Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 25 Februari 2026
Trending
  • 5 Perbedaan Jalur Tol dan Non-Tol Surabaya-Jakarta Saat Mudik Lebaran 2026, Mana yang Tepat untukmu?
  • Hanya Beda 400 Ribu! Honda Vario 125 CBS-ISS vs Street 2026, Mana yang Lebih Layak?
  • Dukung Generasi Siap Kerja, 30 Ribu Lulusan SMK Ikut Festival Vokasi Satu Hati
  • Ramalan Zodiak Leo dan Virgo 20 Februari 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
  • Pengakuan Terakhir Bocah Sukabumi Sebelum Meninggal, Disuruh Minum Air Panas oleh Ibu Tiri
  • Diksi Kasar Guncang Istana, Ketua BEM UGM Minta Maaf ke Prabowo atas Kata ‘Bodoh’
  • Prediksi Skor Real Betis vs Rayo Vallecano 21 Februari 2026: Head-to-Head & Live Streaming
  • Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer Hari Ini: Finansial, Karier, Kesehatan, dan Cinta
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Diksi Kasar Guncang Istana, Ketua BEM UGM Minta Maaf ke Prabowo atas Kata ‘Bodoh’
Politik

Diksi Kasar Guncang Istana, Ketua BEM UGM Minta Maaf ke Prabowo atas Kata ‘Bodoh’

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover25 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah dan Permintaan Maaf dari Ketua BEM UGM

Seorang tokoh muda yang kini menjadi sorotan publik adalah Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam menyampaikan pandangan terkait isu-isu sosial dan politik. Namun, pernyataannya yang mengkritik Presiden Prabowo Subianto dengan istilah “bodoh” menimbulkan reaksi beragam di kalangan masyarakat.

Tiyo menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul akibat penggunaan diksi tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kata “bodoh” tidak dimaksudkan sebagai serangan personal terhadap presiden. Menurutnya, istilah itu digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak efektif dalam menangani masalah-masalah mendasar di masyarakat.

Permintaan Maaf dan Konteks Kritik

Dalam wawancara yang disiarkan melalui kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Tiyo menjelaskan bahwa penyebutan kata “bodoh” dalam konteks kritik kebijakan memang menimbulkan ketidaknyamanan. Ia mengakui bahwa bahasa yang digunakan mungkin kurang tepat, tetapi ia tidak menarik kritik yang telah disampaikan.

“Presiden kita itu, kalau bahasa saya, bodoh. Mungkin ada beberapa yang tidak nyaman dengan bahasa ini, dan iya, saya minta maaf atas ketidaknyamanan itu,” ujarnya.

Permintaan maaf tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab atas dampak bahasa yang digunakan dalam ruang publik. Namun, ia menekankan bahwa kritik tetap valid dan penting untuk disampaikan agar bisa menjadi bahan evaluasi.

Makna “Bodoh” yang Dimaksud

Tiyo menjelaskan bahwa kata “bodoh” yang ia gunakan bukanlah sindiran terhadap kepribadian presiden. Ia menilai bahwa istilah tersebut merujuk pada inkompetensi dalam tata kelola kebijakan negara. Menurutnya, kritik ini lahir dari kegelisahan mendalam terhadap arah kebijakan yang dinilai tidak menyentuh persoalan-persoalan mendasar di masyarakat.

Ia menilai bahwa pendidikan justru lebih mendesak untuk diselesaikan dibandingkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), meskipun tidak menafikan isu stunting. Baginya, akses pendidikan yang layak harus menjadi prioritas utama.

Tragedi di NTT dan Akumulasi Kemarahan Publik

Kemarahan publik semakin memuncak setelah kabar tentang seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000. Peristiwa ini menjadi simbol pahit ketimpangan dan kegagalan negara dalam memastikan akses pendidikan yang layak.

Menurut Tiyo, peristiwa tersebut menjadi dasar kuat bagi kritik yang ia sampaikan. Ia menilai bahwa kebijakan pemerintah belum mampu menangani masalah yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Kritik terhadap MBG dan Langkah BEM UGM

Lebih lanjut, Tiyo menjelaskan bahwa pernyataan kerasnya juga berangkat dari kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program MBG. Ia menyebut bahwa langkah BEM UGM yang sempat menjadi perhatian publik ketika mengirimkan surat kepada UNICEF juga menjadi salah satu faktor.

Menurutnya, realitas yang dirasakan masyarakat adalah bahwa pendidikan justru lebih mendesak untuk diberi solusi dibandingkan program MBG. Ia menilai bahwa kebijakan yang diambil belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.

Stunting Harus Ditangani, Tapi Bukan dengan Logika Proyek

Meski tidak menafikan isu stunting, Tiyo mengkritik pendekatan pemerintah dalam menangani masalah ini. Ia menegaskan bahwa metode pengentasan stunting mestinya tidak menggunakan logika proyek, tetapi lebih fokus pada program atau gerakan yang berkelanjutan.

Bagi Tiyo, pendekatan berbasis proyek berisiko menjauhkan kebijakan dari kebutuhan riil masyarakat dan tujuan jangka panjang pembangunan manusia.

Kritik atas Kebuntuan Ketatanegaraan

Selain itu, Tiyo juga menyoroti apa yang ia anggap sebagai kebuntuan dalam mekanisme ketatanegaraan. Ia menyebut bahwa jalur perbaikan melalui eksekutif, legislatif, hingga yudikatif dinilai tidak lagi berjalan efektif.

Dalam kondisi tersebut, ia memandang perlu adanya perhatian dan solidaritas yang lebih luas, bahkan dari masyarakat internasional. Ia berharap warga dunia dapat membantu rakyat Indonesia dalam menyelamatkan masa depan bangsanya.

Kritik Substansi, Bukan Serangan Personal

Di akhir penjelasannya, Tiyo menegaskan bahwa seluruh pernyataan dan diksi keras yang ia gunakan ditujukan pada substansi kebijakan, bukan pada pribadi presiden sebagai individu. Meski menuai pro dan kontra, ia menegaskan bahwa kritik adalah bentuk kepedulian.

Dan di tengah kegaduhan yang muncul, ia memilih untuk tetap berdiri pada substansi, sembari mengakui bahwa bahasa juga memiliki konsekuensi yang tak bisa diabaikan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Soal dan Jawaban Sejarah Kelas 10 SMA Halaman 153-154: Candi Singasari

25 Februari 2026

Kalender Liturgi Katolik: Minggu 22 Februari 2026, Masa Prapaskah I

25 Februari 2026

Soal PTS PPKN Kelas 6 SD Semester 2 2026 Lengkap Kunci Jawaban

25 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

5 Perbedaan Jalur Tol dan Non-Tol Surabaya-Jakarta Saat Mudik Lebaran 2026, Mana yang Tepat untukmu?

25 Februari 2026

Hanya Beda 400 Ribu! Honda Vario 125 CBS-ISS vs Street 2026, Mana yang Lebih Layak?

25 Februari 2026

Dukung Generasi Siap Kerja, 30 Ribu Lulusan SMK Ikut Festival Vokasi Satu Hati

25 Februari 2026

Ramalan Zodiak Leo dan Virgo 20 Februari 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

25 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?