Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 5 Maret 2026
Trending
  • Cara Lapor SPT Tahunan 2026: Siapkan EFIN dan Dokumen Ini!
  • ICOMCUBE 2026: Solusi Material Modern untuk Sistem Ruang dan Identitas Kota
  • Putusan hukuman 9 terdakwa korupsi minyak Pertamina, vonis Kerry Riza paling berat
  • 2 Berita Terkini Februari 2026, Nama Baru Pejabat Sulut dan Perubahan Komisaris BSG
  • Hasil Imbang 0-0 PSPS Pekanbaru vs Garudayaksa, Sriwijaya FC Terdegradasi ke Liga 3
  • Laporan Utama: Pakaian Lokal Kian Diterima
  • Gubernur Kaltim Minta Rp 8,5 M untuk Jaga Marwah, Mobil Pribadi Tak Lebih Rp 100 Juta
  • Orang yang Lebih Suka Ketenangan Daripada Kebisingan Saat Memecahkan Masalah Memiliki 7 Ciri Kognitif Ini
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Job Fair Ricuh Cerminan Minimnya Lapangan Kerja
Ekonomi

Job Fair Ricuh Cerminan Minimnya Lapangan Kerja

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover15 Juni 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Job Fair Ricuh Cerminan Minimnya Lapangan Kerja
Ilustrasi(Antara)

Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menanggapi kericuhan yang terjadi dalam acara Job Fair ‘Bekasi Pasti Kerja‘ yang diselenggarakan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi di Cikarang, Jawa Barat. Ia menilai, insiden tersebut menunjukkan ketidaksiapan manajerial Pemerintah dalam menangani animo masyarakat yang tinggi terhadap akses kerja. 

“Kejadian ini mencerminkan betapa mendesaknya kebutuhan masyarakat terhadap pekerjaan, sekaligus buruknya mekanisme teknis yang diterapkan panitia,. Seharusnya, antisipasi terhadap lonjakan pengunjung, manajemen alur peserta, distribusi informasi digital, dan pemecahan titik lokasi acara sudah menjadi standar minimum dalam penyelenggaraan job fair berskala besar. Apalagi di tengah badai PHK seperti ini,” kata Nurhadi dikutip dari siaran pers yang diterima, Selasa (3/6).

Seperti diketahui, acara Job Fair yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bekasi di Gedung Convention Center Presiden University, Jababeka, Selasa (27/5), membludak dan berujung ricuh. Pencari kerja yang diprediksi mencapai 25 ribu orang memadati halaman gedung, namun kuota lowongan tersedia hanya sebanyak 3.000. 

Baca juga : SE Kemnaker Hapus Batas Usia Lowongan Kerja, Pengamat Soroti Syarat Usia di ASN

Terkait kericuhan yang terjadi, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) membantah membludaknya pencari kerja di Bekasi sebagai potret sulitnya mencari pekerjaan. Pihak Kemenaker menilai hal itu lebih kepada tingginya animo masyarakat terhadap lowongan pekerjaan.

Menyikapi hal tersebut, Nurhadi menilai, Pemerintah Daerah (Pemda) seharusnya menyadari bahwa job fair bukan sekadar ajang seremonial tahunan, melainkan representasi dari masalah besar bernama pengangguran struktural. 

Oleh karena itu, dirinya menyebut pendekatan event Job fair tidak bisa hanya tentang administratif atau event-based semata, namun perlu dilihat sebagai bagian dari strategi berkelanjutan dalam pembangunan ketenagakerjaan daerah. 

Baca juga : Job Fair Bekasi Ricuh, Menaker: Kami akan Evaluasi!

“Lebih dari 25.000 pencari kerja memadati satu titik lokasi, insiden saling dorong hingga ada yang pingsan menjadi bukti bahwa sistem dan perencanaan acara belum sensitif terhadap realita di lapangan,” terang dia. 

Lebih lanjut, ia juga menggarisbawahi pentingnya solusi jangka pendek terkait masalah membludaknya pencari kerja saat ini. Salah satunya, lanjut Nurhadi, adalah dengan menyelenggarakan job fair secara terdesentralisasi di berbagai kecamatan atau zona industri. 

“Pemerintah juga bisa memperkuat platform daring yang memungkinkan pencari kerja mengakses informasi lowongan tanpa harus berdesakan secara fisik,” bebernya.

Di sisi lain, Nurhadi meminta Pemerintah untuk mengevaluasi ketersediaan dan kesesuaian lapangan kerja dengan profil keterampilan para pencari kerja. Jika mismatch terlalu tinggi, ia menyebut Pemerintah perlu memperbanyak pelatihan vokasional, dan bimbingan karier.

“Termasuk sinergi dengan dunia usaha harus lebih ditekankan lagi. Kita tidak bisa membiarkan ribuan warga terus mengantre hanya demi men-scan QR,” tegas Nurhadi. (E-3)

Cerminan Fair Job Kerja Lapangan Minimnya Ricuh
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Cara Lapor SPT Tahunan 2026: Siapkan EFIN dan Dokumen Ini!

5 Maret 2026

Cara Daftar dan Rute Mudik Gratis PTPN 2026

5 Maret 2026

10 Bisnis Menguntungkan Jelang Lebaran untuk Milenial

5 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Cara Lapor SPT Tahunan 2026: Siapkan EFIN dan Dokumen Ini!

5 Maret 2026

ICOMCUBE 2026: Solusi Material Modern untuk Sistem Ruang dan Identitas Kota

5 Maret 2026

Putusan hukuman 9 terdakwa korupsi minyak Pertamina, vonis Kerry Riza paling berat

5 Maret 2026

2 Berita Terkini Februari 2026, Nama Baru Pejabat Sulut dan Perubahan Komisaris BSG

5 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?