Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 23 September 2026
Trending
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
  • ShopeeVIP+ ‘Sekali langganan, dapat semua’, bisa dapat akses Netflix!
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»Tiga Kali Nonton Film Pesta Babi, Pendeta HKBP Daniel Harahap Buka Akar Masalah Papua
Hiburan

Tiga Kali Nonton Film Pesta Babi, Pendeta HKBP Daniel Harahap Buka Akar Masalah Papua

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover30 Mei 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pendeta HKBP Daniel Taruliasi Harahap Menyebut Korupsi sebagai Akar Masalah Papua

Pendeta HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Daniel Taruliasi Harahap menyampaikan pernyataan tajam mengenai korupsi sebagai akar utama masalah yang terjadi di Papua dan Indonesia. Pernyataan ini disampaikan setelah ia menonton film dokumenter Pesta Babi bersama dosen dan mahasiswa di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta.

Film tersebut menjadi bahan diskusi mendalam tentang isu-isu penting seperti ketidakadilan, konflik agraria, serta praktik korupsi yang dinilai telah merambat ke berbagai lapisan masyarakat. Daniel mengaku telah menonton film tersebut sebanyak tiga kali, sehingga memperkuat keyakinannya bahwa korupsi adalah penyebab utama dari penderitaan rakyat Papua.

“Saya sudah sampai pada kesimpulan: akar dari masalah Papua dan Indonesia adalah korupsi. Sekali lagi: korupsi,” ujarnya dengan tegas. Ia menegaskan bahwa korupsi tidak hanya terjadi di pemerintahan atau lembaga hukum, tetapi juga telah merambah ke institusi militer, pendidikan, hingga lembaga keagamaan.

Korupsi yang Merambat ke Berbagai Lembaga

Daniel menyoroti bahwa korupsi tidak hanya terjadi di tingkat pemerintah, tetapi juga di parlemen, lembaga peradilan, dan aparat penegak hukum. Bahkan, ia menemukan adanya kejahatan keuangan di lembaga keagamaan, masyarakat, dan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa korupsi telah menjadi sistem yang sulit dihilangkan.

Menurutnya, korupsi menciptakan ketidakadilan yang berkepanjangan, termasuk dalam konflik perebutan tanah dan hutan yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat lokal. Ia juga menyebut bahwa jeritan masyarakat Papua harus didengar, terutama dalam situasi di mana mereka dianggap terpinggirkan oleh pihak-pihak tertentu.

Pengalaman Pribadi di Papua

Daniel juga berbagi pengalaman pribadinya saat tinggal di pedalaman Papua pada tahun 1986. Selama dua setengah bulan, ia tinggal di lembah Yali, tepatnya di Kosarek, wilayah yang berjarak sekitar setengah jam penerbangan dari Wamena. Meski belum pernah mengunjungi Papua Selatan atau Merauke, pengalaman tersebut membuatnya memiliki ikatan emosional dengan penderitaan masyarakat setempat.

Ia mengungkapkan bahwa ia turut berdoa agar jeritan dan air mata rakyat Papua didengar, terutama dalam konteks konflik lahan dan hutan yang menjadi sumber kehidupan warga lokal. Ia juga menyebut simbol salib merah yang kini didirikan oleh masyarakat Papua Selatan di ribuan titik sebagai bentuk perlawanan terhadap pihak-pihak yang dianggap merampas ruang hidup mereka.

Gereja Diingatkan untuk Tetap Jujur dan Sederhana

Dalam refleksinya, Daniel memberikan kritik terhadap gereja dan para pelayan agama. Ia mengingatkan bahwa gereja bisa dengan mudah dijinakkan oleh kekuasaan jika tergoda kemewahan dan kepentingan finansial. Ia menyerukan kepada para pelayan gereja untuk kembali hidup jujur dan sederhana, bukan mimpi hidup bergelimang kemewahan.

Menurut Daniel, ketika gereja kehilangan integritas moral, maka institusi keagamaan berpotensi diperalat untuk membenarkan ketidakadilan atas nama pembangunan, persatuan, maupun proyek energi. Ia menegaskan bahwa jika tidak waspada, gereja dan pelayannya akan mudah disuap, dijinakkan, dan diperalat membenarkan penindasan dan ketidakadilan di Papua dan Indonesia.

Film Pesta Babi dan Sorotan terhadap Papua

Film Pesta Babi mengangkat berbagai isu sosial di Papua Selatan, termasuk konflik lahan, hubungan antara masyarakat adat dengan negara, serta dampak proyek pembangunan terhadap ruang hidup warga lokal. Dokumenter ini kembali memperluas perdebatan publik mengenai situasi Papua, mulai dari isu lingkungan, hak masyarakat adat, hingga kritik terhadap praktik kekuasaan dan pembangunan nasional.

Pernyataan Daniel kini ikut mempertegas bahwa persoalan Papua bukan hanya soal keamanan dan politik, tetapi juga menyangkut krisis moral, ketimpangan, dan korupsi yang dinilai telah mengakar di Indonesia.

Simbol Salib Merah sebagai Bentuk Perlawanan

Saat ini, masyarakat Papua Selatan dilaporkan telah mendirikan tanda salib merah di 1.800 titik tanah adat mereka. Ribuan salib itu berdiri kokoh bukan sekadar sebagai simbol ritus keagamaan, melainkan sebagai monumen perlawanan rakyat jelata yang sedang dikepung dan digusur oleh penguasa perampas hutan kehidupan mereka.

“Kiranya Kristus mendengar jeritan dan air mata Rakyat dan Tanah Papua, dengan atau tanpa melibatkan gereja-gereja,” pungkas Daniel menutup refleksinya.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gagasan Soekarno dan Tan Malaka dalam Seni Peran di GKJ

31 Agustus 2026

Profil Karakter Legendaris: Frank-N-Furter, Pennywise, dan Home Alone 2

31 Agustus 2026

Terjemahan lirik lagu September – Daughtry: Kami tahu kami harus pergi dari kota ini, tapi tidak tahu kapan

31 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?