
Benarkah data center AI menghabiskan banyak air? Data center membutuhkan air untuk mengendalikan panas yang dihasilkan server dan GPU berdaya tinggi. Selain penggunaan langsung di fasilitas, ada juga jejak air tidak langsung yang berasal dari pembangkit listrik dan pembuatan perangkat keras AI. Penelitian terbaru di Water Research memperkirakan jejak air global AI dapat mencapai 4,2-6,6 miliar meter kubik pada 2027.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) memperingatkan bahwa meluasnya pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan (AI) berisiko menimbulkan krisis air di sejumlah wilayah. Risiko tersebut dapat meningkat apabila pemerintah lebih mengutamakan investasi digital, tanpa disertai regulasi khusus untuk melindungi ketersediaan air dan kelestarian lingkungan.
Pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan infrastruktur AI tetap menghormati hak masyarakat dalam memperoleh air, serta menjaga keberlanjutan ekosistem. Wahyu Eka Styawan, Pengampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, menilai pemerintah perlu menghindari kesalahan tata kelola yang pernah terjadi di sektor ekstraktif.
“AI memang menjadi bagian dari perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari. Namun pembangunan infrastruktur AI tidak boleh mengorbankan hak masyarakat atas air dan lingkungan hidup yang sehat. Jangan sampai atas nama transformasi digital, pemerintah justru menciptakan krisis ekologis baru yang bebannya ditanggung masyarakat,” ujar Wahyu, dikutip dari Walhi.or.id.
Benarkah Data Center AI Menghabiskan Banyak Air? Ini Penyebabnya
Data center AI berisi server dengan chip pemrosesan seperti GPU yang bekerja intensif. Semakin besar beban komputasi, semakin banyak panas yang harus dibuang agar perangkat tetap beroperasi dengan aman.
Salah satu metode yang umum digunakan yaitu sistem pendinginan yang memanfaatkan air. Pada sistem pendinginan evaporatif, sebagian air menguap ketika digunakan untuk membuang panas. Karena itu, air yang digunakan tidak seluruhnya dapat dikembalikan secara langsung ke sumber air setempat.
Besarnya penggunaan air tidak sama untuk semua data center. Studi yang diterbitkan di Resources, Conservation and Recycling pada 2025 menemukan bahwa penggunaan air per beban kerja data center dapat berbeda lebih dari 10.000 kali.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh efisiensi server, jenis sistem pendinginan, lokasi dan iklim, efisiensi infrastruktur, tingkat utilisasi server, serta konsumsi air dari sumber listrik.
Data center dengan sistem pendinginan yang efisien menggunakan air jauh lebih rendah dibandingkan fasilitas yang mengandalkan pendinginan berbasis evaporasi.
Hitungan Konsumsi Air Data Center AI Berdasarkan Riset Terbaru
Salah satu angka terbaru di jurnal Water Research pada Juli 2026, memperkirakan jejak air global AI dapat mencapai 4,2-6,6 miliar meter kubik pada 2027. Jejak ini mencakup penggunaan air langsung untuk infrastruktur AI, penggunaan tidak langsung yang berkaitan dengan pembangkitan listrik, serta kebutuhan air dalam rantai pasok seperti produksi semikonduktor.
Apabila dikonversikan:
- 1 meter kubik = 1.000 liter air
- 4,2 miliar m³ = 4,2 triliun liter
- 6,6 miliar m³ = 6,6 triliun liter
Dengan asumsi angka tersebut tersebar sepanjang satu tahun, perhitungannya menjadi:
- 4,2 triliun liter ÷ 365 hari = sekitar 11,5 miliar liter per hari.
Sementara skenario atas:
- 6,6 triliun liter ÷ 365 hari = sekitar 18,1 miliar liter per hari.
Jadi, berdasarkan estimasi tersebut, jejak air AI global pada 2027 secara rata-rata dapat setara dengan sekitar 11,5-18,1 miliar liter per hari.
Sebagai gambaran, apabila satu kolam renang Olimpiade diasumsikan menampung sekitar 2,5 juta liter air, maka angka tersebut secara matematis setara dengan sekitar 4.600-7.200 kolam renang Olimpiade setiap hari.
Namun, hitungan ini bukan berarti data center secara fisik mengambil 11,5-18,1 miliar liter air setiap hari. Angka tersebut merupakan water footprint AI yang mencakup berbagai tahapan, sehingga harus dibedakan dari konsumsi air langsung di lokasi data center.
Contoh Hitungan dari Penggunaan AI
Gambaran yang lebih sederhana dapat dilihat dari data Google. Pada pengukuran terhadap median prompt teks Gemini pada Mei 2025, Google memperkirakan satu prompt menggunakan sekitar 0,26 mililiter air dengan metodologi yang memasukkan berbagai komponen operasional.
Google menegaskan angka tersebut merupakan pengukuran pada kondisi dan periode tertentu, sehingga tidak dapat dianggap berlaku untuk seluruh layanan AI. Dari angka tersebut, perhitungannya menjadi:
- 1.000 prompt: 260 ml atau 0,26 liter.
- 1 juta prompt: 260 liter.
- 1 miliar prompt: 260.000 liter.
- 10 miliar prompt: 2,6 juta liter.
Artinya, apabila menggunakan angka Google 1 miliar prompt teks secara matematis, setara dengan sekitar 260 ribu liter air. Tetapi angka per prompt tidak boleh digeneralisasi untuk semua AI.
Google menjelaskan bahwa kebutuhan air dapat berubah mengikuti model, perangkat keras, lokasi data center, beban kerja, dan efisiensi operasional. Selain itu, AI untuk video, penalaran kompleks, atau tugas agen dapat membutuhkan energi jauh lebih besar dibandingkan teks sederhana.
Air Data Center AI Tidak Hanya Digunakan untuk Pendinginan
Membicarakan konsumsi air AI, ada dua konsep yang perlu dibedakan, yaitu penggunaan air langsung dan penggunaan air tidak langsung. Penggunaan langsung terjadi ketika air digunakan dalam fasilitas data center, terutama untuk pendinginan dan mengendalikan kelembaban. Sementara penggunaan tidak langsung dapat muncul dari pembangkit listrik yang memasok energi ke data center.
Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) menjelaskan bahwa pembangkit listrik juga memiliki jejak air yang berbeda-beda, bergantung teknologi pembangkit dan efisiensinya. Karena itu, lokasi dan sumber listrik sebuah data center ikut menentukan jejak airnya.
Data terbaru LBNL yang diterbitkan pada 2026, menunjukkan pertumbuhan kebutuhan listrik data center di Amerika Serikat cukup cepat. Dalam skenario yang dimodelkan, data center dapat mencapai 11,8 persen konsumsi listrik AS pada 2030, dengan rentang skenario 9,5-15,3 persen.
Semakin besar kebutuhan listrik, semakin penting memperhitungkan dampak sumber energi yang digunakan, termasuk jejak airnya.
Jadi, benarkah Data Center AI menghabiskan banyak air? Secara keseluruhan, benar bahwa perkembangan AI meningkatkan tekanan terhadap sumber daya air, terutama karena kebutuhan komputasi yang semakin besar. Namun, angka konsumsi air tidak bisa disamaratakan untuk setiap data center atau setiap prompt AI.



