Jawa Timur — Upaya memperkuat daya saing tenaga kerja Indonesia di kancah internasional terus digencarkan. 10 april 2026 Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menerima kunjungan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KEMENP2MI) dalam rangka membahas penguatan digitalisasi ekosistem kelembagaan vokasi bagi pekerja migran Indonesia.
Pertemuan ini menjadi momentum strategis dalam mendorong transformasi pendidikan vokasi di Jawa Timur agar semakin adaptif, responsif, dan selaras dengan kebutuhan pasar kerja global. Dalam diskusi tersebut, kedua pihak menyoroti pentingnya integrasi sistem pendidikan vokasi dengan standar internasional, termasuk sinkronisasi kurikulum, sertifikasi kompetensi, serta penguatan jejaring kerja sama dengan dunia industri luar negeri.
Aries Agung Paewai menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak dalam meningkatkan kualitas tata kelola pendidikan vokasi. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital mampu mempercepat proses administrasi, meningkatkan transparansi, serta mempermudah pemetaan kompetensi peserta didik secara lebih akurat dan terukur.
“Melalui digitalisasi, kita bisa membangun sistem yang terintegrasi mulai dari proses pembelajaran, pelatihan, sertifikasi, hingga penempatan kerja. Ini penting agar lulusan vokasi kita benar-benar siap bersaing di pasar global,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendidikan vokasi di Jawa Timur harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan adaptasi tinggi, literasi digital, serta penguasaan bahasa asing. Hal ini menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika kebutuhan tenaga kerja di luar negeri yang semakin kompetitif.
Sementara itu, pihak Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia menyampaikan bahwa digitalisasi ekosistem vokasi juga akan memperkuat perlindungan bagi pekerja migran Indonesia. Dengan sistem yang terdigitalisasi, proses pendataan, pelacakan, hingga monitoring pekerja migran dapat dilakukan secara real-time, sehingga meminimalisir potensi permasalahan di lapangan.
Selain itu, digitalisasi juga dinilai mampu meningkatkan akuntabilitas dalam proses penyaluran tenaga kerja ke luar negeri. Setiap tahapan, mulai dari pelatihan hingga penempatan, dapat terdokumentasi dengan baik dan mudah diawasi oleh berbagai pihak terkait.

Dalam pertemuan tersebut, turut dibahas peluang pengembangan platform digital terpadu yang dapat menghubungkan lembaga pendidikan vokasi, lembaga pelatihan kerja, industri, serta pemerintah. Platform ini diharapkan menjadi pusat data dan informasi yang memuat profil kompetensi tenaga kerja, kebutuhan industri global, serta peluang kerja di berbagai negara tujuan.
Kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia ini juga diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas bagi lulusan vokasi untuk bekerja di sektor formal di luar negeri, dengan standar perlindungan yang lebih baik.
Ke depan, Jawa Timur ditargetkan menjadi salah satu pusat unggulan pengembangan pendidikan vokasi berbasis digital di Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sinergi lintas sektor, serta pemanfaatan teknologi yang optimal, lulusan vokasi di Jawa Timur diyakini mampu menjadi tenaga kerja profesional yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berdaya saing tinggi di tingkat global.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, sekaligus memperkuat posisi pekerja migran sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi nasional.(Puji)



