Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 28 September 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»Drama Tari Wayang Topeng Soneyan, Seni Sakral dalam Perayaan Sedekah Bumi Pati
Hiburan

Drama Tari Wayang Topeng Soneyan, Seni Sakral dalam Perayaan Sedekah Bumi Pati

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover25 April 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kehidupan Budaya yang Terus Berlanjut

Di tengah keramaian masyarakat, sebuah panggung di Sanggar Waringin Tunggal, Dukuh Kedungpanjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, menjadi pusat perhatian ratusan warga. Acara ini digelar pada hari Sabtu (18/4/2026) dan menampilkan pementasan Wayang Topeng Soneyan yang diiringi alunan musik gamelan.

Para penari tampil dengan gerakan-gerakan yang atraktif dan disinkronkan dengan dialog atau narasi cerita yang diucapkan dalang. Dalang memainkan peran penting dalam pertunjukan ini, karena ia bertugas membawakan semua unsur dialog penari sepanjang acara.

Wayang Topeng Soneyan kembali menjadi primadona dalam prosesi Sedekah Bumi yang diadakan setiap Sabtu Kliwon bulan Apit. Pertunjukan ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga bagian dari ritual tahunan yang telah bertahan melintasi zaman.

Pertunjukan drama tari ini memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat setempat. Mereka percaya bahwa kesenian ini sudah ada selama ratusan tahun dan mengandung nilai-nilai kepercayaan yang kuat. Kepala Desa Soneyan, Margi Siswanto, menjelaskan bahwa kesenian ini sudah ada sejak abad ke-17 atau tahun 1600-an Masehi.

Keaslian dan nilai sejarahnya pun telah diakui oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada tahun 2021. Menurut Margi, salah satu keunikan dari kesenian ini adalah cara penggunaan topengnya. Jika umumnya topeng menggunakan tali pengikat, 35 topeng asli warisan leluhur Soneyan ini digunakan dengan cara digigit oleh para pemainnya.

Meski pihak desa telah membuat duplikat bertali untuk kebutuhan sosialisasi, topeng asli tetap menjadi pilihan utama dalam pementasan sakral. Topeng-topeng ini berumur ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun antargenerasi. Menurut Margi, tidak sembarang orang bisa memakai topeng soneyan yang asli.

“Topengnya disajeni dulu setiap sebelum pentas,” ucap dia. Selama ini, hanya warga Kedungpanjang yang bisa memakai untuk mementaskannya. Masyarakat setempat percaya bahwa jika yang memakai bukan warga asli, pemain bakal kesulitan, bahkan tidak bisa sesuai dengan pertunjukan wayang topeng yang semestinya.

Namun, untuk keperluan pariwisata, pihak desa membuat replika topeng untuk melakukan pementasan di luar momen sedekah bumi. Menurut Margi, Wayang Topeng adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan, yang tercermin dalam lakon “Among Tani” atau “Joko Tani”. Sebagai upaya pelestarian, pihak desa juga mengadakan latihan rutin setiap malam Minggu bagi warga yang berminat.

“Regenerasinya kami siapkan, malam hari ini juga ada pentas yang khusus anak-anak usia sekolah. Sejauh ini, 100 persen pemainnya adalah warga setempat asli,” imbuhnya. Dikutip dari laman Kemdikbud, kesenian wayang topeng pada tradisi sedekah bumi di Desa Soneyan dipercaya merepresentasikan kehidupan agraris, wujud rasa syukur terhadap Tuhan atas berkah dan melimpahnya hasil bumi.

Selain itu juga sebagai wujud rasa hormat terhadap leluhur, karena dipercaya jika saat sedekah bumi tidak melakukan pertunjukan wayang topeng, maka akan terjadi pagebluk atau wabah penyakit. Maka, pertunjukan wayang topeng pada saat sedekah bumi di Desa Soneyan juga diyakini sebagai ritual tolak bala.

Supardi, salah satu pemain senior yang telah bergelut dengan kesenian ini sejak tahun 1987, mengungkapkan dedikasinya. “Untuk sedekah bumi ini kami mainkan Joko Tani yang menggambarkan sosok petani yang bercocok tanam dan kaitannya dengan Dewi Sri,” kata dia. Supardi mengakui bahwa menjadi pemain Wayang Topeng bukanlah perkara mudah, mengingat minat generasi muda yang masih terbatas.

Menariknya, para pemain seringkali berasal dari garis keturunan yang sama secara turun-temurun. Meskipun jarang melakukan latihan formal yang panjang, para pemain yang berjumlah sekitar 17 orang ini memiliki kemampuan adaptasi peran yang tinggi. “Biasanya kalau pemainnya kurang, satu orang bisa memerankan hingga tiga tokoh sekaligus,” ungkap Supardi.

Pementasan Wayang Topeng Soneyan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang acara Sedekah Bumi di Desa Soneyan yang juga dimeriahkan dengan pentas campursari, dangdut, wayang kulit, hingga kegiatan keagamaan. Kesenian ini tidak hanya menjadi hiburan, namun simbol jati diri masyarakat Kedungpanjang, Desa Soneyan, yang terus dirawat agar tidak lekang oleh waktu.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gagasan Soekarno dan Tan Malaka dalam Seni Peran di GKJ

31 Agustus 2026

Profil Karakter Legendaris: Frank-N-Furter, Pennywise, dan Home Alone 2

31 Agustus 2026

Terjemahan lirik lagu September – Daughtry: Kami tahu kami harus pergi dari kota ini, tapi tidak tahu kapan

31 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?