Pameran Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026
Pameran Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 menjadi momen penting dalam memperkuat struktur ekonomi kerakyatan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Acara ini diselenggarakan di Alun-Alun Royal Ambarrukmo Hotel selama tiga hari dan bertujuan untuk mendorong penggunaan produk dalam negeri serta memperluas akses pasar bagi pelaku industri kecil menengah (IKM).
Acara yang dibuka secara resmi pada Sabtu (7/3/2026) ini dihadiri oleh berbagai pejabat lintas instansi, termasuk perwakilan Kementerian Perindustrian, DPRD DIY, Bank BPD DIY, hingga Dekranasda DIY. Penyelenggaraan pameran ini juga bertepatan dengan momentum refleksi Hari Jadi ke-271 DIY serta persiapan menghadapi lonjakan konsumsi menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, menyampaikan bahwa pameran ini mengedepankan kualitas dan keaslian produk. Sebanyak 50 peserta yang berpartisipasi telah melalui proses kurasi yang ketat dan dipastikan memiliki legalitas usaha yang lengkap. “Kegiatan ini sebenarnya sudah dimulai sejak kemarin tanggal 6 Maret 2026, namun memang pembukaannya baru hari ini di tanggal 7 Maret 2026 dan akan berlangsung sampai dengan esok hari tanggal 8 Maret 2026,” ujarnya.
Subsektor Unggulan Yogyakarta
Para peserta pameran mencakup berbagai subsektor unggulan Yogyakarta, mulai dari kerajinan tangan, tekstil atau batik, hingga produk makanan dan minuman. Yuna menegaskan pentingnya mata rantai produksi yang mandiri di tingkat perajin. “Peserta berasal dari subsektor kerajinan, tekstil atau batik, serta makanan dan minuman, dan seluruhnya merupakan IKM yang memproduksi sendiri produknya serta telah memenuhi persyaratan legalitas usahanya.”
Pameran ini tidak hanya dirancang sebagai pasar sesaat, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan pengembangan bisnis. Selama penyelenggaraan, panitia menghadirkan rangkaian talk show yang mempertemukan IKM dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO). “Harapannya adalah para peserta ini juga bisa bergabung pada toko retail yang ada di Asosiasi Retail Indonesia. Jadi teman-teman untuk pelaku usaha, untuk para tenan ini berusaha untuk bisa masuk di toko retail yang kemarin sudah kita adakan talk show,” tambah Yuna.
Selain akses ritel, kegiatan ini juga membedah potensi ekonomi syariah dan pemasaran digital. “Ada kegiatan talkshow terkait dengan pemberdayaan IKM, kemudian pemasaran dan juga maupun perkembangan ekonomi syariah di tiga hari ini. Kemarin sudah dilaksanakan satu kali talkshow di siang hari dan nanti pun juga akan dilaksanakan talkshow,” lanjutnya.
Sektor IKM sebagai Tulang Punggung Ekonomi
Mewakili Sekretaris Daerah DIY, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Noviar Rahmad, menyampaikan bahwa sektor IKM adalah tulang punggung yang menjaga resiliensi ekonomi Yogyakarta. Menurutnya, kerajinan bukan sekadar komoditas dagang, melainkan representasi identitas budaya. “Sektor industri kecil dan menengah serta kerajinan merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian daerah, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain berperan dalam membuka lapangan kerja, sektor ini juga menjadi bagian dari identitas budaya serta kekuatan ekonomi kreatif yang dimiliki oleh Yogyakarta.”
Noviar juga menekankan bahwa Pemerintah Daerah terus berkomitmen menciptakan ekosistem industri yang inovatif agar produk lokal mampu berbicara di level yang lebih tinggi. “Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta terus berkomitmen untuk mendorong pengembangan sektor industri dan kerajinan agar semakin maju, inovatif, dan memiliki daya saing yang tinggi baik di tingkat nasional maupun internasional. Melalui kegiatan hari ini, diharapkan dapat tercipta ruang promosi, pertukaran informasi, serta peluang kerjasama yang lebih luas bagi pelaku usaha,” tegasnya.
Noviar berharap pameran ini menghasilkan dampak jangka panjang bagi para pelaku usaha. “Saya berharap para pelaku industri kecil dan menengah dapat memanfaatkan kegiatan ini secara optimal, tidak hanya sebagai ajang pameran produk, tetapi juga sebagai sarana promosi, fasilitasi, dan pemberdayaan usaha. Dengan demikian, produk-produk lokal Yogyakarta dapat semakin dikenal luas, memiliki nilai tambah yang tinggi, serta mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif,” ujarnya.
Hiburan dan Tradisi Budaya
Acara Gelar Potensi Industri Kerajinan Jogja 2026 ini dibiayai sepenuhnya melalui APBD DIY. Selain pameran dan diskusi bisnis, masyarakat juga disuguhi hiburan rakyat seperti pertunjukan wayang kulit sebagai bagian dari rangkaian ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa di tengah suasana bulan Ramadan.



