Tips Mengelola Tunjangan Hari Raya dengan Bijak
Tunjangan Hari Raya (THR) sering menjadi sumber pendapatan yang dinanti-nanti menjelang Idul Fitri. Namun, tanpa perencanaan yang matang, dana tersebut seringkali habis hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama Lebaran. Untuk menghindari hal ini, OCBC Indonesia menyarankan masyarakat agar tidak hanya menggunakan THR untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
OCBC Indonesia merekomendasikan pembagian penggunaan THR secara seimbang. Sekitar 50 persen dari THR dapat digunakan untuk kebutuhan Lebaran seperti zakat, mudik, dan jamuan keluarga. Sementara itu, sekitar 30 persen dapat dialokasikan untuk melunasi utang atau menambah dana darurat. Adapun 20 persen sisanya dapat digunakan untuk investasi jangka panjang. Dengan alokasi yang tepat, THR tidak hanya habis untuk kebutuhan Lebaran, tetapi juga bisa membantu mempercepat tercapainya tujuan keuangan jangka panjang.
Pentingnya Membangun Dana Darurat
Sebelum mulai berinvestasi, OCBC Indonesia menekankan pentingnya memperkuat dana darurat. Idealnya, dana darurat setara dengan enam hingga 12 kali pengeluaran bulanan agar dapat menjadi penyangga ketika terjadi kondisi tak terduga. Jika kebutuhan tersebut telah terpenuhi, masyarakat dapat mulai mempertimbangkan berbagai instrumen investasi sesuai profil risiko masing-masing.
Untuk investor konservatif, logam mulia seperti emas bisa menjadi pilihan karena dinilai mampu menjaga nilai aset dari inflasi. Sementara itu, obligasi pemerintah dapat menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan imbal hasil tetap dengan risiko relatif lebih rendah. Adapun saham umumnya dipilih oleh investor dengan profil risiko lebih agresif yang memiliki tujuan investasi jangka panjang.
Dengan perencanaan sederhana, THR tidak hanya menjadi tambahan pengeluaran menjelang Lebaran. Dana tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kondisi keuangan keluarga di masa mendatang.
Waspada Modus Penipuan Digital

ILUSTRASI Waspada penipuan online – (pxhere)
Selain itu, masyarakat juga diminta lebih berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan digital yang kerap meningkat menjelang pencairan THR. Pelaku memanfaatkan momen meningkatnya aktivitas transaksi dan komunikasi digital selama Ramadhan untuk menjerat korban.
Perusahaan penyedia solusi identitas digital VIDA menyebutkan modus penipuan kini semakin berkembang dan tidak lagi dilakukan secara sporadis. Praktik tersebut bahkan mulai terorganisasi dengan memanfaatkan berbagai teknologi baru. Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan pelaku kejahatan digital terus menyesuaikan metode mereka mengikuti perkembangan teknologi dan celah keamanan yang ada. “Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku akan menguji ulang dan kembali dengan metode yang lebih kompleks,” ujar Niki.
Menurut dia, pelaku kerap memanfaatkan kelemahan literasi digital masyarakat serta momentum tertentu, seperti musim pencairan THR, untuk melancarkan aksinya. Data internal VIDA menunjukkan lonjakan kasus penipuan digital biasanya terjadi menjelang dan selama periode pencairan THR. Pada masa tersebut, aktivitas transaksi masyarakat meningkat sehingga membuka lebih banyak peluang bagi pelaku untuk menipu korban.
Dua Modus Penipuan Digital yang Umum Terjadi
Secara umum terdapat dua modus penipuan digital yang sering terjadi:
- Phishing atau Smishing – upaya memancing korban untuk mengklik tautan tertentu dan memasukkan data pribadi seperti kata sandi atau kode OTP. Modus ini sering dilakukan dengan menyamar sebagai institusi resmi, misalnya layanan logistik atau promosi Ramadan palsu. Bahkan pelaku dapat menggunakan teknik fake BTS untuk mengirim pesan massal yang tampak berasal dari lembaga resmi sehingga terlihat meyakinkan.
- Malware – pelaku biasanya mengirim file berbahaya dalam bentuk aplikasi atau dokumen yang tampak relevan, seperti status pengiriman paket atau undangan digital. Jika diunduh, aplikasi tersebut dapat memberi akses kepada pelaku untuk memantau perangkat korban dari jarak jauh.
Niki menilai pola kedua modus tersebut pada dasarnya sama, yakni berusaha memperoleh akses terhadap kata sandi atau kredensial pengguna. Karena itu, ia menilai sistem keamanan digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan password dan kode OTP. Menurut dia, perlindungan identitas digital kini perlu dilengkapi dengan lapisan keamanan tambahan seperti verifikasi perangkat yang digunakan maupun autentikasi biometrik.
Selain teknologi, ia menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi berbagai pesan digital yang mencurigakan. “Kesadaran masyarakat tetap menjadi garis pertahanan pertama. Jangan asal mengklik tautan, mengunduh aplikasi, atau membagikan informasi pribadi,” kata Niki.



