Aktivitas Kreatif yang Menginspirasi Anak Muda Berau
Pottery Class atau kelas keramik menjadi salah satu aktivitas yang menarik minat anak muda di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah peserta mengikuti kegiatan ini di salah satu kafe setempat. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga menjadi ajang bertemu dengan sesama yang memiliki minat serupa.
Rakan salah satu peserta menyebutkan bahwa Pottery Class merupakan aktivitas positif yang menyenangkan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini memungkinkan peserta untuk saling berbagi antusiasme dan memperluas jaringan pertemanan.
“Kita ketemu dengan sesama peserta yang saling antusias, sehingga menambah kenalan yang menyukai aktivitas di bidang yang serupa seperti workshop yang satu ini,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa sebelumnya pernah mengikuti kegiatan clay di Yogyakarta, namun baru kali ini merasakan suasana Pottery Class di Kabupaten Berau. “Kalau di Kabupaten Berau ini pertama kali aku ikut. Workshop kemarin aku bikin tray untuk incense stick holder,” tambahnya.
Selama workshop, para peserta diberikan seluruh bahan dan peralatan yang dibutuhkan. Beberapa peserta memilih membuat wadah sederhana, sementara yang lain mencoba bentuk unik sesuai imajinasi masing-masing. Menurut Desy Prasetyowati, penggagas Clayland, kebanyakan peserta memilih membuat piring dan tempat aksesoris, jarang yang membuat gelas. Ada juga yang membuat kalender yang life time sama figur.
Teknik Handbuilding yang Mudah Diikuti
Desy menjelaskan bahwa Pottery Class dilakukan selama dua hari karena jumlah peserta yang ikut mencapai 18 orang. Ia memilih teknik handbuilding, seperti teknik pinching dan slab, yang dinilai lebih mudah diikuti oleh peserta. Teknik ini memungkinkan peserta untuk membentuk tanah liat secara manual tanpa memerlukan alat khusus.
Setelah tanah liat dibentuk, ia dibiarkan mengering sebelum melalui proses glazing dan pembakaran. Proses ini membutuhkan beberapa hari hingga agak kering. Setelah itu, tanah liat diberi glazing (pelapisan glasir) lalu dibakar. Ada dua kali proses pembakaran yang dilakukan, selama 8-10 jam dengan suhu tinggi agar keramik kuat dan aman digunakan.
Proses Pembakaran di Solo dan Pengiriman Hasil
Proses pembakaran sendiri dilakukan di Solo karena keterbatasan fasilitas di Berau. Hal ini membuat hasil keramik perlu dikirim kembali ke Berau dengan estimasi waktu sekitar tiga hingga empat minggu. Meski prosesnya memakan waktu, banyak peserta mengaku senang dengan hasil akhir dari karya mereka.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk belajar teknik keramik, tetapi juga membangun komunitas yang saling mendukung. Bagi peserta, Pottery Class menjadi cara untuk mengekspresikan kreativitas dan menghabiskan waktu bersama teman-teman yang memiliki minat serupa.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semakin banyak anak muda Berau yang tertarik untuk mengeksplorasi seni keramik dan mengembangkan bakat mereka di bidang ini.



