Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 22 Juni 2026
Trending
  • 9 tanaman hias warna-warni untuk dekorasi ruang
  • Makna Lukisan Starry Night dari Berbagai Sudut Pandang
  • Suzuki Ertiga Facelift 2026 Terungkap, Desain Baru dan Fitur Hybrid Jadi Sorotan
  • Aplikasi Pengolahan Nilai Ijazah 2026 Diluncurkan, Ini Cara Menghitung dan Aturannya
  • Pengusaha Online Siap: NIB Wajib, Pajak Dipotong Otomatis
  • Mahasiswa Unnes Hina Driver Jastip, Diwajibkan Minta Maaf Terbuka
  • Jadwal Piala Dunia 2026 Kalteng: Laga Seru Brasil vs Haiti, Skotlandia vs Maroko, Turki vs Paraguay
  • Jadwal Moto3 Hungaria 2026: Sanksi Long Lap Penalty Panas, Veda Ega Pratama Balapan Pukul 16.00 WIB
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Pariwisata»Desentralisasi Akomodasi untuk Pemerataan Ekonomi Wisata DIY
Pariwisata

Desentralisasi Akomodasi untuk Pemerataan Ekonomi Wisata DIY

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover21 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Yogyakarta: Menjaga Kualitas Budaya dengan Fleksibilitas Harga

Daerah Istimewa Yogyakarta terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata paling diminati di Indonesia. Tingginya jumlah kunjungan yang datang ke kota ini tidak hanya didorong oleh pesona alamnya, tetapi juga oleh perpaduan antara pelestarian budaya dan modernitas fasilitas kota. Namun, peningkatan jumlah wisatawan juga membawa tantangan baru, terutama dalam hal ketersediaan akomodasi yang strategis, terstandarisasi, dan terjangkau.

Pemerintah Daerah DIY menegaskan komitmennya untuk menjaga citra eksklusivitas budaya pariwisata daerah. Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menyatakan bahwa keterjangkauan harga akomodasi bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk memperluas akses wisatawan. Namun, ia menekankan bahwa Yogyakarta tidak boleh hanya dilihat sebagai destinasi murah, tetapi harus dipertahankan sebagai destinasi budaya berkualitas dan berkelas.

Sebagai langkah konkret, Dispar DIY mendorong narasi bahwa Yogyakarta adalah value for experience, bukan sekadar low cost destination. Yang ditawarkan kepada wisatawan adalah kedalaman pengalaman budaya. Selain itu, Dispar terus berkolaborasi dengan pemangku kepentingan untuk menerapkan standardisasi dan sertifikasi kompetensi. Segmen pasar juga dipertajam dengan tidak hanya mengejar volume wisatawan, tetapi juga kualitasnya melalui pengembangan wisata minat khusus seperti wellness tourism, heritage tourism, dan experiential tourism.

Penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya pada produk fesyen, kriya, kuliner, dan pertunjukan juga dilakukan dengan pendekatan kurasi. Dengan pendekatan ini, keterjangkauan menjadi salah satu pertimbangan, tetapi pengalaman yang didapat wisatawan tetap berkelas dan berkesan mendalam.

Pengembangan Kawasan Penyangga

Terkait dengan menjamurnya akomodasi di kawasan penyangga, Imam menilai hal tersebut selaras dengan strategi desentralisasi pariwisata yang bertujuan mendistribusikan manfaat ekonomi dan mengurangi tekanan di kawasan inti. Pertumbuhan akomodasi di wilayah penyangga membuka peluang usaha baru, menyerap tenaga kerja lokal, dan menggerakkan ekonomi komunitas di luar pusat kota. Dengan semakin banyak wisatawan yang menginap di pinggiran, terjadi pergeseran pola mobilitas yang membantu mengurai kepadatan di kawasan Malioboro dan sekitarnya.

Pihaknya juga mendorong agar kawasan penyangga memiliki daya tarik tersendiri melalui desa wisata atau ajang berbasis komunitas. Pada prinsipnya, arah pembangunan pariwisata DIY adalah menuju pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing internasional. Bukan sekadar banyaknya wisatawan, tetapi nilai ekonomi, kualitas pengalaman, dan keberlanjutan budaya yang menjadi tolok ukur utama.

Fleksibilitas dan Daya Tarik

Strategi memadukan budaya dan fleksibilitas harga ini nyatanya memberikan pengalaman emosional yang konsisten bagi para pengunjung. Risa, wisatawan asal Jakarta, mengungkapkan pengalamannya terhadap lanskap pariwisata Yogyakarta yang selalu menarik untuk dikunjungi kembali. “Jogja itu memang punya ‘magnet’ tersendiri yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Mau sudah berkali-kali datang pun, rasanya nggak pernah bosan. Yang paling saya suka adalah perpaduan antara modernitas kota dengan kentalnya adat budaya yang masih terjaga. Jalan kaki di trotoar yang rapi, sampai keramahan warga lokalnya itu yang bikin kangen.”

Merespons dinamika wisatawan yang mencari fleksibilitas anggaran dengan tetap memperhatikan aksesibilitas, pelaku industri perhotelan terus berekspansi di titik-titik krusial penyangga Yogyakarta. Infrastruktur penginapan berbiaya rendah ini difokuskan pada lokasi yang dekat dengan pusat transportasi, perbelanjaan, dan kawasan pendidikan.

Public Relations Manager RedDoorz, Devi Febriana, menjelaskan strategi pemenuhan akomodasi di tengah ekosistem pariwisata tersebut. “Sebagai platform teknologi perhotelan dan akomodasi multi-brand, kami ingin memastikan bahwa setiap masyarakat mendapatkan kemudahan dan kenyamanan selama bepergian. Dengan kehadiran mitra RedDoorz dan berbagai brand lainnya di titik-titik strategis, kami berharap masyarakat dapat dengan mudah menemukan akomodasi yang terjangkau, berkualitas, dan sesuai kebutuhan.”

Berdasarkan data persebaran akomodasi budget di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, peta ketersediaan penginapan saat ini telah terdistribusi secara spesifik untuk menyesuaikan segmentasi pengunjung. Misalnya, di kawasan utara atau area Mlati, penginapan difokuskan untuk mengakomodasi wisatawan yang mencari akses cepat ke pusat perbelanjaan Jogja City Mall (JCM) dan jalur lingkar (Ring Road), salah satunya melalui RedDoorz near Jogja City Mall 3 yang menawarkan fasilitas standar dekat area kuliner Jalan Magelang dengan tarif mulai dari Rp138.000 per malam.

Bergeser ke kawasan timur di sekitar Jalan Laksda Adisucipto, target pasar menyasar pelancong yang membutuhkan kedekatan dengan akses bandara dan pusat gaya hidup Plaza Ambarrukmo melalui fasilitas seperti RedDoorz near Ambarrukmo Area yang mematok tarif mulai dari Rp129.675 per malam.

Kehadiran fasilitas terstandarisasi yang didukung proses check-in digital yang cepat menegaskan kesiapan infrastruktur pendukung pariwisata DIY. Kondisi tersebut menjadi indikator kuat bahwa sektor perhotelan anggaran kini terintegrasi penuh dengan kebutuhan masyarakat modern yang mengedepankan efisiensi di tengah tingginya arus kunjungan ke Kota Pelajar.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Promo Gratis Jakarta Fair Kemayoran 2026, Lihat Daftarnya!

22 Juni 2026

5 Spot Foto Instagramable di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota yang Harus Kamu Kunjungi

22 Juni 2026

Rekomendasi Wisata Sukoharjo: Gunung Gajah Mungkur dengan Pemandangan Menakjubkan dan Jalur Pendakian Mudah

22 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

9 tanaman hias warna-warni untuk dekorasi ruang

22 Juni 2026

Makna Lukisan Starry Night dari Berbagai Sudut Pandang

22 Juni 2026

Suzuki Ertiga Facelift 2026 Terungkap, Desain Baru dan Fitur Hybrid Jadi Sorotan

22 Juni 2026

Aplikasi Pengolahan Nilai Ijazah 2026 Diluncurkan, Ini Cara Menghitung dan Aturannya

22 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?