Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 1 April 2026
Trending
  • 8 Idola Kpop Perempuan Non-Korea yang Jadi Visual Grup, Termasuk Tzuyu TWICE
  • Live pertandingan Tornado FC vs PSS Sleman, susunan pemain Super Elja untuk puncak klasemen timur
  • Tiga Analis Arab-Turki: Mengapa Program Nuklir Iran Lebih Menakutkan Daripada Irak dan Libya
  • KPPU Denda 97 Startup Pinjaman Online Rp755 Miliar, AFPI Akan Ajukan Banding
  • Investasi Emas atau Reksa Dana, Mana yang Lebih Aman?
  • Vivo X300 Ultra Siap Mengguncang Pasar dengan Kamera 200MP dan Baterai 7.000 mAh
  • Kasus dugaan pelecehan seksual seniman Sukoharjo terus berjalan, hasil visum diserahkan ke polisi
  • 6 cara memilih bingkai foto yang sempurna untuk dekorasi rumah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Membunuh Filsuf
Politik

Membunuh Filsuf

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 April 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peran Filsafat dalam Masa Kini

Ali Larijani, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, meninggal dalam serangan Israel pada 17 Maret 2026. Dalam peristiwa ini, filsuf Rusia Aleksandr Dugin mengungkapkan kekecewaannya dengan mengatakan, “Mengapa kalian membunuh para filsuf? Mereka itu sangat langka. Sekarang, dia [Larijani] di surga. Kita justru masih di neraka.” Kalimat ini menunjukkan betapa pentingnya peran filsuf dalam dunia yang semakin pragmatis.

Filsafat sering kali dianggap sebagai bidang yang tidak praktis dan tidak relevan dalam dunia modern. Namun, bagi sebagian orang, filsafat adalah cara untuk memahami makna hidup dan mencari kebijaksanaan. Sayangnya, banyak orang lebih tertarik pada hal-hal yang terlihat langsung dan bisa memberikan hasil cepat, seperti uang atau kekuasaan. Ini membuat filsafat menjadi kurang diminati, terutama oleh para politisi yang lebih mementingkan kekuasaan daripada pemikiran mendalam.

Filsafat vs. Materialisme

Dalam era materialisme, segala sesuatu dinilai berdasarkan nilai ekonomi. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk filsafat dan ilmu agama, seringkali dianggap rendah dibandingkan sains, matematika, dan teknologi. Namun, Farish A. Noor, seorang ahli sejarah poskolonial, menggugat anggapan ini. Baginya, pertanyaannya bukanlah apakah kita membutuhkan ilmu-ilmu tersebut, tetapi apa akibatnya jika kita tidak lagi mempelajarinya.

Teknologi telah membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari komunikasi hingga pengambilan keputusan. Namun, teknologi hanya alat. Penggunaannya bergantung pada manusia, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Teknologi tidak menjawab pertanyaan tentang makna hidup: Mengapa kita hadir di dunia ini? Apa tujuan hidup ini? Mengapa ada suka dan duka?

Filsafat dalam Budaya Modern

Meskipun filsafat masih dipelajari, semakin menjauh dari makna yang sebenarnya. Menurut Seyyed Hossein Nasr, filsafat dalam budaya Barat modern sering kali dianggap sebagai wacana akademis tanpa solusi nyata. Padahal, dalam pengertian klasik, filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Filsafat bukan sekadar olah pikir, tetapi upaya menemukan kebijaksanaan hidup.

Ibnu Rusyd, filsuf Muslim abad pertengahan asal Spanyol, menyatakan bahwa agama dan filsafat tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Dia menyebut agama sebagai ‘syariah’ dan filsafat sebagai ‘hikmah’. Syariah bersumber dari wahyu Allah, sedangkan hikmah berasal dari pengkajian akal dan indera manusia. Dengan mengkaji apa yang ada, manusia akan mengenali Tuhan yang menciptakan segala sesuatu.

Ketimpangan di Masa Kini

Kemajuan sains dan teknologi telah membawa manusia ke era industri, informasi, dan digital. Namun, ketimpangan semakin parah. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Pemimpin dan kaum terpelajar sering kali jauh dari kebijaksanaan hidup, lebih memilih perang daripada damai, nafsu serakah daripada keadilan.

Ribuan tahun lalu, Socrates dibunuh oleh penguasa. Plato berpikir bahwa negara yang adil harus dipimpin oleh filsuf. Al-Farabi juga menyampaikan ide serupa dalam impiannya tentang ‘negara utama’. Namun, betapa langkanya filsuf yang bisa menjadi penguasa! Jika penguasa bukan seorang filsuf, mereka sebaiknya didampingi oleh filsuf sebagai penasihat. Sayangnya, seringkali penguasa angkuh dan enggan dinasihati.

Kesimpulan

Sains dan teknologi penting bagi kemudahan hidup manusia. Namun, manusia tidak hanya terdiri dari tubuh dan otak, tetapi juga jiwa dan ruh. Jika manusia hanya fokus pada hal-hal yang sifatnya bendawi dan jasmani, maka kehilangan kemanusiaannya. Mesin dan manusia, akhirnya tak ada beda!


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Tiga Analis Arab-Turki: Mengapa Program Nuklir Iran Lebih Menakutkan Daripada Irak dan Libya

1 April 2026

Kapan Libur Panjang Berikutnya? Tanggal Merah dan Cuti Bersama April–Mei 2026

1 April 2026

Hadiri Pelantikan PDIP, Koster Minta Kader Turunkan Kemiskinan Bali

1 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

8 Idola Kpop Perempuan Non-Korea yang Jadi Visual Grup, Termasuk Tzuyu TWICE

1 April 2026

Live pertandingan Tornado FC vs PSS Sleman, susunan pemain Super Elja untuk puncak klasemen timur

1 April 2026

Tiga Analis Arab-Turki: Mengapa Program Nuklir Iran Lebih Menakutkan Daripada Irak dan Libya

1 April 2026

KPPU Denda 97 Startup Pinjaman Online Rp755 Miliar, AFPI Akan Ajukan Banding

1 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?