Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 1 Agustus 2026
Trending
  • BPTD Jambi Bungkam, Dugaan Ketidaksesuaian SBU dan SKP pada Sejumlah Proyek Konstruksi Tahun 2025 Mengemuka
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Eurofighter atau F-35? Krisis FCAS Paksa Jerman Hadapi Rusia
Nasional

Eurofighter atau F-35? Krisis FCAS Paksa Jerman Hadapi Rusia

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover9 Juli 2026Tidak ada komentar7 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Dilema Jerman dalam Pemenuhan Kebutuhan Pesawat Tempur Generasi Berikutnya

Jerman kini menghadapi pilihan yang sulit setelah program jet tempur generasi keenam FCAS dengan Prancis berakhir. Di satu sisi, ada Eurofighter Typhoon, pesawat tempur Eropa yang dikenal sebagai “preman” oleh Angkatan Udara Kerajaan Inggris. Di sisi lain, ada F-35, pesawat siluman Amerika Serikat yang dijuluki “pembunuh”. Dua julukan ini mencerminkan dilema besar yang dihadapi Berlin.

Eurofighter Typhoon penting untuk menjaga industri pertahanan Jerman tetap hidup, sementara F-35 dibutuhkan untuk mengisi celah kemampuan tempur modern, termasuk misi nuklir NATO, setelah armada Tornado yang sudah tua harus dipensiunkan. Krisis ini muncul setelah Jerman secara resmi mengakhiri program Future Combat Air System (FCAS) yang selama bertahun-tahun digarap bersama Prancis dan Spanyol. Program tersebut awalnya dimaksudkan sebagai simbol kedaulatan teknologi Eropa, tetapi akhirnya menunjukkan rapuhnya kerja sama industri pertahanan di benua tersebut.

Perselisihan utama muncul ketika Dassault Prancis dilaporkan menuntut pembagian kerja sebesar 80 persen dan kendali besar atas program tersebut. Airbus Jerman menilai tuntutan itu tidak dapat diterima. Dari sudut pandang Berlin, Jerman berisiko hanya menjadi pendukung dan penyandang dana bagi jet tempur yang pada akhirnya terlalu didominasi Prancis.

Ketegangan itu membuat kepercayaan antara Dassault dan Airbus runtuh. Selama lebih dari setahun, hampir tidak ada pekerjaan nyata yang dilakukan pada jet tersebut. Pemerintah nasional sempat mencoba mendamaikan industri kedua negara, tetapi Jerman akhirnya menilai FCAS justru menunda kebutuhan mendesak mereka untuk mendapatkan jet tempur generasi berikutnya.

F-35 Semakin Menggoda

Runtuhnya FCAS membuat opsi F-35 semakin menggoda bagi Jerman. Berlin sudah memiliki pesanan tetap untuk 35 unit F-35A. Ada laporan bahwa Jerman akan menambah 15 unit lagi. Namun, Reuters melaporkan pada Februari 2026 bahwa Jerman bahkan sedang mempertimbangkan untuk menggandakan pesanan itu menjadi 70 unit F-35A, meski belum ada keputusan akhir.

F-35 dipandang sebagai “pesawat jembatan”. Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengonfirmasi bahwa rencana tersebut kini sudah berada di atas meja, seraya mengatakan bahwa itu dapat menjadi solusi “jembatan”, atau apa pun sebutannya, menuju sistem persenjataan generasi berikutnya bagi Jerman.

Jet ini dapat mengisi celah antara armada lama Jerman dan jet generasi keenam Eropa yang diharapkan baru hadir pada 2040-an. Dengan kemampuan siluman, sensor canggih, dan jaringan tempur modern, F-35 juga dapat memperkuat kinerja Eurofighter serta jet tempur generasi keempat lain.

Dalam bocoran kompetisi Kanada, F-35A disebut mencetak skor 95 persen, jauh di atas kombinasi Saab Gripen dan GlobalEye yang memperoleh 33 persen. Angka itu memperkuat persepsi bahwa F-35 masih menjadi pesawat tempur paling mumpuni di kelasnya.

Namun, membeli lebih banyak F-35 juga membawa konsekuensi politik dan industri. Semakin banyak Jerman bergantung pada F-35, semakin besar pula ketergantungannya pada Amerika Serikat. Padahal salah satu alasan utama FCAS dibangun adalah agar Eropa memiliki kedaulatan teknologi pertahanan sendiri.

Eurofighter Penyangga Industri Dirgantara Nasional

Meski F-35 terlihat lebih modern, Eurofighter tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Bagi Jerman, Eurofighter bukan hanya pesawat tempur. Ia adalah penyangga industri dirgantara nasional.

Pada Oktober 2025, Konsorsium Eurofighter melaporkan Angkatan Udara Jerman memesan 20 Eurofighter Tranche 5 tambahan, yang diperkirakan dikirim pada 2031 hingga 2034. Pesanan itu menambah 38 Eurofighter yang sudah dipesan melalui Proyek Quadriga.

Alasan utamanya bukan hanya kebutuhan militer. Eurofighter dibangun di Jerman dengan keterlibatan Inggris, Italia, dan Spanyol. Jika pesanan berhenti, pabrik bisa tutup, rantai pasok terganggu, insinyur berpindah, dan pengetahuan teknis hilang.

“Eurofighter Typhoon mampu membawa lebih banyak jenis persenjataan dengan kemampuan yang saling melengkapi. Sistem pod penarget optik dan inframerah pada Typhoon juga memungkinkan pilot mengidentifikasi sasaran secara visual dari jarak yang lebih jauh,” kata Letnan Kolonel Mike Carty dari Angkatan Udara Kerajaan Inggris.

Itulah sebabnya Eurofighter tetap penting meski bukan jet tempur siluman generasi kelima seperti F-35. Ia menjaga agar otot industri tempur Jerman tetap bergerak sampai Eropa mampu masuk ke era jet tempur generasi keenam.



Eurofighter Typhoon Angkatan Udara Jerman. – (EPA-EFE/VALDA KALNINA)

Lebih Realistis

Setelah FCAS runtuh, salah satu opsi Jerman adalah bergabung dengan GCAP/Tempest, program jet tempur generasi keenam yang digarap Inggris, Italia, dan Jepang. Inggris disebut terbuka menyambut Jerman. Namun, Jepang sensitif terhadap potensi penundaan karena program itu ditargetkan beroperasi pada 2035.

Masalahnya, GCAP sudah cukup maju. Pembagian kerja utama telah disepakati, dan demonstrator pertama sudah diproduksi oleh BAE Systems. Karena itu, sulit bagi Jerman masuk sebagai mitra setara. Berlin mungkin lebih realistis berkontribusi secara finansial atau mendukung Combat Cloud, Loyal Wingman, dan sistem terkait lain, tetapi bukan menjadi pemain utama pada pesawat inti.

Opsi lain adalah membangun jet baru bersama Saab dari Swedia. Pilihan ini memberi ruang lebih besar bagi industri Jerman. Namun, risikonya besar. Mengembangkan jet tempur generasi keenam adalah proyek yang sangat mahal dan dapat membebani industri kedirgantaraan negara mana pun, kecuali kekuatan raksasa seperti Amerika Serikat dan China.

Ada pula masalah pasar. Studi dalam naskah ini menyebut hanya ada cukup permintaan untuk dua jet tempur generasi berikutnya buatan Eropa. Jika Prancis menempuh jalannya sendiri, lalu GCAP berjalan dengan Inggris, Italia, dan Jepang, tidak jelas apakah Jerman mampu membangun jalur ketiga.



Ilustrasi peluncuran drone Rusia – (Erdy Nasrul/Indonesiadiscover.com)

Drone Sebagai Peta Baru

Di balik dilema Eurofighter dan F-35, ada pertanyaan yang lebih besar: apakah Jerman masih perlu mengejar jet tempur berawak generasi keenam, atau justru harus mempercepat lompatan ke pesawat tempur tanpa awak?

Sebagian pihak berpendapat, pada pertengahan abad ini, platform tanpa awak bisa menggantikan jet tempur berawak atau setidaknya menjadi investasi yang lebih masuk akal. Amerika Serikat saat ini dianggap memiliki keunggulan besar dalam pengembangan pesawat tempur tanpa awak, termasuk drone pendukung setia.

Jerman sendiri tidak tinggal diam. Negara itu memiliki kebutuhan mendesak atas 400 drone tempur, termasuk “Jagdbomberdrohne” atau drone pembom-tempur. Sistem ini direncanakan mulai beroperasi pada 2029 sebagai pendahulu drone pendukung yang lebih mumpuni.

Beberapa kontraktor AS seperti Kratos, Anduril, dan General Atomics disebut menjalin kemitraan untuk varian pesawat yang akan dibangun di Jerman. Namun, Jerman juga memiliki program dalam negeri, termasuk Helsing CA-1 Europa yang penerbangan pertamanya diperkirakan pada 2027 dan Airbus U760 Ravenstorm yang diperkirakan hadir pada awal 2030-an.

Karena itu, pilihan Jerman tidak lagi sederhana. Eurofighter menjaga industri tetap hidup. F-35 memberi kemampuan tempur paling matang saat ini. GCAP menawarkan jalur Eropa yang lebih realistis, tetapi sulit memberi Jerman posisi setara. Saab memberi peluang kepemimpinan, tetapi biayanya sangat besar. Sementara drone membuka masa depan baru yang belum sepenuhnya pasti.

Bersiap Hadapi Bayang-Bayang Kekuatan Udara Rusia

Bagi Jerman, krisis FCAS tidak terjadi di ruang hampa. Berlin sedang memperkuat Angkatan Udaranya ketika ancaman Rusia kembali menjadi faktor utama dalam kalkulasi keamanan Eropa. Invasi Rusia ke Ukraina mengguncang cara pandang Jerman terhadap pertahanan, dan memaksa negara itu mengejar kesiapan tempur yang selama bertahun-tahun tertunda.

Di sinilah Eurofighter dan F-35 memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi. Eurofighter Typhoon menjadi tulang punggung tempur yang menjaga kemampuan industri dan operasional Jerman. Jet ini cepat, lincah, mampu membawa lebih banyak persenjataan, dan menjadi platform penting untuk mempertahankan ruang udara NATO di Eropa.

Sementara itu, F-35 memberi Jerman kemampuan yang tidak dimiliki Eurofighter secara penuh: teknologi siluman, sensor canggih, dan kemampuan menembus sistem pertahanan udara modern. Dalam skenario menghadapi Rusia, kemampuan seperti ini penting karena Moskow memiliki jaringan rudal pertahanan udara, radar, pesawat tempur, dan rudal jarak jauh yang dapat menciptakan ancaman besar bagi operasi udara NATO.

Karena itu, F-35 tidak hanya dipandang sebagai pengganti Tornado untuk misi berbagi nuklir NATO, tetapi juga sebagai “pesawat jembatan” menuju sistem tempur generasi berikutnya. Jet ini dapat membuka jalan bagi operasi udara modern, sementara Eurofighter tetap menjadi kekuatan utama untuk patroli, pencegatan, dan membawa beban persenjataan lebih besar.

Namun, dilema Jerman tidak sederhana. Terlalu bergantung pada F-35 berarti semakin bergantung pada Amerika Serikat. Sebaliknya, mempertahankan Eurofighter berarti menjaga industri pertahanan Eropa tetap hidup, tetapi belum menjawab kebutuhan jet generasi berikutnya setelah FCAS runtuh.

Di hadapan kekuatan udara Rusia yang tetap menakutkan meski terkuras perang Ukraina, Jerman tidak bisa hanya memilih satu jalan. Eurofighter dibutuhkan sebagai otot tempur Eropa. F-35 dibutuhkan sebagai pemburu senyap berteknologi tinggi. Keduanya menjadi simbol strategi baru Luftwaffe: memperkuat pertahanan hari ini, sambil mencari bentuk perang udara masa depan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen

11 Juli 2026

Inggris Tuduh Iran Serang di Selat Hormuz, 3 Kapal Jadi Korban

11 Juli 2026

Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

BPTD Jambi Bungkam, Dugaan Ketidaksesuaian SBU dan SKP pada Sejumlah Proyek Konstruksi Tahun 2025 Mengemuka

14 Juli 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?