Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 28 April 2026
Trending
  • 5 Ide Bisnis Tanaman untuk Sampingan Karyawan, Lihat Daftarnya
  • Jaksa Menyapa: Upaya Kejari Aceh Tengah Cegah Narkoba di Kalangan Remaja
  • Laurier ajak kamu dukung orang tercinta saat menstruasi
  • Prediksi Skor Juventus vs Bologna: Head-to-Head dan Statistik Serie A 2026
  • Dokter Tifa Tak Percaya Gelar Rismon Sianipar, Kesal Jadi Saksi Ahli Ijazah Jokowi
  • Anaknya Rudapaksa Guru, Orang Tua Siswa SMA 1 Purwakarta Menyesal
  • Data pengembang game bocor, ahli IT sarankan dikelola profesional
  • Hanya 30 Unit di Dunia, Aprilia RSV4 Edisi Langka Ludes dalam Hitungan Hari
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»Bukan ‘malas’, penampilan Justin Bieber di Coachella tunjukkan cara kita nikmati musik online
Hiburan

Bukan ‘malas’, penampilan Justin Bieber di Coachella tunjukkan cara kita nikmati musik online

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover28 April 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Setelah empat tahun tidak tampil dalam tur, Justin Bieber kembali mengisi panggung Coachella sebagai penampil utama. Namun, aksinya memicu perdebatan di kalangan penonton dan kritikus. Saat itu, ia membawakan lagu-lagunya sambil diiringi klip YouTube, bahkan ada beberapa bagian di mana ia tidak menyanyikan lirik sama sekali.



Festival Coachella menarik sekitar 125 ribu pengunjung setiap akhir pekan. Selain itu, acara ini juga disiarkan secara langsung melalui saluran YouTube resmi yang memiliki 5,89 juta pelanggan internasional.



Para penonton dan kritikus mulai berdebat: apakah penampilan Bieber merupakan sebuah bentuk pernyataan nostalgia atau justru pertunjukan yang terkesan malas dan tidak menghargai para penggemarnya. Dalam konteks historis, aksi panggung Bieber bisa dilihat sebagai kontribusi yang menarik bagi definisi pertunjukan “langsung” (live).

Apa yang sebenarnya terjadi?

Bagian paling kontroversial dari penampilan Bieber terjadi sekitar 20 menit dari total durasi pertunjukan yang berlangsung selama 90 menit. Coachella dikenal dengan kejutan tamu spesial. Di bagian lain, Bieber membawakan beberapa lagu bersama Dijon, Tems, Wizkid, Mk.gee, dan The Kid Laroi. Sebagian besar set tersebut berjalan seperti biasanya.

Namun, sejak awal sudah ada tanda-tanda bahwa penampilan ini akan berbeda. Setelah membawakan Speed Demon, Bieber menatap langsung ke arah kamera untuk menyapa audiens yang menonton melalui YouTube. Layar raksasa di panggung menampilkan kolom komentar dari siaran langsung tersebut.

Saat pertunjukan memasuki menit ke-50, Bieber kembali menyapa audiens: “Malam ini sangat spesial, tapi aku merasa kita harus membawa kalian dalam sebuah perjalanan. Kalian ingat lagu ini?” Sambil duduk di depan laptop, ia mengetik kata “baby” pada kolom pencarian YouTube yang terpampang di layar. Video klip dari lagu hitnya tahun 2010 itu pun muncul. Bieber kemudian bernyanyi mengiringi video tersebut, tetapi ia sengaja melewatkan beberapa lirik dan di beberapa bagian hanya menggerakkan bibir tanpa suara.

Pertunjukan modern saat ini semakin bergantung pada dukungan backing track (rekaman vokal pendukung), meski sering kali para musisi mencoba menyembunyikan fakta tersebut. Namun, Bieber versi hari ini—sebagai penyanyi latar—terdengar jauh lebih dewasa dibandingkan suaranya yang melengking di masa lalu. Alhasil, pertunjukan ini seolah menjadi semacam duet lintas waktu.

Setelah bagian hook utama selesai, Bieber menghentikan lagu secara tiba-tiba dan kembali pada tema “masa lalu”: “Seberapa jauh kalian ingin kembali?” Ia memutar lagu Favorite Girl (2009) dan kembali bernyanyi di bagian chorus sebelum lagu kembali berakhir mendadak.

Saat menyisir deretan lagu hit YouTube miliknya dengan cepat, Bieber hanya meminta maaf satu kali. Menariknya, permohonan maaf itu bukan karena penggunaan backing track, melainkan karena ia memotong lagu Confident (2013) terlalu cepat: “Maaf aku terpaksa memotongnya, tapi ini hanyalah cuplikan-cuplikan pendek.”

Ia memutar video cover awal kariernya di YouTube saat membawakan lagu-lagu Chris Brown dan Ne-Yo, disusul dengan deretan hit komersialnya, seperti Sorry dan Where Are You Now. Setelah sempat berpura-pura mengalami gangguan koneksi Wi-Fi, fokus beralih ke berbagai referensi budaya populer: sebuah video kompilasi kegagalan (blooper) ditampilkan, termasuk cuplikan ikonik Bieber muda menabrak pintu kaca dan terperosok di panggung, hingga kemarahan terbarunya mengenai privasi dan paparazi.

Sebagai seorang produser pertunjukan langsung dan peneliti teknologi pertunjukan, saya merasa terpesona sekaligus terhibur. Saya bukanlah seorang Belieber, tapi saya menyukai bagaimana penampilan ini mendobrak ekspektasi seputar makna “keaslian” dari sebuah pertunjukan langsung.

Saya bertanya-tanya, apakah para kritikus yang menyebut aksi ini “malas” menyadari bahwa setiap jeda dan lelucon di bagian ini kemungkinan besar telah disiapkan sebelumnya, termasuk adegan mengetik di layar tersebut? Bagaimanapun, terlalu banyak risiko dalam pertunjukan sebesar ini untuk membiarkan segalanya terjadi begitu saja secara kebetulan.

Apa makna pertunjukan musik “live”?

Dalam sejarah pertunjukan musik langsung, sudah banyak para musisi yang berinteraksi dengan rekaman diri mereka sendiri dan memicu kebingungan audiens. Pada tahun 1967, The Doors membawa televisi ke atas panggung untuk menonton penampilan mereka sendiri dalam sebuah acara varietas yang telah direkam sebelumnya. Dekade berikutnya, Kraftwerk merepresentasikan diri mereka sebagai robot alih-alih virtuoso (seseorang yang memiliki kemahiran, teknik, dan bakat luar biasa dalam bermusik). Memasuki abad ke-21, Deadmau5 membongkar kebiasaan dengan menampilkan set pertunjukan pra-rekaman (yang sudah direkam sebelumnya) dalam kancah musik dansa elektronik (EDM).

Dengan menggunakan audio prarekaman atau sequencer sebagai pengganti instrumen yang dimainkan secara langsung, para artis ini mempermainkan ekspektasi penonton tentang apa yang mereka lihat dan bagaimana hal itu terhubung dengan apa yang mereka dengar.

Saat kecil, saya menyaksikan penampilan duet Natalie Cole dengan mendiang ayahnya, Nat King Cole di ajang Grammy 1992. Orang tua saya menganggapnya mengharukan, tapi bagi saya itu tampak menyeramkan. Duet lain dengan musisi yang telah tiada mencakup hologram Tupac Shakur yang “tampil” di Coachella tahun 2012, serta hologram Maria Callas yang “bernyanyi” bersama Melbourne Symphony Orchestra pada 2023.

Hologram-hologram ini menawarkan akses terhadap pertunjukan yang mustahil dilakukan dan berupaya menghidupkan kembali masa lalu. Di satu sisi, penampilan Bieber mencoba melakukan hal serupa saat ia berinteraksi langsung dengan rekaman penampilannya di masa lalu. Ia tidak hanya mengandalkan materi pra-rekaman, tetapi juga sejarah viralitasnya sendiri. Penampilan yang bersifat referensi diri (self-referential) ini terinspirasi langsung oleh konsumsi budaya secara daring. Interaksinya dengan YouTube terasa relevan dan manusiawi, alih-alih berjarak dan malas.

Youtube dan pertunjukan

Sebagai seorang DJ, saya pertama kali menyadari dampak YouTube terhadap cara penyajian sebuah pertunjukan melalui kemunculan kanal Boiler Room—yang menampilkan video para DJ beraksi di tengah kerumunan pengunjung. Lambat laun, estetika dari video-video tersebut memengaruhi bagaimana sebuah pesta klub malam seharusnya terlihat: kelab malam dan festival mulai mengadopsi “set pertunjukan Boiler Room”. Dalam hal ini, DJ dikelilingi oleh audiens yang menari, alih-alih ditempatkan di panggung tinggi yang terpisah.

Meski tren ini melahirkan generasi yang gemar berpose berlebihan, fenomena tersebut menunjukkan bahwa apa yang kita lihat secara daring memengaruhi apa yang disajikan di atas panggung. Bieber membawa pemikiran ini ke hadapan audiens yang jauh lebih besar, menunjukkan keterlibatan nyata dengan eksistensi dirinya dalam budaya populer daring. Pada gilirannya, bagaimana kita bereaksi terhadap penampilan ini mungkin akan memengaruhi format pertunjukan langsung di masa depan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

6 film aksi komedi Korea yang menghibur, penuh tawa dan kejutan!

28 April 2026

Acara Seru di Bandung 25-26 April 2026: Job Fair hingga Konser Bintang Populer

28 April 2026

5 Inspirasi Pop Art Retro untuk Ruang Rumah Penuh Warna

28 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

5 Ide Bisnis Tanaman untuk Sampingan Karyawan, Lihat Daftarnya

28 April 2026

Jaksa Menyapa: Upaya Kejari Aceh Tengah Cegah Narkoba di Kalangan Remaja

28 April 2026

Laurier ajak kamu dukung orang tercinta saat menstruasi

28 April 2026

Prediksi Skor Juventus vs Bologna: Head-to-Head dan Statistik Serie A 2026

28 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?