Permintaan Khusus Agam Rinjani kepada Presiden Prabowo Subianto
Agam Rinjani, yang dikenal sebagai pahlawan evakuasi pendaki asal Brasil Juliana Marins di Gunung Rinjani pada Juni 2025, kini kembali menjadi sorotan. Kali ini, ia menyampaikan permintaan khusus kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terkait gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia meminta agar bencana gempa di Flores ditetapkan sebagai bencana nasional.
Gempa besar dengan magnitudo 7,7 yang terjadi di NTT, diikuti oleh rentetan gempa susulan berkekuatan 5,9 pada Kamis (20/8/2026) pagi, telah menimbulkan kepanikan dan kerusakan yang luar biasa. Banyak bangunan rusak, akses jalan utama terputus, serta jaringan listrik dan komunikasi di beberapa kabupaten lumpuh. Hal ini membuat Agam Rinjani merasa perlu untuk segera mengambil langkah tegas.
Dalam unggahan di akun Instagram miliknya, Agam menyampaikan permintaan tersebut sembari mengatupkan kedua tangannya. Ia membuka pesannya dengan salam “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” dan langsung menyampaikan permohonannya kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa gempa di Flores bukanlah hal baru, melainkan akibat aktivitas Sesar Flores yang terus bergerak. Dengan demikian, ia meminta izin untuk menjadikan bencana ini sebagai bencana nasional.
Selain itu, Agam juga mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam membantu warga yang terdampak gempa. Ia menekankan bahwa tidak cukup hanya menunggu tindakan pemerintah, tetapi masyarakat juga harus aktif memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Update Korban Gempa Flores
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis data terbaru mengenai gempa Flores pada Jumat (21/8/2026). Berdasarkan data hingga pukul 20.00 WIB atau 21.00 WITA, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 75 orang, sementara korban luka-luka mencapai 907 orang. Jumlah warga yang mengungsi juga meningkat menjadi 92.735 orang.
Gempa susulan masih terjadi di NTT, menyebabkan warga kembali panik dan mengungsi ke daerah dataran tinggi. Guncangan dirasakan di beberapa wilayah seperti Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai, Nagekeo, Manggarai Barat, dan Sikka. Data dari BNPB mencatat lebih dari 3 ribu gempa susulan di NTT dengan durasi antara 1 sampai 1,5 jam. Kekuatan gempa susulan berkisar antara magnitudo 1,1 hingga 6,2.
Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan bahwa gempa Flores akan meluruh dalam 3 hingga 4 minggu, atau sekitar 15 September 2026. Kosentrasi terbesar gempa akan terjadi di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Sedangkan wilayah Utara Sikka dan Nagekeo sudah mulai menurun.
Meski kekuatan gempa menurun, Wijayanto tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Ia menyarankan agar warga tidak masuk ke rumah-rumah yang rusak dan waspada terhadap longsoran di area bukit. Ia juga menegaskan bahwa potensi tsunami sangat kecil, dan BMKG siap jika terjadi.
Peran Pemerintah dalam Penanganan Bencana
Menurut UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, status bencana nasional ditentukan langsung oleh Presiden berdasarkan pertimbangan skala dampak. Indikator penetapan bencana nasional mencakup jumlah korban, kerugian kerusakan, cakupan wilayah dalam skala besar, serta kelumpuhan dan sumber daya pemerintah daerah yang tidak memadai untuk penanganan darurat.
Dengan situasi saat ini, permintaan Agam Rinjani untuk menetapkan gempa NTT sebagai bencana nasional layak dipertimbangkan. Kondisi yang terus memburuk dan dampak yang luas menunjukkan bahwa penanganan darurat memerlukan koordinasi dan dukungan yang lebih besar dari pemerintah pusat.
Langkah Bersama untuk Membantu Warga
Agam Rinjani tidak hanya meminta perhatian pemerintah, tetapi juga mengajak masyarakat untuk turut serta dalam upaya bantuan. Ia menekankan pentingnya kebersamaan dan kepedulian dalam menghadapi bencana. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, harapan untuk pemulihan dan keselamatan warga dapat tercapai.


