Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 9 Juli 2026
Trending
  • 7 pilihan warna netral untuk hijab yang anggun
  • Harga TBS Sawit Dharmasraya Hari Ini Tembus Rp 3.810 per Kg
  • SUV flagship Wuling dan Huawei resmi meluncur, nikmati teknologi canggih dan spesifikasi luar biasa
  • Selaras Lawang Sewu Perkenalkan Pintu Aluminium Bertekstur Kayu di Jakarta Fair 2026
  • PMB Universitas BSI Gelombang 5 Dibuka dengan Prodi Baru
  • Tiga Pelaku Serangan ke Polisi di Katingan Terkait Keluarga, Kapolres Beberkan Peran Masing-Masing
  • Pesan Terakhir Bripda Nopandri Sebelum Tewas, Pamit Gerebek Bandar Sabu
  • Davide Tardozzi Buka Suara: Alasan ‘Cerai’ Epic Ducati dan Pecco Bagnaia Jelang MotoGP 2027
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»5 Film 2016 yang Kini Dianggap Terlalu Kontroversial
Ragam

5 Film 2016 yang Kini Dianggap Terlalu Kontroversial

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover9 Juli 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Industri Film dan Tantangan yang Dihadapi

Industri perfilman terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Apa yang dianggap berani dan layak diproduksi beberapa tahun lalu kini mungkin tidak lagi mendapat sambutan yang sama dari studio besar. Perubahan selera penonton, meningkatnya sensitivitas terhadap isu sosial, serta pertimbangan bisnis membuat banyak proyek film harus melewati proses seleksi yang lebih ketat.

Beberapa film yang dirilis pada 2016 menjadi contoh menarik. Bukan karena kualitasnya buruk, tetapi karena tema, sudut pandang, atau kontroversi di balik produksinya membuat film-film tersebut terasa sulit diwujudkan jika baru dikembangkan sekarang. Berikut lima film 2016 yang kemungkinan besar akan menghadapi tantangan besar apabila diproduksi di era saat ini.

1. Passengers (2016)



Passengers menghadirkan konsep fiksi ilmiah yang menarik. Film ini mengikuti Jim Preston, seorang penumpang pesawat luar angkasa yang terbangun puluhan tahun lebih awal akibat kerusakan kapsul tidur. Karena tidak sanggup menghadapi kesendirian, ia memutuskan membangunkan Aurora, seorang perempuan yang sebenarnya masih tertidur, sehingga masa depannya ikut berubah selamanya.

Film yang dibintangi Chris Pratt dan Jennifer Lawrence ini tampak menjanjikan. Namun, premis tersebut justru memicu kontroversi karena tindakan Jim dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak dan pilihan hidup Aurora. Banyak penonton merasa film ini berusaha membingkai keputusan yang problematis sebagai kisah romantis.

Di era sekarang, ketika isu persetujuan atau consent menjadi perhatian besar, kemungkinan besar naskah seperti ini akan mengalami perubahan drastis sebelum mendapat lampu hijau.

2. Silence (2016)



Disutradarai Martin Scorsese, Silence merupakan drama sejarah yang mengisahkan dua pastor Yesuit yang pergi ke Jepang pada abad ke-17 untuk mencari guru mereka sekaligus mempertahankan keyakinan di tengah penganiayaan terhadap umat Kristen. Film ini menawarkan perjalanan spiritual berat sekaligus mempertanyakan arti iman dalam situasi ekstrem.

Meski dipuji karena kualitas penyutradaraan dan aktingnya, Silence bukanlah film yang mudah dipasarkan. Durasinya panjang, temponya lambat, dan pembahasannya sangat filosofis. Saat ini, studio besar cenderung lebih berhati-hati mendanai proyek orisinal berskala besar yang menyasar pasar terbatas.

Film seperti Silence kemungkinan akan lebih mudah diproduksi oleh layanan streaming dibandingkan mengandalkan perilisan eksklusif di bioskop seperti saat pertama kali hadir.

3. The Promise (2016)



The Promise mengambil latar tragedi Genosida Armenia pada masa Perang Dunia I dengan kisah cinta segitiga sebagai benang merah ceritanya. Dibintangi Oscar Isaac, Christian Bale, dan Charlotte Le Bon, film ini berusaha mengangkat salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang hingga kini masih menjadi topik sensitif di berbagai negara.

Sayangnya, film ini justru menjadi sasaran kampanye negatif bahkan sebelum dirilis luas. Banyak pihak yang menyangkal peristiwa Genosida Armenia membanjiri berbagai situs ulasan dengan penilaian buruk sehingga citra film ikut terdampak.

Peristiwa tersebut menjadi contoh bagaimana tekanan media sosial dan kampanye daring dapat memengaruhi nasib sebuah film. Melihat kondisi industri saat ini, studio mungkin akan berpikir dua kali sebelum menggelontorkan dana besar untuk proyek sejarah yang berpotensi memicu kontroversi serupa.

4. LBJ (2016)



Film biografi LBJ mengangkat perjalanan Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson, yang diperankan Woody Harrelson. Fokus utamanya adalah masa transisi setelah pembunuhan John F. Kennedy hingga Johnson berupaya mendorong lahirnya berbagai kebijakan hak-hak sipil di Amerika Serikat.

Namun, banyak kritikus menilai film ini terlalu menyederhanakan sejarah. Perannya dalam Perang Vietnam hanya disinggung secara terbatas, sementara penggambaran Johnson dianggap terlalu positif. Akibatnya, film ini sulit diterima oleh berbagai kalangan karena dinilai kurang seimbang dalam menampilkan fakta sejarah.

Di tengah tuntutan publik terhadap film biografi yang lebih akurat dan bernuansa, pendekatan seperti LBJ kemungkinan akan menghadapi kritik lebih besar apabila diproduksi sekarang.

5. Cafe Society (2016)



Disutradarai Woody Allen, Cafe Society merupakan drama romantis yang berlatar Hollywood era 1930-an. Film ini mengikuti kisah Bobby Dorfman yang pindah ke Los Angeles dan terjebak dalam hubungan cinta yang rumit di tengah gemerlap industri hiburan klasik. Nuansa nostalgia dan visual elegan menjadi daya tarik utama film ini.

Meski mendapat respons yang cukup baik saat dirilis, situasi berubah drastis beberapa tahun kemudian. Kontroversi yang terus mengiringi nama Woody Allen membuat banyak studio enggan lagi bekerja sama dengannya, terutama setelah munculnya gerakan #MeToo.

Selain itu, film bertema Hollywood klasik juga kini dianggap memiliki daya tarik pasar yang lebih terbatas dibanding sebelumnya. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat proyek seperti Cafe Society kemungkinan besar akan sulit diwujudkan dengan skala yang sama pada era sekarang.

Perubahan zaman selalu memengaruhi jenis film yang diproduksi Hollywood. Nah, menurutmu dari kelima film di atas, mana yang paling mustahil diproduksi jika baru diajukan ke studio pada masa sekarang?

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

7 pilihan warna netral untuk hijab yang anggun

9 Juli 2026

Selaras Lawang Sewu Perkenalkan Pintu Aluminium Bertekstur Kayu di Jakarta Fair 2026

9 Juli 2026

SUV flagship Wuling dan Huawei resmi meluncur, nikmati teknologi canggih dan spesifikasi luar biasa

9 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

7 pilihan warna netral untuk hijab yang anggun

9 Juli 2026

Harga TBS Sawit Dharmasraya Hari Ini Tembus Rp 3.810 per Kg

9 Juli 2026

SUV flagship Wuling dan Huawei resmi meluncur, nikmati teknologi canggih dan spesifikasi luar biasa

9 Juli 2026

Selaras Lawang Sewu Perkenalkan Pintu Aluminium Bertekstur Kayu di Jakarta Fair 2026

9 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?