Perubahan Aturan Adu Penalti yang Dijajaki FIFA
FIFA sedang mempertimbangkan perubahan penting dalam mekanisme adu penalti yang akan diterapkan pada fase gugur Piala Dunia 2026. Tujuan dari usulan ini adalah untuk menciptakan proses yang lebih adil bagi kedua tim, terutama saat pertandingan harus ditentukan melalui adu tos-tosan.
Saat ini, prosedur adu penalti diawali dengan dua kali lempar koin oleh wasit. Lempar koin pertama digunakan untuk menentukan tim yang mendapat kesempatan menendang lebih dulu, sedangkan lempar koin kedua menentukan gawang yang akan digunakan selama adu penalti berlangsung. Namun, sistem ini dinilai memiliki kelemahan karena memungkinkan satu tim kehilangan kedua keuntungan sekaligus apabila kalah dalam dua lempar koin.
Sistem Baru yang Diperkenalkan
Menurut laporan media Inggris The Times, FIFA kini mengusulkan skema baru yang hanya melibatkan satu kali lempar koin sebelum adu penalti dimulai. Dalam format yang sedang dibahas tersebut, kapten yang memenangkan lempar koin hanya berhak memilih satu keuntungan. Pilihan itu bisa berupa menentukan tim yang menendang lebih dulu atau memilih gawang yang akan digunakan. Hak lainnya secara otomatis diberikan kepada lawan.
Sebagai contoh, apabila sebuah tim memilih untuk menjadi penendang pertama, maka lawannya berhak menentukan sisi gawang tempat adu penalti berlangsung. Sebaliknya, jika pemenang lempar koin memilih gawang, maka lawan akan mendapatkan kesempatan menendang lebih dulu. FIFA menilai sistem ini dapat mengurangi potensi ketimpangan yang muncul akibat mekanisme dua lempar koin yang digunakan saat ini.
Potensi Penerapan di Piala Dunia 2026
Perubahan aturan tersebut dilaporkan menjadi salah satu agenda yang sedang dipersiapkan FIFA menjelang dimulainya fase gugur Piala Dunia 2026. Namun, usulan tersebut belum bisa langsung diterapkan tanpa persetujuan dari International Football Association Board (IFAB), lembaga yang memiliki kewenangan menetapkan dan mengubah Laws of the Game atau aturan resmi sepak bola dunia.
Jika mendapat lampu hijau dari IFAB sebelum babak gugur dimulai, bukan tidak mungkin aturan baru itu akan langsung digunakan pada Piala Dunia 2026 yang saat ini berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Langkah ini menjadi bagian dari upaya FIFA untuk terus mengevaluasi aspek-aspek teknis pertandingan yang dinilai masih dapat disempurnakan.
Apakah Menendang Lebih Dulu Benar-Benar Menguntungkan?
Perdebatan mengenai keuntungan menjadi penendang pertama dalam adu penalti sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Banyak penelitian sebelumnya menyebut bahwa tim yang mengambil tendangan pertama memiliki peluang lebih besar untuk menang. Alasannya, tim lawan selalu berada dalam tekanan psikologis untuk mengejar atau menyamakan skor setelah setiap tendangan.
Kondisi tersebut diyakini dapat memengaruhi tingkat konsentrasi pemain ketika mengeksekusi penalti. Meski demikian, tidak semua penelitian mendukung teori tersebut. Sebuah studi yang dilakukan ekonom David Pipke dan dipublikasikan dalam Journal of Economic Psychology pada 2025 justru menemukan hasil berbeda. Dalam penelitian tersebut, Pipke menganalisis sekitar 7.000 adu penalti dan lebih dari 74.000 eksekusi penalti dari berbagai kompetisi. Hasilnya menunjukkan tidak terdapat bukti kuat bahwa tim yang menendang lebih dulu memiliki peluang menang secara signifikan dibanding tim yang menendang kedua.
Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan baru mengenai asumsi lama yang selama ini dipercaya banyak kalangan sepak bola. Meski demikian, FIFA tampaknya tetap ingin memastikan bahwa setiap aspek dalam adu penalti berjalan seadil mungkin. Karena itu, penyederhanaan mekanisme lempar koin dinilai sebagai langkah yang relatif sederhana, tetapi berpotensi menciptakan keseimbangan yang lebih baik bagi kedua tim.
Kesimpulan
Apabila usulan ini disetujui, fase gugur Piala Dunia 2026 bisa menjadi ajang pertama yang menggunakan sistem adu penalti dengan satu kali lempar koin, sekaligus menandai perubahan signifikan dalam salah satu momen paling menegangkan di dunia sepak bola.



