Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 19 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Olahraga»Alvia Nur Vida: Dari Tari Hobi Jadi Jalur Hidup di Sanggar Tresna Budaya Semarang
Olahraga

Alvia Nur Vida: Dari Tari Hobi Jadi Jalur Hidup di Sanggar Tresna Budaya Semarang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover29 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perjalanan Seorang Pelatih Tari di Semarang

Di sebuah ruang latihan tari, gerak tangan Alvia Nur Vida tidak hanya mengikuti irama, tetapi juga menjadi proses pelepasan emosi. Bagi perempuan 31 tahun ini, menari adalah cara bertahan. Ia menjalaninya dari masa kanak-kanak hingga kini menjadi pelatih di Sanggar Tari Tresna Budaya, Semarang.

Vida, sapaan akrabnya, mengenal dunia tari sejak usia lima tahun. Ia pertama kali menari saat masih duduk di taman kanak-kanak, setelah dikenalkan oleh orang tuanya. Sejak itu, tari perlahan menjadi bagian dari hidupnya, menemani hari-hari hingga bangku SMA.

Namun perjalanan itu sempat terhenti. Saat SMP dan SMA, Vida vakum cukup lama karena minimnya dukungan kegiatan ekstrakurikuler tari di sekolah. Jeda panjang itu justru membuatnya sadar, menari bukan sekadar hobi.

“Dulu pernah berhenti nari, terus rasanya kayak ada yang hilang. Akhirnya mulai lagi, karena lewat gerakan tari itu saya bisa menyalurkan perasaan,” ujar Vida.

Kesadaran itu membawanya kembali ke dunia tari. Pengalaman tampil dan melatih datang silih berganti. Meski tak banyak mengikuti ajang lomba, Vida pernah mendapat kepercayaan mewakili Jawa Tengah dalam kegiatan kebudayaan ke Kalimantan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Kini, ia lebih banyak mengabdikan diri sebagai pelatih tari. Vida kerap mendampingi siswa-siswi sekolah untuk berbagai kebutuhan acara, mulai dari gelar karya hingga tugas akhir. Beberapa sekolah yang pernah ia latih antara lain SMA Loyola Semarang, SMA Nasima, hingga SMA Negeri 3 Semarang.

“Kalau ngelatih biasanya by event. Setelah acara selesai, ya selesai,” katanya sambil tersenyum.

Sejak bergabung dengan Sanggar Tari Tresna Budaya, Vida merasakan atmosfer yang berbeda. Menurutnya, kekuatan utama sanggar ini bukan hanya pada teknik, tetapi rasa kekeluargaan yang terbangun antaranggota.

“Di sini itu guyub. Enggak cuma pelatih yang kerja, tapi teman-teman yang sudah dewasa juga ikut membantu,” tuturnya.

Dalam melatih, Vida memilih pendekatan bertahap. Ia tidak memasang target tinggi, terutama bagi penari pemula. Metode disesuaikan dengan usia dan kemampuan masing-masing peserta.

“Tujuannya belajar. Jadi enggak harus langsung bisa. Kita pelan-pelan,” ucapnya.

Di tengah anggapan bahwa budaya kian ditinggalkan generasi muda, Vida justru melihat denyut yang berbeda. Menurutnya, seni tari masih hidup dan terus berkembang, termasuk di Kota Semarang.

“Kalau di lingkaran teman-teman yang masih berkesenian, budaya itu tetap jalan. Sanggar juga makin banyak,” katanya.

Bagi Alvia Nur Vida, melatih tari bukan sekadar soal teknik gerak. Ia ingin menghadirkan ruang aman bagi anak-anak muda tempat mengekspresikan diri, mengenali perasaan, sekaligus tetap terhubung dengan budaya melalui tubuh dan irama.

Tari, bagi Vida, bukan hanya warisan. Ia adalah napas yang terus dijaga.




Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Sandro Tonali resmi bergabung dengan Tottenham Hotspur, jadi pemain termahal klub

11 Juli 2026

Prediksi Skor Lincoln Red Imps vs Inter Club d’Escaldes Liga Champions UEFA 8 Juli 2026

11 Juli 2026

16 Bencana Besar Piala Dunia 2026: Tiga Negara Tuan Rumah Terpuruk, Kanada dan AS Kehilangan Gaya

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?