Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Monday, 2 November 2026
Trending
  • Outlook ekonomi Jatim 2026, JEBS gelar FGD bahas tantangan hilirisasi hingga tekanan industri rokok
  • Gol apik Yann Mabella bawa Persebaya Surabaya menang, siap hadapi Persijap Jepara
  • Instagram Siapkan Video 90 Menit, Siap Saingi YouTube
  • Masuk Indonesia cuma 2 unit, Ducati Panigale V2 Special Edition MM93 dijual miliaran!
  • Ratikita.id HST kembangkan bank sampah digital berbasis kecerdasan buatan
  • Misteri Brigpol WP: Bunuh Ibu Kandung Diduga Akibat Gangguan Jiwa
  • Teks Amanat Pembina Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98,Pidato Menpora RI 28 Oktober 2026 and Link PDF
  • Vietnam Genjot Pariwisata Premium, Tambah 10.000 Kamar Hotel Mewah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Transformasi Pertanian Digital Tiongkok Mengubah Peta Produksi Pangan Modern dari Lahan ke Robot Otomatis
Teknologi

Transformasi Pertanian Digital Tiongkok Mengubah Peta Produksi Pangan Modern dari Lahan ke Robot Otomatis

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover9 July 2026No Comments4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Revolusi Teknologi di Sektor Pertanian Shandong, Tiongkok



Di tengah pergeseran global menuju modernisasi, teknologi kini tidak hanya mengubah cara kita berinteraksi dengan data dan kecerdasan buatan, tetapi juga memberikan transformasi besar di sektor pertanian. Di Provinsi Shandong, Tiongkok, inovasi teknologi telah membawa perubahan mendasar dalam pengelolaan lahan pertanian, termasuk sistem irigasi pintar, drone, robot otonom, dan analitik berbasis data.

Modernisasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga menjawab tantangan lama seperti krisis air, degradasi tanah, serta keterbatasan tenaga kerja. Dengan adanya sistem irigasi presisi, sensor tanah, dan navigasi satelit, petani kini dapat membuat keputusan secara real time, sehingga memperbaiki efisiensi dan hasil panen.

Perubahan Mencolok di Kabupaten Ningjin

Salah satu daerah yang paling terdampak perubahan ini adalah Kabupaten Ningjin, Kota Dezhou, Provinsi Shandong. Ye Jitao, direktur koperasi pertanian di Desa Hupizhangxi, mengungkapkan bagaimana dulu irigasi menjadi masalah besar. “Dulu irigasi merupakan mimpi buruk secara logistik. Beberapa keluarga harus berbagi satu sumur dan kami sering menunggu tiga hingga empat hari hanya untuk satu kali giliran mengairi sawah. Biaya listrik untuk memompa air pun sangat besar,” ujarnya.

Kini kondisi berubah drastis. Pemerintah telah membangun jaringan pipa yang menyalurkan air Sungai Kuning langsung ke lahan petani. “Kami cukup menyalakan sistem irigasi dan air langsung mengalir. Tidak ada lagi antrean ataupun persaingan mendapatkan air,” tambahnya.

Sebagai wilayah hilir sistem irigasi Sungai Kuning, Ningjin sebelumnya menghadapi kekurangan air dan eksploitasi air tanah. Untuk mengatasi ini, pemerintah setempat melakukan sejumlah pembangunan, seperti mengeruk 114 kilometer saluran utama, membangun dan meningkatkan 14 gorong-gorong serta stasiun pompa, membangun 12 kolam penampungan, dan menambah kapasitas penyimpanan hingga 5 juta meter kubik.

Pengelolaan Air yang Lebih Efisien

Pengelolaan air di tingkat petani juga mengalami perubahan signifikan. Wang Yuchi dari Koperasi Yicang kini dapat mengontrol irigasi melalui ponsel pintar. “Dulu saya harus terus berada di sawah saat mengairi lahan karena khawatir air terbuang percuma. Sekarang semuanya dapat dikendalikan melalui telepon genggam,” katanya. Irigasi genangan mulai digantikan sistem tetes dan manajemen air-pupuk terpadu yang lebih presisi.

Di Kota Dongying, 107 hektare lahan bergaram berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif melalui sistem drainase bawah tanah berlapis ganda. Teknologi ini bekerja dengan menahan air asin sekaligus mengalirkan garam keluar dari tanah secara bertahap. Dalam satu hingga dua tahun, kadar garam turun dari 16 menjadi 3 bagian per seribu dan hasil jagung mencapai 600 kilogram per mu atau sekitar 9 ton per hektare, dengan daya tahan perbaikan hingga 50 tahun.

Digitalisasi di Kabupaten Linshu

Digitalisasi juga mengubah pengelolaan lahan di Kabupaten Linshu. Terdapat 200 stasiun pemantauan yang mengirim data tanah dan cuaca ke platform big data pertanian. Petani Yu Leyi mengatakan, “Dulu pemupukan dan irigasi lebih banyak mengandalkan pengalaman. Sekarang, hanya dengan satu sentuhan di telepon genggam, saya dapat melihat suhu, kelembapan, dan kondisi tanaman secara real time.”

Operator alat pertanian Wan Lei mengatakan sistem digital juga mempercepat pekerjaan lapangan. “Dulu saya harus datang langsung ke sawah untuk memeriksa kelembapan tanah dan melakukan pemeriksaan berulang sebelum pemupukan. Sekarang saya bisa memantau jalur terbang drone, data tanah, dan pertumbuhan tanaman melalui platform seluler. Efisiensinya luar biasa. Satu drone mampu mencakup 53 hingga 67 hektare lahan dalam sehari,” ujarnya.

Robot Penyemprot Pestisida di Tai’an

Di Tai’an, robot penyemprot pestisida menjadi bagian dari pertanian tanpa awak. Teknisi Wang Xinwen menjelaskan, “Begitu rute ditetapkan, robot akan bergerak sendiri. Layar juga menampilkan tingkat kelembapan tanah hingga kerusakan akibat serangga pada daun sehingga sudut penyemprotan dapat disesuaikan dengan mudah.”

Menurut Chen Guoqing dari Universitas Pertanian Shandong, teknologi ini memanfaatkan sistem BeiDou dengan akurasi sentimeter serta pemrosesan citra real time. Hasilnya, presisi penyemprotan mencapai 95 persen, penggunaan bahan kimia turun 40 persen, produktivitas naik 10 kali lipat, dan biaya operasional turun 60 persen per hektare. Chen menambahkan, “Setiap unit dijual sekitar 20.000 yuan atau sekitar Rp52,82 juta (kurs Rp2.641 per yuan). Tujuan kami adalah mengembangkan mesin pertanian cerdas yang terjangkau, andal, dan benar-benar dapat digunakan oleh petani biasa.”

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Instagram Siapkan Video 90 Menit, Siap Saingi YouTube

2 November 2026

Ratikita.id HST kembangkan bank sampah digital berbasis kecerdasan buatan

2 November 2026

8 tips agar vacuum cleaner portable bisa awet dan tidak cepat rusak

1 November 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Outlook ekonomi Jatim 2026, JEBS gelar FGD bahas tantangan hilirisasi hingga tekanan industri rokok

2 November 2026

Gol apik Yann Mabella bawa Persebaya Surabaya menang, siap hadapi Persijap Jepara

2 November 2026

Instagram Siapkan Video 90 Menit, Siap Saingi YouTube

2 November 2026

Masuk Indonesia cuma 2 unit, Ducati Panigale V2 Special Edition MM93 dijual miliaran!

2 November 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?