Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 29 Mei 2026
Trending
  • Sakelar & Stopkontak Vivace E: Sentuhan Kecil, Tampilan Rumah Lebih Indah
  • Raperda Film DIY: Ekosistem Film Lebih dari Sekadar Industri, Bertujuan Berkembang hingga Kalurahan
  • Honda BeAT CBS 2024: Teknologi CBS dan Mesin Irit
  • 5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan Bulan Mei 2026, Performa Tangguh untuk Mid-Level
  • 50 Soal PJOK Kelas 1 Semester 2 Kurikulum Merdeka + Kunci Jawaban UAS, PAS, PAT, PSAJ
  • 10 Makna Mimpi Kecelakaan, Tanda Kesuksesan Mendekat
  • Iran Akui AS Langgar Gencatan Senjata Usai Serangan di Selat Hormuz
  • KONI Pusat: PON Jadi Fondasi Prestasi Indonesia
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Kasus Pemalsuan Riset, LPDP Akui Prihantini Lulusan 2022
Politik

Kasus Pemalsuan Riset, LPDP Akui Prihantini Lulusan 2022

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover29 Mei 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pengakuan LPDP Terkait Prihantini

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) telah mengonfirmasi bahwa Prihantini adalah salah satu alumni penerima beasiswa yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022. Nama Prihantini muncul sebagai terduga pelaku pemalsuan identitas dan riset dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17 hingga 21 Mei 2026.

Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, M. Lukmanul Hakim, menyatakan bahwa lembaga tersebut masih melakukan penelaahan lebih lanjut terhadap informasi yang beredar. Proses ini mencakup verifikasi data dan fakta yang relevan.

“Berdasarkan pengecekan awal data internal, yang bersangkutan atas nama Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022,” ujar Lukmanul melalui pesan tertulis, Selasa, 26 Mei 2026.

LPDP juga akan meninjau lebih lanjut apakah Prihantini memenuhi kewajiban kontrak beasiswa melalui koordinasi dengan perguruan tinggi. Hasil dari pendalaman ini akan menjadi dasar bagi LPDP untuk menentukan tindak lanjut berikutnya.

“LPDP mengapresiasi perhatian publik dan berkomitmen untuk terus menjaga akuntabilitas serta kehormatan komunitas akademik Indonesia di tingkat global,” ujar dia.

Dugaan Manipulasi Riset

Mengenai dugaan manipulasi riset oleh Prihantini, LPDP menegaskan bahwa lembaga tersebut berkomitmen untuk menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, serta etika akademik. Lukmanul menyatakan bahwa LPDP tidak mentoleransi apa pun bentuk pelanggaran kegiatan ilmiah.

Dugaan ini sebelumnya diungkap oleh epidemiolog Wa Ode Dwi Daningrat yang turut berpartisipasi dalam konferensi ilmiah itu, mewakili tim Oxford University. Menurut Dwi, ia menangkap basah perempuan bernama asli Prihantini mengaku sebagai Dimas Fajar Prasetyo ketika mempresentasikan penelitian secara lisan di hari kedua untuk segmen poster spotlight.

Sebelum Prihantini maju ke podium, ia melepas kartu nama yang bertuliskan Riana Dwi Kurniawati dan menggantinya dengan kartu nama Dimas Fajar Prasetyo yang diambil dari tas. “Itu persis di depan mata saya, enggak ada sama sekali sekat. Mungkin mbaknya buru-buru jadi sudah tidak memperhatikan lagi orang di sekitarnya,” kata Dwi saat menceritakan ulang melalui panggilan video pada Selasa, 26 Mei 2026.

Di momen itu Dwi pun menanyakan langsung identitas Prihartini karena merasa janggal, mengapa sosok Dimas bukan seorang lelaki. Kecurigaannya tidak berkurang kala Prihartini mengakui dirinya sebagai Dimas.

Penyamaran Identitas

Dugaan pemalsuan identitas makin diperkuat saat Prihartini ketahuan berganti jilbab kala memasuki ruang section 4 yang dihadiri oleh Dwi. Menurut pengamatan Dwi, Prihantini diduga melapisi jilbab merah dengan kerudung hitam.

Prihantini mengenakan kerudung hitam saat mempresentasikan penelitian berbeda di section 2 dengan mengaku sebagai Riana Dwi Kurniati. Jarak waktu presentasi dua segmen itu berselang 10 menit, kata Dwi. Menurut dia, nama Prihantini tidak tercantum sebagai penulis di abstrak penelitian maupun poster. Namun, nama Prihantini dan Rivaldy Fajar mendadak muncul di materi presentasi.

Setelah sesi presentasi, Dwi meminta Prihantini menjelaskan isi penelitian yang diklaim ditulis lima orang dengan nama Prihantini sebagai penulis utama, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Sa’adah, Riana Dwi Kurniati, dan Rivaldy Fajar selaku pemimpin tim. Dwi menilai Prihantini tidak mampu menjelaskan bagaimana abstrak maupun poster penelitian mereka tentang vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PVC).

Dugaan Fabrikasi Data

Dwi mengatakan ia tidak bisa memastikan keaslian identitas Dimas, Aminatus, dan Riana karena tidak menemui mereka di lokasi. Sedangkan komunikasi dengan Rivaldy saat kejadian melalui panggilan video lewat telepon Prihartini. Setelah didesak oleh Dwi, Prihartini mengakui bahwa ia bukan Dimas maupun Riana sebagaimana pengakuannya di depan ilmuwan mancanegara yang mengikuti konferensi.

“Yang bikin saya sangat concern sekali sehingga saya melaporkan adalah hasil penelitian-penelitian mereka tentang vaksin sangat besar dan hasil-hasil penelitian mereka memang bombastis,” kata Dwi.

Menurut pengakuan Prihantini kepada Dwi, lima orang tersebut mengirimkan 19 judul abstrak dengan skala penelitian yang luas serta membutuhkan kerja sama (konsorsium) lintas negara. Misalnya lokasi penelitian yang tercantum di Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, hingga Nepal tanpa adanya persetujuan etik maupun kolaborasi dengan peneliti setempat.

Dwi juga menilai abstrak dan poster mereka terindikasi berisi fabrikasi data dan ditulis dengan akal imitasi atau AI generated karena mustahil menghasilkan hasil penelitian sempurna tanpa disengaja. Dugaan sementara, Prihantini dan Kawan-kawannya ingin mendapatkan dana hadiah bepergian ke luar negeri untuk mengikuti konferensi (travel grants) tanpa benar-benar melakukan penelitian.

Tindakan Lanjutan

Dwi menuturkan, panitia ISPPD 2026 telah membatalkan fasilitas travel grants untuk kelompok Prihantini pada 21 Mei setelah kejadiannya dilaporkan pada 19 Mei 2026.

Kelompok riset Prihartini ditengari telah mengikuti konferensi lain seperti International Conference on Resource Sustainability 2025 di University of Adelaide, Australia, kemudian ajang Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, Jepang, hingga Asian Pacific Association for the Study of the Liver Single Topic Conference 2025 di Tokyo, Jepang.

Dugaan pemalsuan riset dan identitas ini telah disuarakan Dwi di media sosial bersama Ida Bagus Mandhara Brasika, dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, yang sedang menjalani studi doktoral Matematika Iklim di Universitas Exeter. Dwi serta Mandhara berpendapat, tindakan Prihantini dan kawan-kawannya mencoreng integritas peneliti Indonesia di mata internasional.

Ida Bagus Mandhara Brasika mengatakan bahwa dugaan pemalsuan identitas dan riset merupakan pelanggaran etik berat di dunia akademik. Dia berharap apa yang diduga dilakukan Prihantini dan Rivaldy setidaknya mendapat sanksi sosial, karena belum ada sistem pelaporan pelanggaran akademik di Indonesia.

“Kejadian seperti ini sebenarnya cuma puncak gunung es. Dan karena tidak ada fasilitas ini makanya kami juga buat postingan itu ya, mungkin hanya ini yang bisa kami kasih, berupa tekanan sosial,” tutur Mandhara.

Tempo belum bisa menghubungi Prihantini dan Rivaldy Fajar lantaran media sosial keduanya menghilang setelah kasus ini viral. Namun, melalui akun Thread dan Instagram, Rifaldy sempat mengunggah konten yang menyebutkan ia sedang menyusun klarifikasi bersama peneliti lain. Konten yang diunggah pada Senin, 25 Mei kemarin itu juga lenyap lantaran Rifaldy menutup akunnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Iran Akui AS Langgar Gencatan Senjata Usai Serangan di Selat Hormuz

29 Mei 2026

Jaminan SPMB 2026 Transparan dan Objektif, Disdikpora Denpasar Berkomitmen Bersama

29 Mei 2026

Prabowo Beli 1.098 Sapi Kurban dengan APBN Rp100 Miliar, Salat Idul Adha di Prancis

29 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sakelar & Stopkontak Vivace E: Sentuhan Kecil, Tampilan Rumah Lebih Indah

29 Mei 2026

Raperda Film DIY: Ekosistem Film Lebih dari Sekadar Industri, Bertujuan Berkembang hingga Kalurahan

29 Mei 2026

Honda BeAT CBS 2024: Teknologi CBS dan Mesin Irit

29 Mei 2026

5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan Bulan Mei 2026, Performa Tangguh untuk Mid-Level

29 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?