Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Thursday, 1 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Ekonomi»Aksi Buyback Heboh di Januari 2026, Perhatikan Rekomendasi Saham Analis
    Ekonomi

    Aksi Buyback Heboh di Januari 2026, Perhatikan Rekomendasi Saham Analis

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 February 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Aksi Buyback Saham Marak di Awal 2026

    Pada awal tahun 2026, sejumlah perusahaan tercatat melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback) untuk menstabilkan harga saham dan meningkatkan kepercayaan investor. Aksi ini dianggap sebagai katalis positif bagi pergerakan harga saham perusahaan yang bersangkutan.

    Dua emiten dari Grup Astra, yakni PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR), telah mengumumkan rencana pelaksanaan buyback masing-masing senilai Rp 2 triliun. Dana untuk buyback berasal dari kas internal perusahaan. Periode buyback ASII berlangsung dari 19 Januari hingga 25 Februari 2025, sedangkan UNTR melaksanakan buyback dari 22 Januari sampai 15 April 2026. Jumlah saham yang akan dibeli kembali oleh ASII dan UNTR tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan.

    Selain itu, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) juga akan melakukan buyback senilai Rp 150 miliar dari 23 Januari hingga 23 April 2026. Beberapa emiten lainnya seperti PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) juga mengumumkan rencana buyback pada Januari 2026. HRUM akan melakukan buyback senilai Rp 335 miliar dari 5 Januari hingga 17 Maret 2026, sedangkan AMAG akan melakukan buyback senilai Rp 90,15 miliar dari 26 Januari hingga 26 April 2026.

    PT Jaya Real Property Tbk (JRPT) juga pernah mengumumkan perpanjangan periode buyback dari 14 Januari hingga 13 April 2026 dengan dana sebesar Rp 50 miliar. Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, rencana buyback yang diumumkan oleh sejumlah emiten menunjukkan bahwa manajemen emiten percaya bahwa harga sahamnya berada di bawah nilai wajar akibat volatilitas pasar.

    Khusus UNTR, aksi buyback kemungkinan dipicu oleh koreksi tajam harga saham sekitar 12%–15% akibat sentimen negatif terkait isu izin operasi anak usahanya, PT Agincourt Resources. Dengan buyback, harga saham diharapkan bisa stabil dan valuasi UNTR dinilai menarik secara fundamental.

    “Di kondisi pasar yang rapuh, buyback relatif menarik karena berpotensi menopang harga saham, meningkatkan earning per share (EPS), dan memperbaiki sentimen meski dampaknya tidak selalu instan,” ujar Abida.

    Fungsi dan Manfaat Buyback Saham

    Buyback saham umumnya dilakukan ketika manajemen emiten menilai harga saham sudah terlalu murah (undervalued). Pembelian kembali saham menjadi bentuk alokasi dana yang lebih efisien dibandingkan ekspansi agresif atau penempatan kas lainnya. Buyback juga berfungsi sebagai sinyal kuat bahwa manajemen emiten menilai koreksi harga saham lebih bersifat teknikal dan sentimen jangka pendek, bukan karena pelemahan fundamental bisnis.

    Dari sisi investor, aksi buyback memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya adalah potensi peningkatan EPS karena jumlah saham beredar berkurang, menopang harga saham di pasar, serta memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek jangka menengah dan panjang emiten. Buyback juga sering dipersepsikan sebagai bentuk perlindungan harga ketika volatilitas pasar meningkat.

    Namun, buyback juga memiliki keterbatasan. Tidak selalu menjamin kenaikan harga saham jika sentimen pasar masih negatif atau kondisi makroekonomi memburuk.

    Keuntungan dan Risiko Bagi Emiten

    Bagi emiten, keuntungan buyback saham terletak pada optimalisasi struktur permodalan, peningkatan rasio keuangan, dan pengiriman sinyal positif ke pasar. Di sisi lain, risiko buyback adalah berkurangnya fleksibilitas kas apabila kondisi ekonomi memburuk atau jika buyback dilakukan pada harga yang terlalu tinggi sehingga kurang efisien secara finansial.

    Abida menilai, risiko buyback saham bagi emiten adalah berkurangnya fleksibilitas kas untuk ekspansi, investasi, atau ketika menghadapi siklus bisnis yang memburuk.

    Prediksi dan Rekomendasi

    Untuk ke depannya, aksi buyback saham diperkirakan masih akan ramai sepanjang 2026 jika volatilitas pasar berlanjut dan valuasi saham-saham besar tetap tertekan. Emen dengan fundamental kuat, arus kas besar, dan kebutuhan belanja modal yang moderat seperti konglomerasi, perbankan besar, dan emiten komoditas mapan diperkirakan akan lebih aktif dalam melakukan buyback.

    Hendra Wardana memprediksi, emiten yang berpeluang melakukan buyback adalah perusahaan dengan arus kas kuat, neraca sehat, tingkat utang rendah, dan harga saham yang terdiskon cukup dalam dibandingkan valuasi historisnya.

    Dalam situasi seperti itu, buyback menjadi alat strategis emiten untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap prospek bisnisnya.

    Hendra merekomendasikan ASII sebagai speculative buy dengan target harga di level Rp 7.200 per saham. Ia juga merekomendasikan buy on weakness saham UNTR di area Rp 27.000 per saham dan target di level Rp 29.000 per saham. Di sisi lain, saham ERAA cocok untuk strategi trading buy dengan target harga di level Rp 470 per saham.

    Sementara itu, Abida merekomendasikan beli saham ASII dan UNTR dengan target harga masing-masing di level Rp 7.450 per saham dan Rp 32.000 per saham. Sedangkan saham ERAA lebih bersifat trading lantaran nilai buyback relatif kecil dan bisnis ritel gadget yang sensitif terhadap siklus konsumsi.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Konsumen semakin peduli lingkungan, tetapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas

    31 August 2026

    Investasi Asing dan Masa Depan Perumahan Indonesia

    31 August 2026

    Saksi Perjuangan Siswa SD Mencari Ilmu di Bandung Barat

    30 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?