Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 5 Mei 2026
Trending
  • Cara sederhana merawat motor matic agar awet
  • Fakta Menarik: Gajah Mendengar Suara dari Jarak 32 KM dengan Kaki
  • Tampil Mengesankan, Kurzawa Siap Main Lagi Saat Persib Lawan PSIM, Ini Ucap Bojan Hodak
  • Daftar Tugas ART di Rumah Andre Taulany, Gaji Rp3 Juta, Kerja Harus Sempurna: Sering Dihukum
  • Tetap Menari ke Toilet, Baltazar Ikut Banyumas Ngibing 24 Jam
  • Menteri Natalius Pigai Usulkan Tim Asesor Aktivis HAM, Apa Kontroversinya?
  • Baru terungkap, Anisa Tumanggor rencanakan pembunuhan seluruh keluarga korban
  • Pengumuman UKT Camaba UIN Saizu Jalur SPAN-PTKIN 2026, Jadwal Sanggah dan Pembayaran
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»Ketika Seni Mengungkap Krisis E-Waste di Indonesia
Hiburan

Ketika Seni Mengungkap Krisis E-Waste di Indonesia

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 Mei 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Karya Seni Instalasi dari E-Waste

Angelika Saraswati, seorang seniman Gen Z, mengubah e-waste atau limbah elektronik menjadi karya instalasi seni. Lewat karyanya, ia menyisipkan pesan tentang kesadaran lingkungan, terutama soal sampah elektronik.

Tumpukan motherboard, kabel, hingga komponen hasil bongkaran televisi, laptop, dan telepon genggam tak berakhir di tempat sampah. Di sebuah studio seni bernama Asarasa, Jakarta Selatan, limbah teknologi itu justru mendapat kehidupan baru.

Di sana, Angelika Saraswati, sang pemilik studio sekaligus seniman muda, tengah sibuk merangkai papan sirkuit dan kabel-kabel bekas. Tidak untuk direparasi, melainkan melahirkan karya seni instalasi yang provokatif.

Baginya, e-waste atau limbah elektronik yang berdampak buruk bagi lingkungan menjadi inspirasi utama dalam berkarya. “E-waste di Indonesia ini masih dibuang sembarangan dan tidak dikelola dengan baik, bahkan ada yang terkubur di tanah karena termasuk golongan bahan beracun dan berbahaya tentunya dapat meracuni tanah di mana pohon tumbuh,” ungkap Angelika.

Kesadaran lingkungan itu tumbuh sejak kecil. Keluarga Angelika sudah menerapkan 3R (reduce, reuse dan recycle) yang membuatnya terbiasa untuk mengelola dan mengurangi sampah dari lingkungan rumahnya. Sementara, darah seni yang mengalir dari kakek dan neneknya pun muncul seiring perhatiannya terhadap isu lingkungan semakin besar.

“Sejak kuliah aku ikut mahasiswa pecinta alam. Dari situ merasa harus berkontribusi menjaga lingkungan walaupun kecil. Jadi aku mulai mencoba mendaur ulang plastik menjadi aksesoris, lebih jauh lagi aku kembangkan dan membuat karya seni dari e-waste.”

Baginya, seni jadi langkah kecil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya mengelola sampah, khususnya sampah elektronik.

Seni Instalasi dari E-Waste

Kini, Angelika telah membuat empat karya seni instalasi dari e-waste yang ia kerjakan sejak akhir tahun 2025. Empat karya tersebut berjudul “Human Tree”, “Poisoned Tree”, “Disconnected Ground”, dan “Hands”. Perempuan lulusan program studi Jurnalistik ini menuturkan, “Empat instalasi itu semuanya berhubungan. Filosofinya adalah manusia menggunakan barang elektronik yang nantinya menjadi limbah, tapi mereka tidak bertanggung jawab dalam menanggulanginya. Di sisi lain, masih ada harapan dari tangan-tangan yang mau mencari solusi dari kerusakan alam akibat sampah elektronik.”

Selain limbah elektronik pribadi, ia mendapatkan bahan baku untuk karyannya dari komunitas pengelola limbah elektronik bernama E-waste RJ.

Dalam proses kreatifnya, Angelika berusaha memanfaatkan hampir seluruh bagian perangkat, dari komponen terkecil hingga bagian besar yang sulit dibongkar. “Perlu waktu 3 hari untuk pembongkaran, bahkan sampai membongkar TV, laptop, hingga kipas angin untuk memanfaatkan komponen kecil di dalamnya,” ungkapnya.

Bukan tanpa risiko, proses tersebut juga memiliki potensi risiko kesehatan. Karena itu, Angelika mewajibkan seluruh tim memakai masker dan sarung tangan saat bekerja. “Semua harus pakai demi keselamatan. Kami khawatir ada baterai bocor yang bisa berdampak ke kesehatan.”

Setelah proses yang panjang, hasil karya Angelika kini dipamerkan di berbagai lokasi, mulai dari sekolah hingga pusat perbelanjaan di Jakarta. Misalnya, karya dengan judul “Poisoned Tree” yang terpampang di SDN 07 Kebon Baru, Jakarta Selatan.

Edyana Nugraha, guru di sekolah itu, berharap karya yang dipasang di ruang perpustakaan sekolah dapat menggugah kesadaran anak-anak agar lebih peduli terhadap lingkungan.

“Karya ini diharapkan memantik anak-anak untuk menggali wawasan terkait pengelolaan sampah khususnya e-waste untuk nantinya diterapkan dalam kegiatan sehari-hari,” pungkas Edyana.

Indonesia Darurat E-Waste

Menurut laporan Global E-Waste Monitor 2024, Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton limbah elektronik per tahun, menjadikannya penghasil e-waste terbesar di Asia Tenggara. Estimasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2022, Indonesia menghasilkan sekitar 2 juta ton sampah elektronik per tahun, baru 17,4% yang berhasil terkelola.

Situasi ini berpotensi semakin buruk. Prediksi yang dilaporkan dalam Future E-Waste Scenarios tahun 2019, jumlah e-waste di Asia diperkirakan bisa meningkat hingga tiga kali lipat pada 2050 jika tidak ada perhatian serius terhadap pengelolaannya.

Sebagian besar e-waste di Indonesia masih ditangani sektor informal yang minim perlindungan kesehatan dan lingkungan. Praktik pembongkaran manual tanpa standar keselamatan berisiko melepaskan zat beracun ke udara, tanah, dan sumber air, sekaligus membahayakan para pekerjanya.

Dampaknya memang tidak selalu terlihat seketika, tetapi bersifat kumulatif dan jangka panjang. Karena itulah krisis ini kerap luput dari perhatian.

Membangun Kesadaran Lingkungan Lebih Lanjut

Sebagai seniman Gen Z, Angelika menaruh harapan besar pada peran anak muda dalam menghadapi krisis lingkungan, termasuk e-waste. Ia melihat generasinya bukan hanya sebagai konsumen teknologi, tetapi juga agen perubahan.

“Anak muda harus lebih bertanggung jawab dengan limbah yang mereka hasilkan. Hal kecil seperti memilah sampah untuk diberikan ke bank sampah, mendaur ulang dan mengompos akan memberi dampak baik di masa depan,” ungkapnya kepada DW Indonesia.

Ia juga menyoroti pola konsumsi yang serba cepat mengikuti tren yang terus berganti, “Kenapa kita harus selalu updated dengan gawai-gawai terbaru? Padahal gawai yang kita gunakan masih bisa berfungsi dengan baik. Kalau rusak, lebih baik coba perbaiki dulu atau pertimbangkan membeli barang elektronik yang bekas, tapi masih layak guna.”

Di tangan Angelika Saraswati, limbah elektronik tak lagi sekadar tumpukan sisa teknologi. Ia disusun ulang menjadi pengingat bahwa setiap perangkat yang kita gunakan meninggalkan jejak yang tak berhenti saat barang itu rusak.

Perempuan ini berharap karya-karyanya tidak berhenti sebagai objek seni yang hanya bisa dilihat, tetapi bisa menggeser cara pandang dan memantik tindakan nyata dalam cara masyarakat memperlakukan sampah elektronik.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Sutradara Michael Buka Suara soal Kritik dan Skandal Seksual

5 Mei 2026

6 Artis yang Pernah Alami Kehamilan Kosong

5 Mei 2026

Jadwal Kapal Ferry ASDP Kupang NTT Hari Ini, KMP Ile Ape Berlayar Pukul 17.00

5 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Cara sederhana merawat motor matic agar awet

5 Mei 2026

Fakta Menarik: Gajah Mendengar Suara dari Jarak 32 KM dengan Kaki

5 Mei 2026

Tampil Mengesankan, Kurzawa Siap Main Lagi Saat Persib Lawan PSIM, Ini Ucap Bojan Hodak

5 Mei 2026

Daftar Tugas ART di Rumah Andre Taulany, Gaji Rp3 Juta, Kerja Harus Sempurna: Sering Dihukum

5 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?