Indonesiadiscover.com.CO.ID, WASHINGTON — Setelah kesepakatan yang ditandatangani dan pembicaraan lebih lanjut di Swiss, konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran tampaknya telah berakhir sementara. Presiden Donald Trump mengklaim bahwa rakyat Amerika telah menang dalam situasi ini. Ia menyampaikan pernyataannya melalui media sosial dengan penuh keyakinan.
“MINYAK MENGALIR, IRAN TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI SENJATA NUKLIR (DUNIA AKAN AMAN!), PASAR SAHAM BERKEMBANG PESAT, LAPANGAN KERJA MENCAPAI REKOR, DAN HARGA TURUN (KEMUDAHAN TERJANGKAU!). NEGARA KITA KUAT, AMAN, DAN DIHORMATI SEPERTI SEBELUMNYA,” ujar Trump. Ia juga menyebutkan bahwa nota kesepahaman akan memungkinkan negosiasi terus berlangsung selama 60 hari ke depan.
Namun, analisis objektif menunjukkan bahwa dampak dari konflik tersebut tidak sepenuhnya positif bagi AS. Setelah lebih dari 100 hari konflik yang menyebabkan kematian 13 anggota militer AS, pihak berwenang harus merundingkan tindakan mereka.
Menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS), biaya perang melawan Iran mencapai sekitar 40 miliar dolar AS atau sekitar Rp 711 triliun. Angka ini termasuk biaya amunisi, peralatan yang rusak, dan kerusakan pangkalan. Namun, angka tersebut tidak mencakup biaya operasional yang sudah dianggarkan dalam anggaran tahun fiskal 2026 Departemen Pertahanan, yang mencapai lebih dari 1 triliun dolar.
Pentagon telah mengajukan permintaan dana tambahan sebesar 80 miliar dolar. Dari jumlah tersebut, kurang dari 20 miliar dolar digunakan untuk kebutuhan mendesak akibat perang. Sumber lain mengatakan bahwa angka ini belum termasuk biaya perbaikan fasilitas dan pangkalan AS di wilayah tersebut.
“Sebagian besar pengeluaran adalah untuk amunisi,” kata Mark Cancian, penasihat senior CSIS. Contohnya, rudal Tomahawk yang harganya sekitar 2,5 juta dolar AS digunakan sebanyak seribu unit. Penggunaan senjata jarak jauh dan mahal meningkat pesat.
Biaya harian perang menurun seiring waktu karena serangan semakin jarang dan penggunaan senjata mahal berkurang. CSIS memperkirakan bahwa 100 jam pertama perang menghabiskan 3,7 miliar dolar. Pada hari ke-12, total biaya mencapai sekitar 16,5 miliar dolar.
Selain Departemen Pertahanan, lembaga lain seperti Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Urusan Veteran juga mengalami beban biaya sebesar 1 miliar dolar. Sebagian besar biaya ini terkait dengan kenaikan harga bahan bakar.
Harga bensin naik akibat perang. Ini menjadi masalah bagi Trump, yang menjadikan pengembangan energi fosil sebagai bagian penting dari agenda politiknya. Meskipun AS adalah produsen minyak terbesar, pasar migas global membuat harga bensin naik dari rata-rata kurang dari 3 dolar per galon. Harga saat ini mencapai 3,97 dolar per galon, turun sedikit dari 4 dolar selama masa perang.
Cadangan minyak strategis AS juga terkuras. Cadangan darurat nasional yang disimpan di gua-gua garam di pantai Teluk kini berada pada level terendah sejak 1983. Hal ini disebabkan oleh konflik Rusia-Ukraina dan perang Trump terhadap Iran. Dunia kehilangan pasokan minyak sebanyak 1,15 miliar barel selama empat bulan.
Inflasi juga meningkat. Data Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan inflasi tahunan melebihi 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Inflasi ini didorong oleh kenaikan harga energi. Angka ini jauh dari puncak pandemi, tetapi dua kali lipat dari target Federal Reserve. Tingkat inflasi yang tinggi memengaruhi kenaikan gaji penduduk, sehingga menggerogoti daya beli.
Popularitas Trump juga menurun. Jajak pendapat CNN menunjukkan bahwa hanya 38% warga Amerika yang menyetujui kinerjanya pada Februari, turun menjadi 37% pada 15 Juni. Penanganan ekonomi dan perang oleh Trump dinilai buruk oleh sebagian besar pemilih. Hanya 31% pemilih terdaftar menyetujui penanganan ekonomi, dan 35% menyetujui penanganan terhadap Iran, menurut jajak pendapat Fox News.



