Ringkasan Berita:
- Perjalanan membawa misi kemanusiaan ini nyatanya bertaruh nyawa.
- Pendeta Yahya Lagowan bersama timnya yang bertolak ke Kabupaten Intan Jaya harus berhadapan langsung dengan situasi mencekam dan tidak aman.
- Bagaimana tidak, sejumlah pesawat nirawak (drone) pengintai terus berkeliaran di langit, bahkan mengitari tempat tim menginap serta di sekitar gereja yang menjadi lokasi pengungsian warga.
Laporan Wartawan Indonesiadiscover.com, Putri Nurjannah Kurita
Indonesiadiscover.com, SENTANI –Sebuah aksi solidaritas dari para penonton film dokumenter berhasil mengumpulkan dana hingga ratusan juta rupiah untuk menyokong para pengungsi internal di Tanah Papua.
Dana fantastis sebesar Rp517.928.770 berhasil digalang dari hasil penjualan tiket sukarela para penonton sejak awal musim nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul “Pesta Babi–Kolonialisme di Zaman Kita”.
Seluruh dana kemanusiaan ini langsung diserahkan secara nyata kepada para pengungsi internal Papua yang terpaksa angkat kaki dari kampung halaman mereka akibat operasi militer dan konflik bersenjata.
Para pengungsi tersebut mayoritas berasal dari wilayah konflik panas seperti Provinsi Papua Pegunungan, Provinsi Papua Tengah, hingga Provinsi Papua Barat Daya (Kabupaten Maybrat).
Melalui Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua, bantuan berupa bahan makanan pokok dan uang tunai ini disalurkan langsung ke beberapa titik sebaran pengungsi yang paling membutuhkan di Papua Tengah dan Papua Pegunungan pada Juni lalu.
Berdasarkan siaran pers yang diterima Indonesiadiscover.com, Senin (6/7/2026), proses penyaluran bantuan kemanusiaan ini di Papua Tengah menyasar para pengungsi di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak pada 16 Juni, serta para pengungsi di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya pada 18 Juni.
Adapun tim pemberani yang terjun langsung menyalurkan bantuan kemanusiaan di lokasi ini adalah Pdt. Yahya Lagowan, Pdt. Warius Enumbi, Pdt. Elianus Tabuni, dan seorang staf Sekretariat Sinode Kingmi.
“Ini anak-anak Tuhan, mereka membuat film Pesta Babi dan memberi sumbangan untuk yang sedang dalam pengungsian. Mereka tidak bisa datang ke sini dan meminta kami yang datang mengantarkan bantuan kemanusiaan,” ujar Pdt. Yahya Lagowan, Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua dengan nada haru di hadapan para pengungsi di Sugapa.
Dikepung Drone hingga Ledakan Granat di Depan Mata
Perjalanan membawa misi kemanusiaan ini nyatanya bertaruh nyawa.
Pendeta Yahya Lagowan bersama timnya yang bertolak ke Kabupaten Intan Jaya harus berhadapan langsung dengan situasi mencekam dan tidak aman.
Bagaimana tidak, sejumlah pesawat nirawak (drone) pengintai terus berkeliaran di langit, bahkan mengitari tempat tim menginap serta di sekitar gereja yang menjadi lokasi pengungsian warga.
Suasana kian menegangkan saat sebuah granat dijatuhkan dan meledak hebat di sekitar lokasi para mama (ibu-ibu Papua) sedang mencuci ubi. Akibat ledakan mengerikan ini, dua orang perempuan dilaporkan menjadi korban luka.
Aksi kekerasan di wilayah ini memang tengah membara. Berdasarkan catatan resmi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Papua, setidaknya terjadi enam rangkaian peristiwa kekerasan berdarah di Intan Jaya sepanjang periode Mei-Juni 2026.
Hari-hari penuh kekerasan akibat operasi militer di Tanah Papua dilaporkan memakan korban hampir setiap hari, termasuk menyasar warga sipil mulai dari ibu hamil, bayi, anak-anak, pendeta, guru, tenaga kesehatan, hingga pilot.
Kondisi mencekam inilah yang kian memaksa orang Papua menjadi pengungsi di atas tanah kelahiran mereka sendiri.
Tembus 122.932 Pengungsi
Data mencengangkan diungkap oleh Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP). Sejak tahun 2018 hingga saat ini, jumlah akumulatif pengungsi internal di Tanah Papua telah menembus angka 122.932 jiwa.
Angka miris ini bahkan belum termasuk data warga yang meninggal dunia di tenda-tenda pengungsian akibat kondisi kesehatan dan fasilitas yang terus memburuk.
Tercatat salah satu gelombang pengungsi terbesar berasal dari Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.
Untuk meringankan beban mereka, tim kedua penyalur bantuan kemanusiaan yang terdiri dari Pdt. Marthen Keiya, Pdt. Nataniel Tabuni, dan Pdt. Yairus Elopere bergerak cepat.
Mereka menyalurkan bantuan untuk para pengungsi Nduga di dua titik pengungsian di Wamena (Ilekma dan Kimbim), Kabupaten Jayawijaya serta di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga pada 17-18 Juni.
Lokasi terakhir menjadi tujuan pelarian bagi warga dari dua distrik tetangga, yakni Yigi dan Mbulmu Yalma.
“Kami datang dalam rangka membawa sesuai dengan apa yang mereka (penonton Pesta Babi) minta. Kami tidak tambah-tambah dan tidak kurangi… Hanya tangisan yang selalu kami naikkan kepada Tuhan di kantor Sinode.”
“Dengan adanya bantuan demikian ini, kami berani datang kunjungi ibu dan bapak. Kalau tangan kosong, bertemu dengan kami punya umat ini, kami juga rasa sedih,” ungkap Pdt. Marthen Keiya sambil menahan kesedihan saat menyalurkan bantuan di Distrik Mbua.
Seruan Hentikan Militerisasi dan Proyek Eksploitatif
Tim kolaborasi film Pesta Babi menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas solidaritas luar biasa para penonton.
Namun, mereka menegaskan bahwa persoalan kemanusiaan ini masih jauh dari kata selesai.
Operasi militer di Tanah Papua disinyalir kian membesar dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, seiring masifnya proyek strategis nasional (PSN) oleh pemerintah pusat.
Berwujud dalih swasembada pangan dan energi, lahan serta hutan adat seluas 2,5 juta hektare milik masyarakat adat kini dibidik untuk dikonversi menjadi persawahan mega-proyek, perkebunan tebu untuk bioetanol, serta kelapa sawit untuk biodiesel.
Proses ini berjalan beriringan dengan penempatan ribuan personel militer yang ditugaskan mengamankan wilayah proyek dari gejolak protes masyarakat adat.
“Sudah terlalu banyak kematian, penderitaan, dan air mata tumpah di Tanah Papua. Tragedi kemanusiaan ini harus segera diakhiri.”
“Kami mengajak para penonton Pesta Babi untuk bersama-sama mendesak pemerintah Indonesia melakukan demiliterisasi di Papua; menghentikan segala proyek eksploitatif yang merampas tanah Masyarakat Adat,” tegas Yuliana Lantipo selaku perwakilan tim kolaborasi film Pesta Babi.
Senada dengan hal tersebut, Pendeta Yahya Lagowan mengimbuhkan desakan kuat agar negara hadir bertanggung jawab melindungi warga sipil dan mengedepankan dialog damai yang setara, bukan moncong senjata.
“Hutan dan tanah yang besar di Papua bukan tanpa pemilik. Ini semua dari nenek-moyang turun-temurun… Tidak ada tanah yang kosong. Jika negara mau membawa perusahaan masuk, tanya dan hargai orang Papua sebagai pemiliknya,” kata Pendeta Yahya. (*)


