Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Friday, 9 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Ekonomi»BI naik ke 5,75%, penerbitan obligasi korporasi melambat
    Ekonomi

    BI naik ke 5,75%, penerbitan obligasi korporasi melambat

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover23 June 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Kenaikan Suku Bunga BI dan Dampaknya pada Penerbitan Obligasi Korporasi

    Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,75% berpotensi memengaruhi laju penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026. Tingginya biaya pendanaan membuat sebagian emiten lebih berhati-hati dalam mencari pendanaan melalui pasar obligasi, terutama untuk kebutuhan ekspansi dan investasi baru.

    Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst dari Pefindo, menyatakan bahwa potensi perlambatan penerbitan obligasi korporasi pada semester II tetap ada, khususnya yang berasal dari emiten yang menerbitkan obligasi untuk ekspansi atau kebutuhan investasi baru. Jika prospek permintaan, margin, atau profitabilitas melemah, emiten cenderung menunda penerbitan, memperkecil ukuran emisi, atau memilih tenor yang lebih pendek untuk mengurangi beban kupon.

    “Biaya pendanaan yang lebih mahal membuat proyek investasi harus menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi agar tetap layak,” ujar Ahmad.

    Meski demikian, Ahmad menilai penerbitan obligasi korporasi tidak akan mengalami penurunan drastis. Pasalnya, kebutuhan refinancing masih cukup besar hingga akhir tahun. Data Pefindo menunjukkan total surat utang korporasi yang akan jatuh tempo sepanjang 2026 mencapai Rp 162,72 triliun. Dari jumlah tersebut, puncak jatuh tempo terjadi pada kuartal III sebesar Rp 63,95 triliun dan kuartal IV sebesar Rp 43,56 triliun.

    “Artinya, semester II masih membawa kebutuhan pendanaan yang signifikan. Emiten yang memiliki jatuh tempo dalam waktu dekat tetap perlu masuk pasar, meskipun harus menerima kupon yang lebih tinggi,” jelasnya.

    Sejauh ini, aktivitas penerbitan obligasi korporasi juga masih menunjukkan pertumbuhan. Hingga Mei 2026, nilai penerbitan obligasi korporasi secara kumulatif mencapai Rp 78,09 triliun atau meningkat 30,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 59,95 triliun. Namun Ahmad menilai kenaikan tersebut lebih banyak didorong oleh kebutuhan refinancing, prefunding, serta pengelolaan likuiditas perusahaan dibandingkan ekspansi bisnis baru.

    Dengan kondisi suku bunga yang tinggi, pasar obligasi korporasi dinilai akan semakin selektif. Emiten berperingkat tinggi masih memiliki akses yang relatif baik, sedangkan emiten dengan profil kredit lebih lemah kemungkinan menghadapi premi risiko lebih besar.

    Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan bahwa arah kupon obligasi korporasi pada semester II akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama kebijakan suku bunga BI dan pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN). Menurutnya, BI Rate yang kini berada di level 5,75% berpotensi menjaga tingkat imbal hasil obligasi tetap tinggi dalam jangka pendek. Kondisi tersebut membuat investor akan meminta kompensasi risiko yang lebih besar saat membeli obligasi korporasi.

    Selain itu, likuiditas domestik, kebutuhan penerbitan SBN pemerintah, serta kondisi fiskal juga akan menjadi faktor penting. Jika pasokan SBN meningkat di tengah likuiditas yang ketat, investor cenderung meminta kupon yang lebih tinggi untuk obligasi korporasi.

    “Defisit fiskal dan pasokan SBN menjadi penting karena keduanya memengaruhi kompetisi penyerapan dana di pasar obligasi,” imbuhnya.

    Di sisi eksternal, Ahmad menyebut pergerakan yield US Treasury (UST), arah dolar AS, harga energi, tensi geopolitik, serta stabilitas nilai tukar rupiah akan turut menentukan premi risiko di pasar obligasi. “Jika tekanan terhadap nilai tukar meningkat, investor biasanya akan meminta kompensasi yang lebih besar, terutama untuk obligasi korporasi dengan tenor yang lebih panjang,” tutupnya.

    Penyesuaian mulai terlihat pada penerbitan obligasi korporasi berperingkat tinggi. Ahmad mencontohkan sektor multifinance yang mengalami kenaikan rata-rata kupon dalam beberapa bulan terakhir. Untuk obligasi korporasi berperingkat AAA tenor satu tahun, rata-rata kupon naik dari 4,84% pada kuartal I 2026 menjadi 5,10% pada periode April–Mei 2026. Sementara untuk tenor tiga tahun, rata-rata kupon meningkat dari 5,64% menjadi 5,95%.

    Meski demikian, Ahmad menilai kenaikan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan yield SBN yang terjadi belakangan ini. Per 16 Juni 2026, yield SUN tenor dua tahun telah mencapai 7,07%, sedangkan yield SUN tenor 10 tahun berada di level 7,42%. “Dengan acuan tersebut, obligasi korporasi baru akan lebih menarik jika memberikan premi di atas SBN sesuai peringkatnya,” pungkasnya.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Konsumen semakin peduli lingkungan, tetapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas

    31 August 2026

    Investasi Asing dan Masa Depan Perumahan Indonesia

    31 August 2026

    Saksi Perjuangan Siswa SD Mencari Ilmu di Bandung Barat

    30 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?