Kebijakan Ekonomi Indonesia yang Dinilai Tidak Konvensional
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia yang dinilai tidak konvensional sejak dirinya menjabat. Ia meyakini keraguan tersebut tidak akan berlangsung lama. Purbaya, yang dikenal blak-blakan dan pro-pertumbuhan, mengatakan kebijakan fiskal yang ia jalankan tetap berada dalam koridor yang sehat meski berbeda dari pendekatan konservatif yang selama ini diterapkan pemerintah.
“Menurut standar internasional mana pun, kami menjalankan kebijakan fiskal yang baik,” kata Purbaya kepada Reuters yang dikutip oleh media lokal, Sabtu (7/3/2026). Penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dari stabil menjadi negatif pekan ini menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran investor. Sejumlah pihak menilai ketidakpastian kebijakan dan disiplin fiskal dapat memengaruhi kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Sentimen negatif tersebut turut menekan pasar keuangan. Pada Januari lalu, pasar saham Indonesia tercatat kehilangan sekitar 120 miliar dolar AS nilai kapitalisasi. Investor asing juga tercatat menjual saham Indonesia senilai 415 juta dolar AS hingga 5 Maret, serta melepas obligasi pemerintah sekitar 240 juta dolar AS.
Purbaya mengakui sebagian kekhawatiran muncul karena dirinya masih relatif baru menjabat. “Karena saya masih baru, mereka mungkin berpikir ini bukan menteri yang baik dan tidak tahu apa yang dia lakukan,” ujarnya. “Saya tahu apa yang saya lakukan.”

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Semangat Awal Tahun 2026 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). – (Eva Rianti/Indonesiadiscover.com)
Ekonom berusia 61 tahun yang meraih gelar doktor dari Purdue University itu menggantikan Sri Mulyani Indrawati, yang selama ini dikenal sebagai penjaga disiplin fiskal Indonesia. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mempertahankan Sri Mulyani setelah kemenangan pemilu 2024 sebagai sinyal kesinambungan kebijakan ekonomi. Selama bertahun-tahun, perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan stabil sekitar 5 persen.
Namun, agenda ekonomi pemerintahan Prabowo yang menargetkan pertumbuhan hingga 8 persen membutuhkan belanja negara yang lebih besar, termasuk program makan gratis nasional yang diperkirakan menelan anggaran sekitar 20 miliar dolar AS.
Berbeda dengan gaya Sri Mulyani yang dikenal diplomatis dan berhati-hati, Purbaya kerap tampil lugas dan tidak konvensional. Sikap tersebut disebut membuat sebagian kalangan di lingkaran kebijakan merasa tidak nyaman. Salah satu kebijakan yang menuai perhatian adalah keputusan memindahkan lebih dari Rp200 triliun dana pemerintah dari bank sentral ke bank-bank milik negara guna mempercepat pertumbuhan kredit sektor swasta.
Pada saat serah terima jabatan tahun lalu, Purbaya bahkan menyebut dirinya sebagai “menteri kejutan” dan mengakui gaya kepemimpinannya pernah disamakan dengan gaya “koboi”. Ia juga beberapa kali melontarkan komentar keras terhadap kritik yang muncul. Ketika majalah Economist mengkritik kebijakan suntikan likuiditas ke bank negara, Purbaya menyebut pandangan tersebut “bodoh”.
Dalam kesempatan lain, ia juga menanggapi laporan Citigroup yang memperkirakan defisit fiskal Indonesia bisa melampaui batas legal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga batas defisit fiskal. Ia juga menilai perubahan prospek peringkat oleh Fitch tidak akan menjadi masalah jika pertumbuhan ekonomi mampu mencapai kisaran 5,6 hingga 6 persen.
“Cara terbaik untuk menjawab keraguan adalah dengan menunjukkan angka ekonomi yang baik,” kata Purbaya. Data resmi menunjukkan ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan terbaik dalam tiga tahun pada 2025. Pada kuartal keempat, ekonomi tumbuh sekitar 5,4 persen, lebih tinggi dari perkiraan analis yang berada di kisaran 5,01 persen.
Menanggapi keraguan sejumlah ekonom terhadap data tersebut, Purbaya menantang siapa pun untuk membuktikan bahwa angka tersebut keliru. Ia menunjuk sejumlah indikator ekonomi lain, seperti konsumsi listrik industri dan kepercayaan konsumen, yang menunjukkan tren positif. “Kami tidak hanya melihat angka PDB, tetapi juga berbagai indikator pasar yang menunjukkan bahwa ekonomi bergerak ke arah yang benar,” ujarnya.
Purbaya pun menetapkan tenggat waktu bagi kebijakannya untuk menunjukkan hasil. “Enam bulan dari sekarang kita akan lihat apakah kita berada di arah yang benar. Jika ternyata salah, Anda boleh mengkritik saya sepuasnya,” katanya. “Namun saya yakin justru sebaliknya yang akan terjadi.”



