Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 29 April 2026
Trending
  • Ramalan Zodiak Besok 27 April 2026: Libra, Sagitarius, Aquarius
  • Tiga Naskah Sambutan Walimatus Safar 2026 dengan Judul Menarik
  • Juara Dunia dari Mandalika: Kelas U-18 Resmi Diperkenalkan di MRS 2026
  • Trump Berubah Pikiran, Batal Kirim Delegasi ke Iran Meski Dianggap Tidak Berguna
  • Pengusutan dugaan kekerasan di daycare Jogja, 13 tersangka dijerat
  • Apakah Ekonomi Halal Dunia Mencapai US$3 Triliun Di Tengah Ketegangan Geopolitik?
  • Cara NASA Mengatasi Kesalahan Misi Luar Angkasa
  • Hasil FP1 Marc Marquez di MotoGP Spanyol 2026: Pembalap Rossi Tampil Mengesankan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Sidang Perdana, Putri Gus Dur Minta MK Batalkan UU TNI Baru
Politik

Sidang Perdana, Putri Gus Dur Minta MK Batalkan UU TNI Baru

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover22 Juni 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Sidang Perdana, Putri Gus Dur Minta MK Batalkan UU TNI Baru
Sidang perdana uji materi UU TNI di MK.(Dok. MI/Susanto)

PUTRI Presiden keempat Abdurrahman Wahid, Inayah WD Rahman atau dikenal juga sebagai Inayah Wahid, meminta Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan Undang-Undang (UU) Nomor 3/2025 tentang Perubahan atas UU Nomor 34/2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia merupakan satu dari enam pemohon uji formil UU TNI baru tersebut yang sidangkan perdana Rabu (14/5).

Inayah tercatat sebagai pemohon kelima dalam perkara yang teregistrasi dengan Nomor 81/PUU-XXIII/2025. Pemohon lainnya adalah Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Inisiatif Masyarakat Partisipatif untuk Transisi Berkeadilan (Imparsial), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Eva Nurcahyani, dan Fatiah Maulidiyanty.

Kuasa para pemohon, Bugivia Maharani Setiadji Putri, meminta agar MK menyatakan pembentukan UU TNI baru tidak memenuhi ketentuan pembentukan UU menurut Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu argumen yang dikemukakan pihaknya karena baik DPR dan Presiden selaku pembentuk UU beritikad buruk dengan menyembunyikan rancangan revisi UU TNI.

Baca juga : UU TNI Baru Digugat ke MK, Dinilai Menyimpang dan Tidak Transparan

“Rapat-rapat pembahasan revisi UU TNI juga tidak melibatkan partisipasi publik yang bermakna, sebab sejumlah rapat kritikal dilakukan dalam ruang-ruang yang tertutup, tidak di gedung DPR, dan tidak disiarkan di kanal-kanal informasi DPR dan pemerintah sehingga publik tidak bisa mengakses dan mengawasi proses pembahasan revisi UU TNI tersebut,” terang Bugivia di ruang sidang MK, Jakarta.

Petitum lain yang diajukan pemohon adalah meminta MK menyatakan UU TNI baru tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan memberlakukan kembali UU TNI sebelum direvisi, yakni UU Nomor 34/2004.

Adapun dalam provisi atau sebelum putusan akhir dikeluarkan MK, pemohon meminta majelis untuk menunda pemberlakukan UU TNI baru. MK juga diminta memerintahkan Presiden maupun DPR untuk tidak menerbitkan peraturan pelaksana baru ataupun kebijakan dan atau tindakan strategis yang berkaitan dengan UU TNI baru.

Baca juga : Uji Materi UU TNI Dicabut Pemohon, Ini Alasannya

Sidang perdana itu diketuai oleh hakim konstitusi Suhartoyo dengan didampingi Daniel Yusmic P Foekh dan M Guntur Hamzah. Suhartoyo meminta kepada pemohon untuk memperjelas uraian ihwal kerugian konstitusional terkait UU TNI baru.

Ia mengatakan, upaya konkret pemohon yang terhalang karena minimnya akses informasi saat proses pembahasan revisi UU TNI menjadi penting. Jika bersifat pasif, sambungnya, kerugian konstitusional terkait permohonan uji formil tersebut sulit untuk dibuktikan.

“Kalau selama proses pembahasan itu kemudian tidak melakukan apa-apa, itu juga sulit untuk kemudian mendalilkan bahwa berkaitan dengan kerugian konstitusional itu merasa dirugikan,” jelasnya. (H-3)

baru Batalkan Dur Gus Minta Perdana Putri sidang TNI
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Trump Berubah Pikiran, Batal Kirim Delegasi ke Iran Meski Dianggap Tidak Berguna

29 April 2026

Irwan Lapatta Ajak Pemuda Porame dan Uwemanje Jaga Persatuan dan Hindari Narkoba

29 April 2026

Skor 3-1 Babak Pertama Persela vs Persipal, Laskar Joko Tingkir Unggul

29 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Ramalan Zodiak Besok 27 April 2026: Libra, Sagitarius, Aquarius

29 April 2026

Tiga Naskah Sambutan Walimatus Safar 2026 dengan Judul Menarik

29 April 2026

Juara Dunia dari Mandalika: Kelas U-18 Resmi Diperkenalkan di MRS 2026

29 April 2026

Trump Berubah Pikiran, Batal Kirim Delegasi ke Iran Meski Dianggap Tidak Berguna

29 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?