Kasus Perundungan di Sekolah Menengah Pertama
Seorang siswi SMP Negeri di wilayah Jakarta Timur, berinisial C, diduga menjadi korban perundungan dan pelecehan yang dilakukan oleh teman sekolahnya. Hal ini diungkapkan oleh orangtua C, seorang influencer berinisial H, yang menyebut anaknya mengalami tekanan psikologis hingga kini belum diizinkan kembali bersekolah.
Peristiwa bermula ketika salah satu teman anaknya, berinisial R, diduga mengajak C untuk merayakan Tahun Baru 2026 bersama. Namun, pada waktu yang sama, H telah merencanakan liburan keluarga ke Yogyakarta. “Nah kebetulan di tahun baru kemarin itu saya punya rencana, saya bawalah ke Jogja. Nah pas ke Jogja akhirnya anak saya lebih milih pergi sama saya tuh. Anak saya masih belum tahu rencananya dia, rencana si R ini belum tahu,” ucap H kepada sumber berita, Rabu (21/1/2026).
Setelah liburan berakhir dan C kembali ke sekolah, ia mendengar informasi dari teman-temannya mengenai rencana R pada malam tahun baru tersebut. “Ternyata si R ini mempunyai rencana mau ngajak C, itu di tahun baru kemarin mau dibawa ke mana gitu, terus mau dibius. Ya kan, mau dibius dengan tujuan pasti kita tahu lah arahnya,” tuturnya.
H mengatakan, C kemudian bertanya kepada R terkait informasi tersebut. “Anak saya ketika dengar gosip itu langsung tanya, ‘Kamu kemarin ngajakin ke aku tahun baruan tuh mau ngebius?’ Terus dia (R) bilang. ‘Iya, tapi aku cuma bercanda kok Ci,’ gitu. Cuma bercanda, gini gini gini. Semua selalu berdalihnya bercanda,” sambung H.
Dugaan Pembahasan Tak Pantas di Grup Chat
Selain dugaan rencana pembiusan, H menyebut anaknya juga menemukan adanya pembahasan tidak pantas terkait dirinya dan kakaknya di sebuah grup chat. “Dia (R) itu kan punya grup cowok-cowok nih. Grup semua deh isinya, grupnya itu ada 40 orang. Nah ternyata di grup itu juga ngebahas masalah anak pertama saya,” ungkap H.
“Ada bahasalah di grup-grup seperti itu, yang seharusnya tidak pantas,” katanya. H juga mengungkapkan bahwa dugaan perundungan verbal terhadap anaknya telah terjadi sejak Februari 2025 dan semakin intens pada November 2025.
Kondisi Psikologis Korban
Menurut H, perubahan perilaku anaknya mulai terlihat sejak beberapa pekan terakhir, terutama setelah libur tahun baru. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan dugaan kasus yang dialami C. “Karena anak saya ternyata dari minggu-minggu lalu, dari yang pulang dari tahun baru, itu dia nangis mulu. Saya tanya kenapa, diam. ‘Enggak, enggak kenapa-kenapa.’ (H tanya) ‘Kenapa, marah? Kenapa?'” ucap H.
Awalnya, H mengira kondisi tersebut disebabkan oleh hal lain. “Hampir tiap malam tuh dia gelisah kan karena case ini. Ketika saya sudah ke sekolah pas segala macam, dia gelisah lah kayak ada ketakutan,” sambungnya.
H pun membantah anggapan yang menyebut anaknya tidak mengalami gangguan psikologis. “Jadi ketika dia melihat anak saya cerita di sosmed itu, disangka enggak kenapa-kenapa psikisnya. Lah, dia enggak tahu aja dia butuh kekuatan untuk cerita sama saya tuh,” tuturnya.
H menyatakan, hingga kini C belum diizinkan kembali ke sekolah dan diminta fokus pada pemulihan kondisi psikologisnya. “Anak aku sih lagi di rumah ya. Belum aku bolehin ke sekolah sampai masalah selesai dulu,” ujarnya.
Kritik Terhadap Sanksi Sekolah
H juga mengaku heran dengan sanksi skorsing selama dua hari yang dijatuhkan kepada sejumlah terduga pelaku. “Ya menurut saya juga memang aneh ya kenapa skors atau dirumahkan dua hari begitu. Agak aneh sih gitu. Berarti besok-besok saya bully saja sudah, terus habis itu minta maaf. Sudah, beres. Kita enggak mikir dampak si korban,” ungkap H.
Ia menilai sanksi tersebut tidak mempertimbangkan dampak psikologis jangka panjang terhadap korban. “Apa harus mati dulu? Saya bilang begitu juga ke Kepsek. Apa harus mati dulu baru ini bisa diproses nih? Baru tuh orang di-DO (drop out)? Baru itu orang diapain?” jelas H.
Pendalaman Kasus oleh Suku Dinas Pendidikan
Sementara itu, Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur Wilayah II memastikan tengah mendalami dugaan perundungan dan pelecehan seksual terhadap siswi tersebut. Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur II, Horale, mengatakan pihaknya saat ini fokus melakukan penelusuran dan koordinasi dengan dinas terkait.
“Saat ini kami masih fokus pendalaman kasus yang terjadi dan berkoordinasi dengan dinas terkait,” jelas Horale. Namun, hingga kini Sudin Pendidikan Jakarta Timur Wilayah II belum merinci langkah pendalaman yang akan dilakukan dalam penanganan kasus tersebut.



