Pembukaan IPSI Cup Bangka Tengah 2026 yang Meriah
Di Alun-Alun Kota Koba, sejumlah kontingen memasuki arena pembukaan Kejuaraan IPSI Cup Bangka Tengah 2026. Sebanyak 619 pesilat dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hadir dengan rapi dan penuh semangat. Mereka mengenakan seragam perguruan dengan warna khas masing-masing sambil membawa spanduk dan papan nama sebagai identitas tim.
Barisan panjang para pesilat ini menjadi fokus utama dalam dimulainya salah satu kejuaraan pencak silat terbesar di Bangka Belitung. Suasana semakin meriah saat Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) disambut oleh atraksi pencak silat.
Pembukaan juga dimeriahkan oleh aksi dua pesilat yang memperagakan duel seni bela diri. Aksi saling serang, tangkisan, tendangan, dan pukulan yang ditampilkan dengan teknik tinggi memancing tepuk tangan ribuan masyarakat yang memadati Alun-Alun Kota Koba. Selain itu, penampilan grup band nasional Ex Utopia dan UMKM lokal turut memberikan kesan tersendiri bagi para pengunjung.
Tujuan IPSI Cup Bangka Tengah 2026
Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman menyampaikan bahwa IPSI Cup bukan sekadar ajang mencari juara, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet, mempererat silaturahmi, serta menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Ini momentum yang sangat baik, apalagi dilaksanakan saat hari libur. Kejuaraan ini menjadi wadah bagi atlet untuk menunjukkan kemampuan, membangun sportivitas, sekaligus mempererat silaturahmi,” ujarnya pada Minggu (5/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa IPSI Cup Bangka Tengah 2026 menjadi sejarah baru bagi daerah karena mampu menghadirkan 619 atlet dari seluruh Bangka Belitung.
“Ini pesta olahraga sekaligus menjadi sejarah bagi Bangka Tengah karena mampu melaksanakan kejuaraan yang diikuti 619 peserta. Pemerintah daerah tentu mendukung kegiatan seperti ini dan insyaallah akan kembali dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya,” tambahnya.
Dampak Ekonomi dari IPSI Cup
Algafry menilai kejuaraan tersebut juga memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
“Mereka akan menetap di Bangka Tengah, makan di Bangka Tengah, membeli jajanan di Bangka Tengah, sehingga terjadi perputaran ekonomi. Konsep kegiatan ini memang harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, pemerintah daerah juga berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh kontingen yang datang bertanding.
“Kita ingin seluruh tamu yang datang merasa nyaman selama berada di Bangka Tengah,” ujarnya.
Harapan Ketua IPSI Bangka Tengah
Ketua IPSI Bangka Tengah, Fani Hendra Saputra menyampaikan bahwa kejuaraan tersebut diikuti berbagai perguruan pencak silat dari seluruh Bangka Belitung. Ia berharap IPSI Cup menjadi motivasi bagi atlet muda untuk terus berlatih sekaligus menjaga kelestarian pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia.
“Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan pencak silat. Semoga melalui kejuaraan ini lahir atlet-atlet berprestasi yang membawa nama Bangka Tengah dan Bangka Belitung ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, selain kemampuan teknik, mental bertanding juga menjadi faktor penting dalam membentuk atlet berprestasi.
“Kemarin kita sudah melihat kemampuan fisik dan kesehatan atlet. Setelah itu melalui pertandingan inilah mental atlet akan terbentuk. Sebelum kejuaraan dimulai pemerintah bersama IPSI telah melakukan pemeriksaan kondisi fisik dan kesehatan atlet,” katanya.
Rela Menginap Demi Bertanding
Salah seorang peserta, Jessica Vralisya (19), atlet asal Kelurahan Kacang Pedang, Kota Pangkalpinang, mengaku sengaja datang sehari sebelum pertandingan bersama tim TS Warrior. Jessica yang turun di nomor seni ganda memilih menginap di SMP Muhammadiyah Koba agar dapat mempersiapkan diri menghadapi pertandingan.
“Kami datang sejak sore setelah Magrib dan menginap di sini sampai pertandingan selesai, mulai hari minggu hingga Sabtu kalo menang,” katanya.
Ia mengatakan, keputusan menginap di Koba diambil agar tidak perlu bolak-balik dari Pangkalpinang yang dinilai memakan waktu dan biaya transportasi lebih besar.
“Kami sengaja menginap karena jaraknya cukup jauh. Kalau bolak-balik, ongkosnya juga banyak. Kebetulan sekarang sedang libur sekolah dan kuliah, jadi kami bisa lebih leluasa fokus mempersiapkan pertandingan,” ujarnya.
“Kami datang menggunakan mobil bersama 12 anak lainnya yang ikut bertanding bersama demi meraih kemenangan dalam turnamen tersebut,” katanya.

Menurut mahasiswi tersebut, suasana IPSI Cup Bangka Tengah jauh lebih meriah dibandingkan sejumlah kejuaraan yang pernah diikutinya.
“Seru dan ramai. Lebih meriah daripada kejuaraan lain. Panggungnya besar, seperti konser, dan UMKM lebih leluasa mencari makan, jadi suasananya berbeda,” ujarnya.
“Saya cuma bawa uang ratusan ribu saja, tidak banyak. Buat makan dan jajan selama pertandingan. Kalau nanti menang, baru mungkin bisa santai-santai jalan ke pantai,” ujar Jessica.
Jessica mengaku telah beberapa kali mengikuti kejuaraan pencak silat, baik di nomor laga maupun seni. Ia optimistis dapat memberikan hasil terbaik bersama timnya.
“Harapan kami tentu bisa membawa pulang medali emas dan menjadi juara umum,” katanya.


