Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 27 Februari 2026
Trending
  • Kadin Minta Presiden Hentikan Impor 105 Ribu Mobil Niaga dari India
  • Naskah Khutbah Jumat 27 Februari 2026: 7 Amalan Penting di Bulan Ramadan
  • Jadwal Kapal Pelni KM Dorolonda Februari-Maret 2026
  • Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer Hari Ini: Keuangan, Nasib, Karir, Kesehatan, Perjalanan, Cinta, dan Kecerdasan
  • POCO F8 Pro vs OPPO Reno 15 5G, Pilih Kekuatan atau Kamera Estetik?
  • Gaji Fantastis Tapi AKBP Didik Putra Terima Suap Narkoba Rp2,8M
  • PKB: Setahun Pramono–Rano Lebih Banyak Persepsi Daripada Solusi
  • Bursa Transfer MLS: Antoine Griezmann Dikaitkan dengan Rival Inter Miami, Jadi Lawan Messi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Kronologi Protes WNA Selandia Baru di Gili Trawangan, Cabut Kabel dan Rusak Alat Ibadah
Politik

Kronologi Protes WNA Selandia Baru di Gili Trawangan, Cabut Kabel dan Rusak Alat Ibadah

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peristiwa Kekerasan di Musala Gili Trawangan

Pada hari Kamis malam (19/2/2026), sebuah kejadian tidak terduga terjadi di musala Gili Trawangan. Miranda Lee, seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Selandia Baru, tiba-tiba mengamuk dan menyebabkan ketegangan antara warga setempat dan pengunjung.

Kejadian Awal yang Memicu Ketegangan

Saat warga sedang melakukan tadarus Alquran di dalam musala, Miranda Lee masuk secara mendadak dan langsung marah-marah. Ia mencabut kabel mikrofon yang digunakan oleh warga untuk beribadah. Tindakan ini memicu emosi warga setempat yang kemudian mencoba melerai situasi.

Namun, Miranda Lee tidak hanya menolak untuk menjelaskan tindakannya, tetapi justru melawan dengan cara yang kasar. Ia menyerang beberapa warga hingga melukai salah satu dari mereka. Bahkan, ia merebut handphone milik warga dan mengancam dengan parang, yang membuat situasi semakin memanas.

Tindakan Aparat dan Pemahaman tentang Tradisi Ibadah

Setelah kejadian tersebut, aparat kepolisian turun tangan untuk menenangkan situasi dan mengamankan pelaku. Menurut informasi yang diperoleh, Miranda Lee sudah lama tinggal di Gili Trawangan bersama orang tuanya. Namun, ia tampaknya tidak memahami tradisi ibadah Ramadan yang biasa dilakukan oleh warga setempat.

Menurut Kepala Dusun Gili Trawangan, Muhammad Husni, kejadian ini terjadi sekitar pukul 23.30 Wita. Saat itu, warga sedang melakukan tadarus di musala. Tindakan Miranda Lee yang spontan membuat warga merasa terganggu dan emosional.

Husni menjelaskan bahwa dalam aturan bulan puasa di Gili Trawangan, penggunaan speaker atau toa diperbolehkan hingga pukul 24.00 Wita. Setelah waktu tersebut, warga harus menggunakan speaker bawah atau dalam. Aturan ini juga berlaku bagi kafe yang menggelar acara selama bulan puasa.

Penjelasan dan Edukasi untuk WNA

Setelah kejadian, aparat kepolisian dan pihak desa melakukan edukasi kepada Miranda Lee agar lebih memahami tradisi dan kebiasaan warga setempat. Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB), Irjen Polisi Edy Murbowo, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan langkah-langkah untuk menjaga toleransi beragama di wilayah tersebut.

Dia menekankan pentingnya pemahaman dan edukasi terhadap para wisatawan, terutama yang berasal dari luar negeri. Menurutnya, warga setempat harus memberikan penjelasan tentang tradisi ibadah Ramadan yang biasa dilakukan di Lombok, termasuk tadarus Alquran yang dilakukan hingga pukul 24.00 Wita.

Tindakan Lanjutan dan Pemantauan

Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, menyatakan bahwa pihaknya masih terus memantau situasi pasca-kejadian. Ia juga meminta para pengelola hotel, resort, dan lainnya untuk memberikan informasi edukasi kepada tamu mereka mengenai kebiasaan dan tradisi di Trawangan.

Selain itu, Kapolres diminta untuk berkordinasi dengan takmir masjid, kepala lingkungan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat guna menjaga toleransi beragama. Hal ini dilakukan agar ibadah dapat tetap dilaksanakan tanpa menimbulkan komplain dari pihak lain.

Kesimpulan

Peristiwa ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak, baik warga setempat maupun para pendatang, untuk saling memahami dan menghormati tradisi serta kebiasaan yang ada. Dengan edukasi yang tepat, diharapkan insiden serupa tidak terulang lagi di masa depan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

PKB: Setahun Pramono–Rano Lebih Banyak Persepsi Daripada Solusi

27 Februari 2026

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Pariaman: Puasa Nyaman dan Ngabuburit di Pantai

27 Februari 2026

Kapolda Maluku Kecam Penganiayaan Siswa 14 Tahun oleh Anak Buahnya

27 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Kadin Minta Presiden Hentikan Impor 105 Ribu Mobil Niaga dari India

27 Februari 2026

Naskah Khutbah Jumat 27 Februari 2026: 7 Amalan Penting di Bulan Ramadan

27 Februari 2026

Jadwal Kapal Pelni KM Dorolonda Februari-Maret 2026

27 Februari 2026

Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer Hari Ini: Keuangan, Nasib, Karir, Kesehatan, Perjalanan, Cinta, dan Kecerdasan

27 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?