Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 18 Maret 2026
Trending
  • Lokasi ATM Uang Kertas Rp10.000 dan Rp20.000 di Jakarta
  • Sekda Ngada Diduga Miliki Kekurangan Hukum, Akademisi Undana Kritik Proses Pengangkatan
  • OpenAI Pilih Pentagon, Jutaan Pengguna AS Beralih ke Claude
  • Harga nikel turun di awal Maret 2026, prospek emiten tambang terpuruk
  • Respons Kapolri Pasca Nabilah Viral, Korban Pencurian Jadi Tersangka
  • Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei, Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
  • PSM Kalahkan Malut United 1-0, Yakob Sayuri Lakukan Gol Bunuh Diri
  • 7 Perilaku Orang Tidak Percaya Diri yang Sulit Memahami Isyarat Sosial
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Cara Mengelola THR agar Tak Cuma untuk Lebaran
Teknologi

Cara Mengelola THR agar Tak Cuma untuk Lebaran

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover17 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Tips Mengelola Tunjangan Hari Raya dengan Bijak

Tunjangan Hari Raya (THR) sering menjadi sumber pendapatan yang dinanti-nanti menjelang Idul Fitri. Namun, tanpa perencanaan yang matang, dana tersebut seringkali habis hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama Lebaran. Untuk menghindari hal ini, OCBC Indonesia menyarankan masyarakat agar tidak hanya menggunakan THR untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

OCBC Indonesia merekomendasikan pembagian penggunaan THR secara seimbang. Sekitar 50 persen dari THR dapat digunakan untuk kebutuhan Lebaran seperti zakat, mudik, dan jamuan keluarga. Sementara itu, sekitar 30 persen dapat dialokasikan untuk melunasi utang atau menambah dana darurat. Adapun 20 persen sisanya dapat digunakan untuk investasi jangka panjang. Dengan alokasi yang tepat, THR tidak hanya habis untuk kebutuhan Lebaran, tetapi juga bisa membantu mempercepat tercapainya tujuan keuangan jangka panjang.

Pentingnya Membangun Dana Darurat

Sebelum mulai berinvestasi, OCBC Indonesia menekankan pentingnya memperkuat dana darurat. Idealnya, dana darurat setara dengan enam hingga 12 kali pengeluaran bulanan agar dapat menjadi penyangga ketika terjadi kondisi tak terduga. Jika kebutuhan tersebut telah terpenuhi, masyarakat dapat mulai mempertimbangkan berbagai instrumen investasi sesuai profil risiko masing-masing.

Untuk investor konservatif, logam mulia seperti emas bisa menjadi pilihan karena dinilai mampu menjaga nilai aset dari inflasi. Sementara itu, obligasi pemerintah dapat menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan imbal hasil tetap dengan risiko relatif lebih rendah. Adapun saham umumnya dipilih oleh investor dengan profil risiko lebih agresif yang memiliki tujuan investasi jangka panjang.

Dengan perencanaan sederhana, THR tidak hanya menjadi tambahan pengeluaran menjelang Lebaran. Dana tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kondisi keuangan keluarga di masa mendatang.

Waspada Modus Penipuan Digital



ILUSTRASI Waspada penipuan online – (pxhere)

Selain itu, masyarakat juga diminta lebih berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan digital yang kerap meningkat menjelang pencairan THR. Pelaku memanfaatkan momen meningkatnya aktivitas transaksi dan komunikasi digital selama Ramadhan untuk menjerat korban.

Perusahaan penyedia solusi identitas digital VIDA menyebutkan modus penipuan kini semakin berkembang dan tidak lagi dilakukan secara sporadis. Praktik tersebut bahkan mulai terorganisasi dengan memanfaatkan berbagai teknologi baru. Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan pelaku kejahatan digital terus menyesuaikan metode mereka mengikuti perkembangan teknologi dan celah keamanan yang ada. “Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku akan menguji ulang dan kembali dengan metode yang lebih kompleks,” ujar Niki.

Menurut dia, pelaku kerap memanfaatkan kelemahan literasi digital masyarakat serta momentum tertentu, seperti musim pencairan THR, untuk melancarkan aksinya. Data internal VIDA menunjukkan lonjakan kasus penipuan digital biasanya terjadi menjelang dan selama periode pencairan THR. Pada masa tersebut, aktivitas transaksi masyarakat meningkat sehingga membuka lebih banyak peluang bagi pelaku untuk menipu korban.

Dua Modus Penipuan Digital yang Umum Terjadi

Secara umum terdapat dua modus penipuan digital yang sering terjadi:

  • Phishing atau Smishing – upaya memancing korban untuk mengklik tautan tertentu dan memasukkan data pribadi seperti kata sandi atau kode OTP. Modus ini sering dilakukan dengan menyamar sebagai institusi resmi, misalnya layanan logistik atau promosi Ramadan palsu. Bahkan pelaku dapat menggunakan teknik fake BTS untuk mengirim pesan massal yang tampak berasal dari lembaga resmi sehingga terlihat meyakinkan.
  • Malware – pelaku biasanya mengirim file berbahaya dalam bentuk aplikasi atau dokumen yang tampak relevan, seperti status pengiriman paket atau undangan digital. Jika diunduh, aplikasi tersebut dapat memberi akses kepada pelaku untuk memantau perangkat korban dari jarak jauh.

Niki menilai pola kedua modus tersebut pada dasarnya sama, yakni berusaha memperoleh akses terhadap kata sandi atau kredensial pengguna. Karena itu, ia menilai sistem keamanan digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan password dan kode OTP. Menurut dia, perlindungan identitas digital kini perlu dilengkapi dengan lapisan keamanan tambahan seperti verifikasi perangkat yang digunakan maupun autentikasi biometrik.

Selain teknologi, ia menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi berbagai pesan digital yang mencurigakan. “Kesadaran masyarakat tetap menjadi garis pertahanan pertama. Jangan asal mengklik tautan, mengunduh aplikasi, atau membagikan informasi pribadi,” kata Niki.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

OpenAI Pilih Pentagon, Jutaan Pengguna AS Beralih ke Claude

17 Maret 2026

MacBook Neo resmi dirilis, MacBook paling terjangkau Apple

17 Maret 2026

Limbah Elektronik Global Beredar Tanpa Pengawasan

17 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Lokasi ATM Uang Kertas Rp10.000 dan Rp20.000 di Jakarta

17 Maret 2026

Sekda Ngada Diduga Miliki Kekurangan Hukum, Akademisi Undana Kritik Proses Pengangkatan

17 Maret 2026

OpenAI Pilih Pentagon, Jutaan Pengguna AS Beralih ke Claude

17 Maret 2026

Harga nikel turun di awal Maret 2026, prospek emiten tambang terpuruk

17 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?