Bank-Bank Besar di Indonesia Berencana Bagikan Dividen Tahun Ini
Sejumlah bank besar di Indonesia, termasuk Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Tabungan Negara (BBTN), telah mengumumkan rencana pembagian dividen untuk tahun buku 2025. Meskipun pertumbuhan laba tidak lagi secepat tahun-tahun sebelumnya, beberapa bank tetap mempertahankan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) yang relatif tinggi.
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Bank Rakyat Indonesia (BRI) membuka peluang untuk menaikkan rasio pembayaran dividen pada tahun 2025. Hal ini dilakukan karena posisi modal BRI dinilai sangat kuat. Pada tahun 2024, rasio pembayaran dividen mencapai 86% dari total laba bersih, yaitu sebesar Rp 51,85 triliun.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa penentuan rasio dividen selalu mempertimbangkan struktur permodalan, capital adequacy ratio (CAR), serta rencana pertumbuhan bisnis. Pada akhir 2025, CAR BRI berada di level 23,52%. Laba BRI pada tahun 2025 mencapai Rp 57,13 triliun, turun 5,26% secara tahunan. Jika rasio DPR tetap sama, maka nilai dividen yang diberikan sebesar Rp 49,13 triliun.
Pada 15 Januari 2026, BRI telah membagi dividen interim sebesar Rp 20,63 triliun setara dengan Rp 137 per saham. Per Kamis (26/2/2026), saham BBRI turun 0,5% menjadi Rp 3.950 per saham.
Bank Mandiri (BMRI)
Bank Mandiri juga berencana membagikan dividen pada tahun buku 2025. Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menyatakan bahwa nilai dividen tidak akan jauh berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Pada tahun 2024, Bank Mandiri membagikan dividen sebesar Rp 43,51 triliun dari laba bersih Rp 55,78 triliun, atau sekitar 78%.
Pada tahun 2025, Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp 56,3 triliun, tumbuh 0,93% secara tahunan. Jika rasio DPR tetap di level 78%, maka total dividen yang dibagikan diperkirakan mencapai sekitar Rp 43,9 triliun. Setiap pemegang saham diperkirakan menerima dividen sekitar Rp 472 per saham. Proyeksi ini menjadi katalis positif bagi investor yang mengincar imbal hasil dividen.
Per Kamis (26/2/2026), harga BMRI naik 0,47% di Rp 5.325 per saham.
Bank Negara Indonesia (BBNI)
Bank Negara Indonesia (BBNI) juga akan mempertahankan rasio pembagian dividen sebesar 65%, sama seperti tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, laba bersih BNI tumbuh 2,7% menjadi Rp 21,64 triliun, sehingga dividen yang dibagi sebesar Rp 13,95 triliun.
Pada tahun 2025, laba bersih BNI turun 6,6% menjadi Rp 20,04 triliun. Dengan asumsi rasio payout ratio tetap 65%, maka dividen yang akan dibagikan diperkirakan mencapai sekitar Rp 13 triliun. Per Kamis (26/2/2026), saham BBNI turun 0,89% menjadi Rp 4.460 per saham.
Bank Tabungan Negara (BBTN)
Bank Tabungan Negara (BBTN) juga membuka peluang untuk meningkatkan rasio pembayaran dividen pada tahun 2025. Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu, menyebut bahwa rasio pembayaran dividen menjadi bagian dari strategi menjaga imbal hasil. “Kami ingin menjaga ROE di atas 12%-14%. Mungkin dari sisi kapitalnya, kami kasih dividen payout ratio sedikit lebih banyak antara 25%-30%,” ujarnya.
Pada tahun 2025, BTN mencatat kenaikan laba bersih 16,4% menjadi Rp 3,5 triliun. Potensi dividen berkisar antara Rp 875 miliar hingga Rp 1,05 triliun. Per Kamis (26/2/2026), saham BBTN naik 0,72% menjadi Rp 1.405 per saham.
Bank Central Asia (BBCA)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) belum memberikan gambaran jelas tentang rencana pembagian dividen. Namun, agenda tersebut akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 12 Maret 2026.
Pada tahun 2024, BCA membagikan dividen sebesar Rp 300 per saham dengan total Rp 37 triliun, atau sekitar 67,4% dari laba bersih. Laba bersih BBCA pada Desember 2024 mencapai Rp 54,8 triliun, meningkat 12,7% secara tahunan.
Di tahun 2025, BCA telah membagi dividen interim sebesar Rp 55 per saham dengan total nilai Rp 6,77 triliun. Laba bersih BBCA di tahun 2025 mencapai Rp 57,5 triliun, tumbuh 4,9% secara tahunan. Per Kamis (26/2/2026), saham BBCA turun 0,34% menjadi Rp 7.300 per saham.



