Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 1 Februari 2026
Trending
  • 4 Poin Penting dari Konferensi Pers Menteri Kabinet dan OJK-BEI di Danantara
  • Purbaya Buka Suara Soal Ketakutan Asuransi dan Dana Pensiun Terhadap Investasi Saham
  • Purbaya: Asuransi dan Dana Pensiun Takut Perintah Tak Tertulis Tambah Investasi Saham
  • Tahun Baru Imlek 2026: 6 Shio Ini Siap Naik Kelas Finansial
  • Penetrasi broadband belum maksimal, ini rekomendasi saham telekomunikasi
  • Gempa 3,2 SR Guncang Gayo Lues Hari Ini
  • Aksi Buyback Heboh di Januari 2026, Perhatikan Rekomendasi Saham Analis
  • Pemerintah Perhatikan Pemulangan Pekerja Migran Gelap di Kamboja
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Beranda » Aksi Buyback Heboh di Januari 2026, Perhatikan Rekomendasi Saham Analis
Ekonomi

Aksi Buyback Heboh di Januari 2026, Perhatikan Rekomendasi Saham Analis

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Aksi Buyback Saham Marak di Awal 2026

Pada awal tahun 2026, sejumlah perusahaan tercatat melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback) untuk menstabilkan harga saham dan meningkatkan kepercayaan investor. Aksi ini dianggap sebagai katalis positif bagi pergerakan harga saham perusahaan yang bersangkutan.

Dua emiten dari Grup Astra, yakni PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR), telah mengumumkan rencana pelaksanaan buyback masing-masing senilai Rp 2 triliun. Dana untuk buyback berasal dari kas internal perusahaan. Periode buyback ASII berlangsung dari 19 Januari hingga 25 Februari 2025, sedangkan UNTR melaksanakan buyback dari 22 Januari sampai 15 April 2026. Jumlah saham yang akan dibeli kembali oleh ASII dan UNTR tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan.

Selain itu, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) juga akan melakukan buyback senilai Rp 150 miliar dari 23 Januari hingga 23 April 2026. Beberapa emiten lainnya seperti PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) juga mengumumkan rencana buyback pada Januari 2026. HRUM akan melakukan buyback senilai Rp 335 miliar dari 5 Januari hingga 17 Maret 2026, sedangkan AMAG akan melakukan buyback senilai Rp 90,15 miliar dari 26 Januari hingga 26 April 2026.

PT Jaya Real Property Tbk (JRPT) juga pernah mengumumkan perpanjangan periode buyback dari 14 Januari hingga 13 April 2026 dengan dana sebesar Rp 50 miliar. Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, rencana buyback yang diumumkan oleh sejumlah emiten menunjukkan bahwa manajemen emiten percaya bahwa harga sahamnya berada di bawah nilai wajar akibat volatilitas pasar.

Khusus UNTR, aksi buyback kemungkinan dipicu oleh koreksi tajam harga saham sekitar 12%–15% akibat sentimen negatif terkait isu izin operasi anak usahanya, PT Agincourt Resources. Dengan buyback, harga saham diharapkan bisa stabil dan valuasi UNTR dinilai menarik secara fundamental.

“Di kondisi pasar yang rapuh, buyback relatif menarik karena berpotensi menopang harga saham, meningkatkan earning per share (EPS), dan memperbaiki sentimen meski dampaknya tidak selalu instan,” ujar Abida.

Fungsi dan Manfaat Buyback Saham

Buyback saham umumnya dilakukan ketika manajemen emiten menilai harga saham sudah terlalu murah (undervalued). Pembelian kembali saham menjadi bentuk alokasi dana yang lebih efisien dibandingkan ekspansi agresif atau penempatan kas lainnya. Buyback juga berfungsi sebagai sinyal kuat bahwa manajemen emiten menilai koreksi harga saham lebih bersifat teknikal dan sentimen jangka pendek, bukan karena pelemahan fundamental bisnis.

Dari sisi investor, aksi buyback memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya adalah potensi peningkatan EPS karena jumlah saham beredar berkurang, menopang harga saham di pasar, serta memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek jangka menengah dan panjang emiten. Buyback juga sering dipersepsikan sebagai bentuk perlindungan harga ketika volatilitas pasar meningkat.

Namun, buyback juga memiliki keterbatasan. Tidak selalu menjamin kenaikan harga saham jika sentimen pasar masih negatif atau kondisi makroekonomi memburuk.

Keuntungan dan Risiko Bagi Emiten

Bagi emiten, keuntungan buyback saham terletak pada optimalisasi struktur permodalan, peningkatan rasio keuangan, dan pengiriman sinyal positif ke pasar. Di sisi lain, risiko buyback adalah berkurangnya fleksibilitas kas apabila kondisi ekonomi memburuk atau jika buyback dilakukan pada harga yang terlalu tinggi sehingga kurang efisien secara finansial.

Abida menilai, risiko buyback saham bagi emiten adalah berkurangnya fleksibilitas kas untuk ekspansi, investasi, atau ketika menghadapi siklus bisnis yang memburuk.

Prediksi dan Rekomendasi

Untuk ke depannya, aksi buyback saham diperkirakan masih akan ramai sepanjang 2026 jika volatilitas pasar berlanjut dan valuasi saham-saham besar tetap tertekan. Emen dengan fundamental kuat, arus kas besar, dan kebutuhan belanja modal yang moderat seperti konglomerasi, perbankan besar, dan emiten komoditas mapan diperkirakan akan lebih aktif dalam melakukan buyback.

Hendra Wardana memprediksi, emiten yang berpeluang melakukan buyback adalah perusahaan dengan arus kas kuat, neraca sehat, tingkat utang rendah, dan harga saham yang terdiskon cukup dalam dibandingkan valuasi historisnya.

Dalam situasi seperti itu, buyback menjadi alat strategis emiten untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap prospek bisnisnya.

Hendra merekomendasikan ASII sebagai speculative buy dengan target harga di level Rp 7.200 per saham. Ia juga merekomendasikan buy on weakness saham UNTR di area Rp 27.000 per saham dan target di level Rp 29.000 per saham. Di sisi lain, saham ERAA cocok untuk strategi trading buy dengan target harga di level Rp 470 per saham.

Sementara itu, Abida merekomendasikan beli saham ASII dan UNTR dengan target harga masing-masing di level Rp 7.450 per saham dan Rp 32.000 per saham. Sedangkan saham ERAA lebih bersifat trading lantaran nilai buyback relatif kecil dan bisnis ritel gadget yang sensitif terhadap siklus konsumsi.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

4 Poin Penting dari Konferensi Pers Menteri Kabinet dan OJK-BEI di Danantara

1 Februari 2026

Purbaya Buka Suara Soal Ketakutan Asuransi dan Dana Pensiun Terhadap Investasi Saham

1 Februari 2026

Purbaya: Asuransi dan Dana Pensiun Takut Perintah Tak Tertulis Tambah Investasi Saham

1 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

4 Poin Penting dari Konferensi Pers Menteri Kabinet dan OJK-BEI di Danantara

1 Februari 2026

Purbaya Buka Suara Soal Ketakutan Asuransi dan Dana Pensiun Terhadap Investasi Saham

1 Februari 2026

Purbaya: Asuransi dan Dana Pensiun Takut Perintah Tak Tertulis Tambah Investasi Saham

1 Februari 2026

Tahun Baru Imlek 2026: 6 Shio Ini Siap Naik Kelas Finansial

1 Februari 2026
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?