Wisata Alam Bukit Tanjung Cinta Eputobi di Flores Timur
Bukit Tanjung Cinta Eputobi berada di Desa Lewoingu, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh para pengendara maupun petualang yang melintasi jalur Trans Flores. Lokasinya berada di rute Larantuka-Maumere dan menawarkan pemandangan alam yang memukau.
Setiap pengguna jalan yang melewati area ini biasanya memilih untuk berhenti sejenak guna menikmati keindahan alam yang tersaji. Di sini, pengunjung dapat mengagumi lanskap perairan Tanjung Eputobi yang tenang serta melihat eksotisme hutan bakau, Pulau Konga, Pulau Solor, hingga kemegahan Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan.
Di kawasan ini, pengunjung juga bisa memulihkan stamina dengan menikmati segelas kopi hangat atau kesegaran kelapa muda yang dijajakan oleh para pelaku UMKM setempat. Selain itu, terdapat fasilitas pondokan kayu tradisional (lopo-lopo) yang didirikan oleh warga lokal dan menghadap langsung ke arah perairan Tanjung Eputobi.
Berbagai Pilihan Menu yang Menarik
Selain minuman kopi, pelancong juga bisa memesan aneka kudapan tradisional seperti jagung titi, jagung tembak, kacang tanah, keripik singkong, pisang goreng, kerepe, buah nanas, rambutan, jambu, hingga menu mi instan. Hal ini membuat kawasan ini semakin diminati oleh pengunjung.
Elisabeth Kelang adalah salah satu dari belasan pelaku UMKM yang menjual produk lokal di kawasan ini. Ia menyuguhkan kopi Leworok yang merupakan hasil budidaya masyarakat Titehena. Produk-produk yang ia jual berasal dari hasil keringat suaminya yang bercocok tanam di kebun, yang lokasinya tidak jauh dari pemukiman mereka di Desa Lewoingu.
Konsep lapak milik Elisabeth didesain terbuka menghadap langsung ke bentangan alam luas, sehingga membuat para pelancong betah menghabiskan waktu sembari menyeruput kopi dan mengunyah renyahnya jagung titi.
Kehidupan Ekonomi di Kawasan Wisata
Maria Goreti Tukan, pelaku UMKM lainnya di kawasan tersebut, tampak cekatan meracik kopi pesanan dari beberapa pembeli yang datang. Sudut kedai miliknya dipercantik dengan pajangan tanaman hias bonsai atau miniatur pohon.
Serupa dengan Elisabeth, Maria juga konsisten memasarkan kuliner lokal seperti buah pisang, kacang goreng, serta keripik ubi. Dalam kurun waktu sehari, para ibu tangguh penyokong ekonomi keluarga ini sanggup mengantongi omzet berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp 600 ribu. Aktivitas perdagangan di kawasan wisata Tanjung Cinta Eputobi ini sendiri dimulai sejak pukul 07.00 Wita sampai dengan pukul 20.00 Wita.
“Awalnya masih kecil, tempatnya juga kami bangun sederhana, atap pakai alang-alang. Sekarang sudah mulai berkembang. Kami juga menyediakan toilet yang tarifnya Rp 3.000 per orang,” papar Maria Goreti.
Menurut penuturannya, di samping dikunjungi oleh masyarakat domestik, tempat peristirahatannya tersebut juga rutin disinggahi oleh rombongan turis mancanegara yang berwisata secara konvoi. Maria optimis usaha mikro di area ini akan kian maju lantaran para wisatawan selalu dibuat takjub oleh keindahan alam sekitar.
“Ngopi di rumah itu memang sering, tapi kalau di alam terbuka akan beda. Kes kesan lebih menarik,” tambahnya.
Pengalaman Pengunjung
Seorang pengunjung bernama Ricky Daton membagikan ceritanya saat hendak melakukan perjalanan pulang menuju Desa Bokang Wolomatang seusai merampungkan urusan di Kota Larantuka. Bagi Ricky, Bukit Tanjung Cinta Eputobi sudah menjadi titik transit wajib setiap kali dirinya melintas pergi maupun pulang.
“Panorama alam di sini sangat lengkap, ada gunung, gugusan pulau, laut, hutan. Kita juga bisa melihat aktivitas nelayan mencari ikan,” terang Ricky Daton.
Menurut pengamatannya, beberapa tahun silam titik lokasi ini terhitung sangat sepi akibat belum adanya geliat aktivitas ekonomi dari warga. Namun, semenjak para ibu lokal mulai berinisiatif membuka usaha kedai, area ini menjelma menjadi pusat transit para pelintas jalan yang selalu diwarnai keramaian serta gelak tawa.
“Orang-orang selalu singgah. Dari sini kita bisa lihat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki yang sesekali erupsi. Alam di sini sangat mewah,” tutup Ricky.



