Kehidupan Iman yang Berakar dalam Budaya
Kamis malam, 9 April 2026, halaman Paroki Kristus Raja Wangatoa di Lewoleba, Lembata, berubah menjadi ruang perjumpaan yang hangat antara iman dan budaya. Malam itu, para frater Tingkat III Seminari Tinggi Interdosesan St. Petrus Ritapiret menggelar pentas seni yang memukau. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian live in para frater yang berlangsung sejak tanggal 7 hingga 12 April 2026.
Lampu-lampu sederhana menerangi wajah-wajah umat yang datang dari berbagai lingkungan, duduk berjejer dengan antusias, menunggu sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan. Mereka tidak keliru. Yang ditunggu adalah Pentas seni bertema Iman dan Budaya yang diselenggarakan bersama oleh para Frater Tingkat III Seminari Tinggi Interdosesan St. Petrus Ritapiret dan kelompok SEKAMI Paroki Wangatoa.
Selama sepekan, para frater tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi menyatu dalam denyut kehidupan umat. Itulah artinya live in.
Sejak awal acara, suasana terasa berbeda. Setiap penampilan tidak sekadar menunjukkan kreativitas, tetapi mengandung pesan yang kuat, bahwa iman tidak berdiri di ruang hampa. “Ia hidup, tumbuh, dan menemukan bentuknya dalam budaya.” Demikian kata Fr. Zakri yang menjadi salah satu pemandu acara.
Tarian, musik, drama, hingga simbol-simbol lokal dari berbagai budaya (masing-masing etnis asal para frater), yang dihadirkan dalam setiap segmen, seolah menegaskan bahwa Injil dapat berakar dalam tanah kehidupan masyarakat setempat.
Selaras dengan Reksa Pastoral Paroki
Dalam wawancara terpisah, Pastor Paroki Wangatoa, RD. Pius Laba Buri, mengungkapkan rasa sukacitanya atas terselenggaranya kegiatan ini. Baginya, tema Iman dan Budaya bukan sekadar pilihan artistik, melainkan sebuah arah pastoral yang sedang ia hidupi bersama umat.

Ia mencontohkan bagaimana dalam perayaan Jumat Agung yang lalu, ia mendorong Orang Muda Katolik untuk menampilkan tablo, kisah sengsara Yesus dengan balutan budaya lokal Lamaholot, yaitu dengan menghadirkan Yesus dan tokoh-tokoh Injil dalam busana adat setempat.
RD. Pius menegaskan bahwa apa yang ditampilkan dalam pentas seni ini sejalan dengan semangat yang telah digariskan oleh Konsili Vatikan II, bahwa iman harus “berinkarnasi” (menghadirkan diri) dalam budaya. Menurutnya, integrasi iman dan budaya bukan hanya mungkin, tetapi merupakan cara paling utuh untuk menghidupkan iman itu sendiri, membawa Yesus kepada umat, dan sekaligus membawa umat kepada Yesus.
Ia lalu mengutip sebuah peristiwa penting dalam Injil yang berbunyi demikian: “Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang telah dikatakan-Nya kepada kamu.” (Mrk. 16:7)
Bagi RD. Pius, pernyataan ini mengandung makna pastoral yang dalam. Galilea bukan sekadar tempat geografis, tetapi simbol dari “awal,” tempat di mana segalanya bermula, tempat kehidupan sehari-hari berlangsung, tempat budaya dan identitas manusia terbentuk. “Ia tidak menyuruh mereka langsung ke Yerusalem,” ujarnya.
Dari sini, ia menarik sebuah refleksi yang tajam bahwa dalam memulai pewartaan sebagai umat beriman, kita tidak boleh melompat ke sesuatu yang jauh dari diri kita. Kita justru harus kembali ke akar, kepada apa yang sudah ada dalam diri kita sejak awal. Dan yang paling mendasar dari itu semua adalah budaya.
“Budaya adalah Galilea kita,” demikian kira-kira makna yang ingin ia sampaikan.
Karena itu, baginya, pentas seni ini bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi bagian integral dari reksa pastoral paroki, sebuah upaya konkret untuk menjembatani iman dengan realitas hidup umat.
Seminari Tinggi Ritapiret Berbangga
Kebanggaan juga datang dari RD. Richard Muga, pendamping Tingkat III yang turut hadir mendampingi para frater selama kegiatan live in ini. Dalam wawancara, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap apa yang ditampilkan oleh para frater.

RD. Richard Muga bahkan mengaku tidak menyangka bahwa mereka mampu merancang sebuah acara yang begitu sistematis, dengan tema yang kuat dan eksekusi yang matang. “Sejak kapan kamu (Frater Tingkat III) menyiapkan ini di Seminari Tinggi?” tanyanya setengah retoris, mencerminkan rasa takjub sekaligus bangga.
Baginya, apa yang dilakukan oleh para frater ini bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga menunjukkan kualitas formasi yang mereka terima di Seminari Tinggi Interdosesan St. Petrus Ritapiret, sebuah lembaga pembinaan calon imam yang melayani enam keuskupan di Provinsi Gerejawi Ende.
Ia merasa bahwa melalui kegiatan ini, para frater tidak hanya tampil sebagai individu, tetapi juga membawa nama besar seminari yang mereka wakili. Lebih jauh, RD. Richard berharap bahwa apa yang ditampilkan dalam pentas seni ini tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat. Ia ingin agar pesan yang disampaikan, tentang iman yang hidup dalam budaya, benar-benar memberi dampak bagi perkembangan iman umat.
Ia percaya bahwa ketika iman disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, ia akan lebih mudah diterima dan dihidupi. Di akhir pernyataannya, ia menyebut nama angkatan para frater Tingkat III ini, Evander, angkatan ke-67 Ritapiret. Dengan nada penuh kebanggaan, ia menutup dengan satu kata sederhana namun penuh makna. “Hebat.”
Tanggapan Umat
Kesan mendalam juga datang dari umat yang hadir. Seorang di antaranya Bapak Lorens Leu, yang dengan ramah meluangkan waktu untuk berbagi pengalamannya. Baginya, kehadiran para frater di Paroki Wangatoa merupakan sebuah pengalaman iman yang luar biasa.
Ia merasakan bahwa kegiatan seperti ini membawa suasana baru, menghidupkan kembali semangat beriman, terutama di kalangan kaum muda. Ia berharap bahwa melalui kunjungan ini, semakin banyak anak muda yang tergerak hatinya untuk menanggapi panggilan Tuhan, khususnya dalam panggilan sebagai imam.
“Semoga dengan acara ini, kunjungan para frater ini, membuat banyak anak muda merasa terpanggil,” ungkapnya dengan penuh harap. Harapan ini bukan tanpa dasar. Selama sepekan kehadiran para frater, umat tidak hanya melihat mereka sebagai calon imam, tetapi juga sebagai saudara yang hadir, mendengar, dan berbagi hidup.
Relasi yang terbangun ini menjadi benih yang mungkin suatu hari akan tumbuh dalam bentuk panggilan-panggilan baru. Pada akhirnya, pentas seni ini meninggalkan lebih dari sekadar kenangan. Ia menjadi tanda bahwa ketika iman diberi ruang untuk berdialog dengan budaya, sesuatu yang hidup dan menyentuh dapat lahir.
Di Wangatoa, iman tidak hanya dikhotbahkan dari mimbar, tetapi juga dinyanyikan, ditarikan, dan dipentaskan dalam bahasa yang dimengerti oleh umatnya sendiri. Dan mungkin, di sanalah letak kekuatannya, bahwa iman yang hidup adalah iman yang “pulang” ke rumahnya sendiri.



