Indonesiadiscover.com
Kegagalan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026 menempatkannya ke dalam daftar panjang bintang-bintang yang gagal berjaya di turnamen ini. Mimpi itu kandas pada Senin (6/7/2026). Timnas Portugal kalah tragis dari tetangganya, Spanyol, pada babak 16 besar. Mentas di Stadion AT&T, Arlington, Derbi Semenanjung Iberia berakhir dengan takluknya Cristiano Ronaldo cs. Gol tunggal Mikel Merino pada menit-menit akhir pertandingan cukup menyegel tiket perempat final bagi Timnas Spanyol. Sebaliknya, hasil ini bermakna kegagalan kesekian kali bagi Ronaldo dan Portugal. Superstar 41 tahun tersebut dipaksa mengubur mimpi meraih trofi terbesar dan satu-satunya yang belum pernah dia menangkan sepanjang karier gemerlap.
Dalam enam partisipasinya di Piala Dunia, capaian terbaik Ronaldo mentok di semifinal turnamen debutnya pada 2006. Namun, Cristiano Ronaldo tidak sendirian. Banyak bintang sepak bola masa lampau yang mengakhiri karier hebatnya tanpa trofi terakbar sejagat.
Legenda-legenda yang Gagal Menjuarai Piala Dunia
Johan Cruyff (Belanda)
Maestro sepak bola Belanda ini termasuk deretan teratas legenda akbar yang belum pernah mencicipi gelar juara Piala Dunia. Cruyff meraih segalanya di level klub maupun individu, dan pengaruhnya sangat besar pula dalam perkembangan sejarah sepak bola. Namun, di tim nasional, dia sebatas mengantar Oranje sampai final 1974. Hal serupa dialami semua legenda Belanda karena mereka memang belum pernah kebagian trofi Jules Rimet.

Alfredo Di Stefano (Spanyol)
Legenda akbar Real Madrid ini termasuk golongan langka karena pernah membela tiga tim nasional sekaligus, yakni Argentina (negara kelahiran), Kolombia, dan Spanyol. Bersama tim yang disebut terakhir, Di Stefano menghabiskan sebagian kariernya tanpa satu pun trofi bergengsi. Spanyol baru berhasil memenangi gelar juara Piala Dunia pertamanya pada 2010, empat tahun sebelum Di Stefano meninggal dunia di usia 88.

Zico (Brasil)
Bukankah Selecao adalah raja trofi Piala Dunia dan Zico salah satu produk terhebat dalam sejarah mereka? Benar, tetapi ironisnya, tak satu pun titel juara Brasil terjadi pada masa kejayaan legenda bernama lengkap Arthur Antunes Coimbra. Zico beredar di zaman berbeda setelah generasi Pele dkk. Ia tampil di Piala Dunia 1978, 1982 dan 1986. Pencapaian terbaiknya hanya peringkat ketiga edisi 1978.
Paolo Maldini (Italia)
Ikon pertahanan Timnas Italia pada akhir 1980-an hingga awal 2000-an ini bisa dibilang lahir dalam generasi yang terlalu cepat. Maldini tak pernah absen membentengi lini belakang Azzurri pada Piala Dunia 1990-2002. Dengan kontribusinya di skuad, Italia mencapai kursi runner-up edisi 1994 untuk meningkatkan pencapaian di peringkat ketiga empat tahun sebelumnya. Gli Azzurri malah berhasil juara Piala Dunia pada 2006, empat tahun setelah Maldini melakoni turnamen terakhirnya.
Eusebio (Portugal)
Pendahulu Cristiano Ronaldo ini harus rela menyerahkan rekor-rekor impresifnya dipecahkan sang junior. Namun, hal tersebut tidak mengenyahkan realitas bahwa bersama Eusebio-lah Timnas Portugal mencapai titik tertinggi di Piala Dunia, bukan dengan Ronaldo. Muncul satu generasi dengan Pele, legenda beralias The Black Panther mengantar negaranya finis di peringkat ketiga Piala Dunia 1966.
Michel Platini (Prancis)
Di level klub, hampir semua trofi berhasil diraih Platini pada era 1980-an. Namun, prestasi terbaiknya di Piala Dunia sebatas nangkring di urutan ketiga edisi 1986. Prancis dikalahkan Jerman dan harus puas mendapat perunggu seusai menekuk Belgia via babak tambahan waktu. Momentum yang jadi klimaks dalam karier internasional Platini adalah kesuksesan juara Piala Eropa 1984, trofi bergengsi pertama bagi Les Bleus.
Legenda-Legenda Lain yang Tidak Pernah Juara Piala Dunia
Faktor geografis ataupun negara asal juga berpengaruh besar terhadap kegagalan sederet bintang masa lalu untuk berprestasi di Piala Dunia. Misalnya George Best, ikon sepanjang masa Irlandia Utara, tak pernah sekali pun lolos ke Piala Dunia bersama negaranya, apalagi memenanginya. Pun George Weah, sang pemenang Ballon d’Or 1995, yang selalu gagal membawa Liberia masuk putaran final. Adapun legenda top Hungaria, Ferenc Puskas, sebatas meninggalkan warisan sebagai raksasa masa lalu dengan pencapaian terbaik runner-up 1954.
Selain itu, Anda bisa menambahkan nama-nama top lainnya di daftar panjang ini semodel John Charles, Laszlo Kubala, Socrates, Lev Yashin, Roberto Baggio, Marco van Basten, David Beckham, Raul Gonzalez, Gabriel Batistuta, Oliver Kahn, hingga bintang kekinan macam Luka Modric atau Neymar.
Hal ini bisa menjadi bukti bahwa modal kesuksesan memenangi Piala Dunia bukan didasarkan kepada performa individu semata. Faktor kolektivitas dan ‘keberuntungan’ lahir dalam tim yang solid sangat memengaruhi sukses-tidaknya seorang pemain meraih trofi paripurna.



