Kunjungan Wakil PM Laos ke Indonesia
Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, menerima kunjungan kehormatan dari Wakil Perdana Menteri (PM) Republik Demokratik Rakyat Laos, Thongsavan Phomvihane, di Istana Wapres, Jakarta Pusat, pada hari Selasa (05/05/2026). Kehadiran tamu negara tersebut disambut dengan penampilan Tari Pendet dari Bali yang dibawakan oleh para penari dari sanggar Perkumpulan Seni Budaya Khatulistiwa.
Tarian ini dikenal sebagai tarian penyambutan yang mencerminkan sikap penghormatan serta ketulusan dalam menerima tamu. Dengan iringan musik tradisional sasando, momen ini menjadi kesempatan bagi Wapres Gibran untuk memperkenalkan budaya Nusantara kepada tamu negara.
“Terima kasih atas kedatangannya,” ujar Gibran kepada Wakil PM Phomvihane.
Dalam pertemuan tersebut, hadir pula Duta Besar Republik Demokratik Rakyat Laos untuk Indonesia, Khamfeuang Phanthaxay, Direktur Jenderal Departemen Asia-Pasifik dan Afrika, Bounthanongsack Chanthalath, serta Direktur Jenderal Departemen ASEAN, Sengdavanh Vongsay. Sementara itu, Gibran didampingi oleh Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN, Aminuddin Ma’ruf, Wakil Menteri Luar Negeri, M. Anis Matta, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Santo Darmosumarto, serta Plt. Sekretaris Wapres, Al Muktabar.
Memperkuat Hubungan Diplomatik yang Berlangsung Selama Puluhan Tahun
Pertemuan ini menandai hubungan diplomatik antara Indonesia dan Laos yang hampir mencapai 70 tahun pada 2027. Hal ini sejalan dengan upaya Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemitraan strategis dengan negara-negara sahabat di kawasan, termasuk Laos. Secara historis, Indonesia dan Laos memiliki kedekatan geografis serta hubungan bilateral yang erat. Sebagai sesama anggota ASEAN, kedua negara juga memegang peran strategis dalam memperkuat solidaritas dan kolaborasi kawasan.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) M. Anis Matta menyampaikan bahwa kerja sama antar negara ASEAN sangat penting di tengah dinamika geopolitik saat ini. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menegaskan pentingnya penguatan kerja sama regional sebagai respons terhadap tantangan global.
“Di tengah goncangan geopolitik yang ada sekarang ini, faktor geografi ini memainkan peranan yang sangat penting. Karena itu, penguatan kerja sama ASEAN dan di sini Laos konteksnya sangat penting sekali,” ujar Anis Matta usai pertemuan.
Hasil Utama dari Pertemuan
Anis Matta menjelaskan bahwa terdapat tiga isu utama yang dibahas dalam pertemuan dua pejabat tinggi negara tersebut, yaitu ekonomi, keamanan, dan politik. Dalam hal keamanan, isu yang dibahas berkaitan dengan kejahatan lintas negara serta perlindungan warga negara. Salah satunya adalah kasus scam yang melibatkan Warga Negara Indonesia (WNI).
Sementara itu, fokus kerja sama di bidang ekonomi ditujukan untuk mendukung agenda prioritas Presiden dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional sebagai fondasi ketahanan strategis negara. Investasi yang direncanakan di Laos berhubungan dengan agenda prioritas pemerintah yaitu ketahanan pangan.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Aminuddin Ma’ruf, menyampaikan arahan Gibran terkait ketahanan pangan yaitu penjajakan peluang investasi hilirisasi di sektor pupuk.
Kerja Sama di Sektor Pupuk dan Potensi Kolaborasi Lainnya
Kerja sama ini dilandasi oleh potensi yang saling melengkapi antara RI dan Laos. Detailnya, Laos memiliki potensi besar komoditas potas, sementara Indonesia membutuhkan bahan baku tersebut untuk produksi pupuk. Kondisi ini menjadikan kolaborasi kedua negara strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong hilirisasi industri.
Adapun, secara spesifik wujud kerja sama ini bakal dilakukan dengan kans PT Pupuk Indonesia berinvestasi di Laos. “Salah satu topik utama yang dibahas memang kemungkinan PT Pupuk Indonesia berinvestasi di Laos,” ujar Aminuddin.
Sementara itu, Laos nantinya akan memasok bahan baku pupuk berupa Potas. Kebutuhan tersebut semakin relevan mengingat Indonesia masih mengimpor bahan baku pupuk berupa potas dari Laos dengan nilai sekitar 60 juta dolar AS per tahun.
Selain sektor pupuk, peluang kerja sama juga terbuka di bidang lain, seperti infrastruktur melalui BUMN Karya, pertambangan, serta sektor pertahanan. Namun, seluruh rencana masih dalam tahap awal dan akan ditindaklanjuti melalui pembahasan lanjutan antara kedua pihak. “Ini kan baru pertemuan pertama ya antara pimpinan negara. Nanti kami, Bapak Wamenlu juga sudah berkoordinasi, tadi sudah menyampaikan kepada Dubes Laos yang untuk Indonesia, untuk kami jajaki follow-up meeting selanjutnya, yang nanti kami juga akan melibatkan BUMN-BUMN terkait langsung,” pungkas Aminuddin.



