Peran Mojtaba Khamenei dalam Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran
Pemilihan pemimpin tertinggi baru di Iran telah menjadi perhatian global, terutama setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei. Meskipun ada berbagai spekulasi tentang calon-calon yang mungkin menggantikannya, sosok Mojtaba Khamenei, putra ayahnya, tetap menjadi sorotan. Namun, beberapa faktor membuatnya tidak pasti menjadi penerus.
Latar Belakang Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei adalah seorang ulama tingkat menengah yang memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah kekuatan penting di Iran. Ia dilaporkan memiliki pengaruh signifikan di lingkaran dalam rezim tersebut, meskipun belum pernah memegang jabatan politik resmi. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi oleh perjuangan melawan Shah dan mendukung revolusi teokratis pada tahun 1979.
Selain itu, Mojtaba juga dikenal memiliki akses ke sumber daya ekonomi yang luas. Ia dikabarkan mengelola kerajaan investasi senilai lebih dari 100 juta euro, termasuk properti mewah di London utara dan rekening bank di berbagai negara seperti Inggris, Swiss, UEA, dan Liechtenstein. Beberapa propertinya bahkan terdaftar melalui perusahaan fiktif di surga pajak Isle of Man.
Persyaratan Konstitusional dan Tantangan Politik
Menurut konstitusi Republik Islam Iran, Majelis Pakar bertanggung jawab untuk menunjuk pemimpin tertinggi. Syarat utamanya adalah bahwa kandidat harus memiliki pengalaman politik yang cukup. Namun, Mojtaba dilaporkan gagal memenuhi persyaratan ini karena meskipun ia secara de facto menjalankan Kantor Pemimpin Tertinggi, ia tidak memiliki peran formal dalam sistem pemerintahan.
Selain itu, ada pandangan dari kalangan ulama Syiah bahwa suksesi turun-temurun tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Hal ini mirip dengan alasan mengapa ayahnya, Ali Khamenei, terpilih sebagai pemimpin tertinggi pada tahun 1989, karena ia berhasil mengalahkan saudara iparnya, Ahmad Khomeini, yang juga merupakan tokoh penting.
Penentangan dari Keluarga dan Ulama
Ali Khamenei dikabarkan menentang pencalonan Mojtaba karena hal itu akan menyerupai pemerintahan turun-temurun yang diberlakukan oleh monarki Shah sebelum revolusi. Selain itu, sebagian besar petinggi Iran telah gugur dalam konflik terbaru, sehingga meninggalkan ruang kosong dalam sistem pemerintahan.
Meskipun demikian, Mojtaba memiliki hubungan dekat dengan IRGC dan pasukan paramiliter Basij. Ini memberinya dukungan dari kelompok-kelompok yang kuat di dalam sistem politik Iran.
Pemilihan Pemimpin Tertinggi Baru
Majelis Pakar, yang terdiri dari 88 anggota, bertugas untuk menunjuk, mengawasi, dan berpotensi memberhentikan pemimpin tertinggi. Mereka bertemu di Qom untuk mencari pengganti Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan gabungan AS-Israel.
Sebelumnya, Presiden Ebrahim Raisi, salah satu kandidat favorit, meninggal dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024. Hal ini memicu peningkatan ketidakpastian mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin baru.
Kesimpulan
Meskipun Mojtaba Khamenei memiliki pengaruh dan hubungan kuat dengan IRGC, ia masih menghadapi berbagai tantangan baik secara konstitusional maupun ideologis. Dengan banyaknya kandidat potensial dan dinamika politik yang kompleks, proses pemilihan pemimpin tertinggi baru di Iran akan menjadi momen penting yang akan memengaruhi stabilitas regional dan internasional.



