Iran Menuduh Amerika Serikat Melanggar Gencatan Senjata
Iran menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata setelah melakukan serangan di dekat Selat Hormuz. Serangan tersebut terjadi pada hari Selasa (26/5/2026) dan menargetkan wilayah Bandar Abbas, Provinsi Hormozgan. Pemerintah Iran menyatakan bahwa tindakan AS berpotensi mengganggu upaya diplomasi yang sedang dilakukan untuk mengakhiri konflik di kawasan.
Pihak AS mengklaim bahwa operasi tersebut bersifat defensif, dengan menargetkan lokasi rudal dan kapal yang diduga terlibat dalam pemasangan ranjau. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap gencatan senjata yang telah berlaku selama hampir tujuh minggu.
Media Iran melaporkan adanya suara ledakan di wilayah tersebut pada pagi hari. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan negosiasi menuju penghentian konflik masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi. Sebelumnya, kedua pihak menunjukkan indikasi kemajuan menuju kesepakatan awal yang bertujuan mengakhiri pertempuran dan memulihkan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Kesepakatan awal tersebut disebut akan memberi waktu 60 hari bagi para negosiator untuk membahas isu-isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran. Media Iran juga melaporkan bahwa para negosiator negara itu mendorong agar memorandum tersebut mencakup pelepasan aset Iran senilai miliaran dolar yang dibekukan.
Israel Memperluas Serangan ke Lebanon
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa Israel akan mengintensifkan serangannya terhadap Hizbullah di Lebanon. Dalam pernyataan pada hari Selasa, Netanyahu menyebut Israel memperluas operasinya di Lebanon dengan mengerahkan pasukan besar di lapangan.
Serangan udara Israel terhadap Lebanon mencatat lebih dari 120 serangan pada hari Selasa, yang menewaskan 31 orang, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Serangan ini semakin memperburuk gencatan senjata rapuh yang diumumkan pada 16 April untuk menghentikan pertempuran antara Israel dan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah.
Sumber keamanan Lebanon mengatakan kepada Reuters bahwa serangan Israel menghantam wilayah selatan dan timur Lebanon pada hari Selasa. Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan sedikitnya 10 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas dalam satu serangan di kota Burj al-Shamali, Lebanon selatan.
Kerangka Gencatan Senjata 30 Hari
Menurut sumber-sumber Iran, kesepakatan awal akan mengakhiri permusuhan di semua lini, melancarkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz selama 30 hari, dan kemungkinan mencakup bantuan keuangan. Isu yang lebih sulit, seperti program nuklir Iran, akan dibahas dalam fase kedua negosiasi.
Iran disebut telah mengizinkan beberapa kapal melewati selat tersebut dengan memberikan prioritas kepada kapal yang terkait dengan negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengannya. Presiden AS Donald Trump mengatakan tujuan utamanya dalam perang ini adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir berbahan uranium yang diperkaya tingkat tinggi. Iran membantah memiliki rencana seperti itu.
Trump juga menggunakan krisis ini untuk menyerukan lebih banyak negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, agar menandatangani Perjanjian Abraham yang bertujuan menormalisasi hubungan dengan Israel. Arab Saudi menegaskan tidak akan menandatangani perjanjian tersebut tanpa adanya peta jalan menuju pembentukan negara Palestina.
Ribuan orang telah tewas dalam konflik yang lebih luas ini, sebagian besar berada di Lebanon dan Iran. Di Iran, kelompok pemantau internet NetBlocks melaporkan adanya pemulihan sebagian konektivitas internet setelah pemadaman yang berlangsung hampir 90 hari.



