Raqab dan lima putrinya termasuk di antara 12 warga Palestina yang diizinkan kembali ke Gaza oleh otoritas Israel ketika perbatasan Rafah dengan Mesir akhirnya dibuka kembali. Al-Raqab mengatakan kepada Aljazirah Arabia bahwa dia berangkat dari kota Arish di Mesir sekitar pukul 02.00 pada hari Senin dan tiba di penyeberangan Rafah satu jam kemudian. Mereka menunggu di sana sampai sekitar pukul 07:30, ketika pihak berwenang Mesir mengizinkan mereka masuk. Mereka kemudian ditemui oleh sekitar 20 anggota staf dari misi Uni Eropa dan Otoritas Palestina, yang menanyai dan memeriksa barang-barang mereka.

    Mereka diberi lampu hijau untuk menyeberang sekitar 12 jam kemudian. Sesampainya di Gaza, mereka dihadang oleh tentara Israel di dekat apa yang disebut Koridor Morag, yang memisahkan kota Rafah dari seluruh Gaza. Dua interogator Israel, yang fasih berbahasa Arab, menawarinya pilihan antara meninggalkan Gaza lagi atau memberikan informasi intelijen kepada tentara. “Kami membutuhkan Anda untuk menjadi mata dan telinga kami,” kata mereka. Al-Raqab mengatakan bahwa keluarganya dilepaskan ketika delegasi Eropa turun tangan untuk mengizinkan mereka yang kembali melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Medis Nasser di Khan Younis.

    Jumlah yang Melintasi Penyeberangan Rafah

    Sebanyak 27 warga Palestina melintasi penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir pada hari pertama pembukaannya, kemarin. Jumlah itu jauh dari yang dijanjikan Israel dan Mesir boleh melintas tiap harinya. Reuters melaporkan, sekitar 150 orang dijadwalkan meninggalkan wilayah tersebut pada hari Senin, dan 50 orang akan memasukinya, menurut para pejabat Mesir, lebih dari 20 bulan setelah pasukan Israel menutup penyeberangan tersebut.

    Namun, saat malam tiba, Israel hanya mengizinkan 12 warga Palestina untuk memasuki kembali wilayah tersebut, menurut sumber-sumber Palestina dan Mesir. Sebanyak 38 orang lainnya belum melewati pemeriksaan keamanan dan akan menunggu di sisi penyeberangan Mesir semalaman. Terkait keluarnya pasien, Israel mengizinkan lima pasien yang dikawal oleh dua kerabatnya masing-masing untuk menyeberang ke wilayah Mesir, kata sumber tersebut. Hal ini menjadikan jumlah total yang masuk dan keluar menjadi 27 orang. Para pejabat Palestina menyalahkan keterlambatan pemeriksaan keamanan Israel.

    Militer Israel belum memberikan komentar mengenai hal ini. Ambulans menunggu berjam-jam di perbatasan sebelum mengangkut pasien menyeberang setelah matahari terbenam, menurut tayangan televisi pemerintah Mesir. Penyeberangan tersebut telah ditutup sejak pasukan Israel merebutnya pada Mei 2024, dan hanya dibuka sebentar selama gencatan senjata pada awal tahun 2025 untuk evakuasi pasien medis.

    Sekitar 20.000 anak-anak dan orang dewasa Palestina yang membutuhkan perawatan medis berharap dapat meninggalkan wilayah yang hancur tersebut melalui penyeberangan, menurut pejabat kesehatan Gaza. Ribuan warga Palestina lainnya di luar wilayah tersebut berharap bisa masuk dan kembali ke rumah mereka.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Pasar Perhatikan Aksi Demo, IHSG Melemah Di Pembukaan

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?