Jakarta Kembali Berdenyut

Setelah liburan Lebaran berakhir, Jakarta kembali menunjukkan kehidupannya yang sibuk dan penuh pergerakan. Jalanan yang sempat sepi selama beberapa hari kini kembali ramai, terutama di area pusat kota seperti Halte Transjakarta Petukangan D’Masiv, Jakarta Selatan. Pukul 07.00 WIB, keramaian mulai terasa dengan masyarakat yang berdesak-desakan dan berpacu dengan waktu.
Di Universitas Budi Luhur, arus kendaraan mengalir padat. Mobil pribadi, bus, hingga sepeda motor saling mengisi ruang yang semakin sempit. Bunyi klakson dan peluit petugas pengatur lalu lintas terdengar bersahutan, menggambarkan kembali kehidupan Jakarta yang tak pernah berhenti.
Ojek online juga tampak sibuk mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lainnya. Seorang pejalan kaki, Yogi Dermawan (30), mengaku setelah seminggu mudik ke Tegal, ia kembali ke rutinitas sebagai karyawan swasta di kawasan SCBD.

“Kaget karena merasa enak liburan, terlalu lama liburan. Ya lebih ke hektik saja,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Selama sepuluh tahun tinggal di Jakarta, Yogi sudah akrab dengan ritme kota ini. Namun, setiap selesai Lebaran, selalu ada rasa enggan yang harus dipaksa luruh. Ia berharap pekerjaan makin baik dan lowongan pekerjaan makin banyak.
Baginya, Jakarta tetap menjadi tempat untuk kembali. Kota dengan segala kerasnya, namun juga menyediakan peluang yang tidak selalu ditemukan di kampung halaman.
“Ya sebenarnya lebih enak di Jakarta. Karena kalau saya, mungkin daerah Tegal itu mayoritas orangnya juga di Jakarta semua. Apalagi mayoritas orang daerah Sidakaton rata-rata buka warteg, mereka juga kebanyakan di Jakarta. Ya keramaian itu hanya momentum Lebaran saja,” ujarnya.

Di sisi seberang halte, Ara (27) berdiri dengan hijab hitam dan tas ransel yang tergendong di depan. Ia tidak mudik tahun ini, bukan karena tidak sempat, tetapi karena memang tidak memiliki kampung halaman untuk pulang. Lebaran ia habiskan berkeliling, mengunjungi keluarga yang ada di Jakarta.
“Enggak. Kebetulan saya enggak punya kampung. Ya kita keliling saja, Lebaran ke keluarga yang ada di sini, paling main sama teman,” ucap Ara.
Sebagai seorang pramusaji di kawasan Blok M, Ara berharap hari pertama kerja tidak langsung terasa berat. “Ya sebenarnya vibenya masih berasa libur. Jadi semoga pekerjaannya enggak terlalu padat,” katanya.
Ia memberi pesan kepada para perantau agar tidak patah arang dalam mencari pekerjaan. Menurutnya, banyak peluang kerja di Jakarta jika mau berusaha.
“Ya semangat saja pokoknya buat cari kerjaan di Jakarta. Banyak kerjaan kok asal kita mau semangat,” ujarnya.
Hari dan Nasi Bakar yang Tak Pernah Libur

Di sudut lain, sedikit menjauh dari hiruk pikuk halte, seorang pria paruh baya duduk di samping motornya. Di atasnya, terangkut dagangan nasi bakar yang masih hangat. Ia adalah Hari (53), perantau yang telah puluhan tahun hidup di Jakarta.
“Sudah lama ya, dari tahun 1991 saya di Jakarta,” ujar Hari.
Sejak 1991, kota ini telah menjadi rumah sekaligus ladang perjuangannya. Ia pernah menjadi cleaning service, kolektor, hingga pekerja konstruksi sebelum akhirnya memilih berjualan nasi bakar hampir satu dekade terakhir.
“Pertama cleaning service tiga tahun, terus jadi kolektor, nagih-nagih di perusahaan. Habis itu pindah lagi ke perusahaan keramik, tukang tagih juga sampai tahun 2010. Tiga belas tahun saya kerja nagih. Habis itu, 2011 saya diajak kawan kerja di konstruksi,” ucapnya.
Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, dagangannya tetap diminati. Beberapa bungkus nasi bakar seharga Rp10.000 tersisa di motornya, menandakan bahwa roda kehidupan masih terus berputar.
Hari tidak mudik selama empat tahun terakhir. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan. “Anak-anak kan enggak libur, jadi kita ninggalin anak enggak enak,” katanya.
Baginya, Jakarta bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga tempat menambatkan kehidupan. Ia memahami betul kerasnya kota ini dan mengingatkan para perantau baru.
“Kalau enggak punya keahlian, jangan ke Jakarta. Tapi kalau punya keahlian, di sini ya monggo. Yang penting ulet,” katanya.
Pagi itu, di antara langkah-langkah tergesa dan kendaraan yang tak pernah berhenti, Jakarta kembali menampakkan wajah aslinya. Kota yang memaksa setiap orang untuk bergerak, bertahan, dan terus melangkah. Liburan telah usai. Kenangan tinggal disimpan. Dan di halte kecil di selatan kota, realita kembali dimulai.



