Presiden Prabowo Subianto Beli Ribuan Sapi Kurban dengan Anggaran APBN
Presiden Joko Widodo, atau lebih dikenal sebagai Prabowo Subianto, diketahui membeli ribuan ekor sapi kurban untuk perayaan Idul Adha 2026 menggunakan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Fakta ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, yang menyebutkan bahwa total anggaran yang digunakan mencapai sekitar Rp100 miliar.
Menurut Juri, jumlah sapi yang dibeli adalah sebanyak 1.098 ekor. Sumber anggaran tersebut berasal dari Bantuan Presiden dan Bantuan Kemasyarakatan Presiden. Ia menjelaskan bahwa sapi-sapi ini berasal dari peternak lokal dan akan dibagikan ke berbagai kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Harga setiap sapi juga bervariasi tergantung pada bobot dan lokasi. Meski demikian, anggaran yang dialokasikan secara keseluruhan berkisar antara Rp100 miliar. “Harga sapi tentu bervariasi karena bobotnya beda-beda dan lokasinya juga mempengaruhi harga sapi,” jelas Juri.
Sapi-sapi yang dibeli termasuk dalam kategori premium dengan bobot yang cukup berat seperti Simental, Limousin, Peranakan Ongole, Brahman, Angus, sapi Bali, FH, Belgian Blue, dan Carolaise. Seluruh sapi tersebut telah dipastikan sehat dan memenuhi syarat agama Islam sebagai hewan kurban.
Juri merincikan bahwa 598 ekor sapi akan dibagikan ke seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia, sedangkan 500 ekor lainnya diserahkan kepada lembaga sosial, keagamaan, pondok pesantren, serta tokoh-tokoh masyarakat. Total keseluruhan sapi yang dibagikan mencapai 1.098 ekor.
Salat Idul Adha di Perancis
Selain melakukan pembelian sapi kurban, Presiden Prabowo Subianto juga dikabarkan akan melaksanakan ibadah salat Idul Adha di Perancis. Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro mengatakan bahwa Prabowo telah tiba di Perancis dan masih berada di sana saat Hari Raya Idul Adha jatuh pada 27 Mei 2026.
Kunjungan kerja ke Perancis ini merupakan balasan atas kunjungan kenegaraan Presiden Perancis Emmanuel Macron ke Indonesia tahun lalu. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Perancis, yang semakin berkembang melalui intensitas hubungan dan kedekatan kedua presiden.
Sebelumnya, kedua kepala negara pernah melakukan beberapa pertemuan, yaitu pada 14 Juli 2025, 23 Januari 2026, dan 14 April 2026. Dalam kunjungan ini, kedua presiden akan mengumumkan keinginan bersama untuk meningkatkan hubungan bilateral menuju Comprehensive Strategic Partnership. Hal ini mencerminkan pentingnya Indonesia dan Perancis bagi satu sama lain di tengah ketidakpastian global.
Selama berada di Paris, Prabowo dijadwalkan akan menjalani sejumlah agenda resmi untuk memperkuat hubungan kerja sama kedua negara. Dalam pertemuan bilateral, akan dibahas penguatan kerja sama di berbagai bidang strategis, antara lain pertahanan, energi terbarukan, mineral kritis, pendidikan, sains, dan inovasi.
Kunjungan kenegaraan ini juga diharapkan dapat membangun kemitraan yang semakin berimbang dan memberi manfaat nyata bagi pembangunan nasional, terutama dalam penguatan ekosistem industri, investasi hilirisasi, penguasaan teknologi, serta inovasi untuk industri masa depan.
Indonesia dan Perancis memiliki posisi penting dalam hubungan antar kawasan. Indonesia dinilai menjadi salah satu mitra utama Eropa di kawasan Asia, sementara Perancis memiliki peran strategis sebagai penghubung hubungan Asia Tenggara dengan Eropa.
Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa peningkatan kemitraan yang dilakukan tidak hanya memperkuat diplomasi ketahanan kedua negara, tetapi juga menegaskan komitmen bersama untuk perdamaian serta tatanan dunia berbasis aturan.
Sebelum memulai agenda resmi kenegaraan, Prabowo dijadwalkan akan melaksanakan shalat Idul Adha dan bersilaturahmi dengan warga negara Indonesia di Wisma KBRI Paris. Sebagai informasi, Prabowo tiba di Bandara Orly, Paris, sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat atau pukul 15.00 WIB, usai menempuh perjalanan udara selama sekitar 16 jam.
Saat tiba, Prabowo disambut langsung oleh Menteri Tenaga Kerja dan Solidaritas Perancis Jean-Pierre Farandou dan juga pasukan jajar kehormatan.



