Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Thursday, 8 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Politik»Diksi Kasar Guncang Istana, Ketua BEM UGM Minta Maaf ke Prabowo atas Kata ‘Bodoh’
    Politik

    Diksi Kasar Guncang Istana, Ketua BEM UGM Minta Maaf ke Prabowo atas Kata ‘Bodoh’

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover25 February 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah dan Permintaan Maaf dari Ketua BEM UGM

    Seorang tokoh muda yang kini menjadi sorotan publik adalah Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam menyampaikan pandangan terkait isu-isu sosial dan politik. Namun, pernyataannya yang mengkritik Presiden Prabowo Subianto dengan istilah “bodoh” menimbulkan reaksi beragam di kalangan masyarakat.

    Tiyo menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul akibat penggunaan diksi tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kata “bodoh” tidak dimaksudkan sebagai serangan personal terhadap presiden. Menurutnya, istilah itu digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak efektif dalam menangani masalah-masalah mendasar di masyarakat.

    Permintaan Maaf dan Konteks Kritik

    Dalam wawancara yang disiarkan melalui kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Tiyo menjelaskan bahwa penyebutan kata “bodoh” dalam konteks kritik kebijakan memang menimbulkan ketidaknyamanan. Ia mengakui bahwa bahasa yang digunakan mungkin kurang tepat, tetapi ia tidak menarik kritik yang telah disampaikan.

    “Presiden kita itu, kalau bahasa saya, bodoh. Mungkin ada beberapa yang tidak nyaman dengan bahasa ini, dan iya, saya minta maaf atas ketidaknyamanan itu,” ujarnya.

    Permintaan maaf tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab atas dampak bahasa yang digunakan dalam ruang publik. Namun, ia menekankan bahwa kritik tetap valid dan penting untuk disampaikan agar bisa menjadi bahan evaluasi.

    Makna “Bodoh” yang Dimaksud

    Tiyo menjelaskan bahwa kata “bodoh” yang ia gunakan bukanlah sindiran terhadap kepribadian presiden. Ia menilai bahwa istilah tersebut merujuk pada inkompetensi dalam tata kelola kebijakan negara. Menurutnya, kritik ini lahir dari kegelisahan mendalam terhadap arah kebijakan yang dinilai tidak menyentuh persoalan-persoalan mendasar di masyarakat.

    Ia menilai bahwa pendidikan justru lebih mendesak untuk diselesaikan dibandingkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), meskipun tidak menafikan isu stunting. Baginya, akses pendidikan yang layak harus menjadi prioritas utama.

    Tragedi di NTT dan Akumulasi Kemarahan Publik

    Kemarahan publik semakin memuncak setelah kabar tentang seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000. Peristiwa ini menjadi simbol pahit ketimpangan dan kegagalan negara dalam memastikan akses pendidikan yang layak.

    Menurut Tiyo, peristiwa tersebut menjadi dasar kuat bagi kritik yang ia sampaikan. Ia menilai bahwa kebijakan pemerintah belum mampu menangani masalah yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

    Kritik terhadap MBG dan Langkah BEM UGM

    Lebih lanjut, Tiyo menjelaskan bahwa pernyataan kerasnya juga berangkat dari kekecewaan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program MBG. Ia menyebut bahwa langkah BEM UGM yang sempat menjadi perhatian publik ketika mengirimkan surat kepada UNICEF juga menjadi salah satu faktor.

    Menurutnya, realitas yang dirasakan masyarakat adalah bahwa pendidikan justru lebih mendesak untuk diberi solusi dibandingkan program MBG. Ia menilai bahwa kebijakan yang diambil belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.

    Stunting Harus Ditangani, Tapi Bukan dengan Logika Proyek

    Meski tidak menafikan isu stunting, Tiyo mengkritik pendekatan pemerintah dalam menangani masalah ini. Ia menegaskan bahwa metode pengentasan stunting mestinya tidak menggunakan logika proyek, tetapi lebih fokus pada program atau gerakan yang berkelanjutan.

    Bagi Tiyo, pendekatan berbasis proyek berisiko menjauhkan kebijakan dari kebutuhan riil masyarakat dan tujuan jangka panjang pembangunan manusia.

    Kritik atas Kebuntuan Ketatanegaraan

    Selain itu, Tiyo juga menyoroti apa yang ia anggap sebagai kebuntuan dalam mekanisme ketatanegaraan. Ia menyebut bahwa jalur perbaikan melalui eksekutif, legislatif, hingga yudikatif dinilai tidak lagi berjalan efektif.

    Dalam kondisi tersebut, ia memandang perlu adanya perhatian dan solidaritas yang lebih luas, bahkan dari masyarakat internasional. Ia berharap warga dunia dapat membantu rakyat Indonesia dalam menyelamatkan masa depan bangsanya.

    Kritik Substansi, Bukan Serangan Personal

    Di akhir penjelasannya, Tiyo menegaskan bahwa seluruh pernyataan dan diksi keras yang ia gunakan ditujukan pada substansi kebijakan, bukan pada pribadi presiden sebagai individu. Meski menuai pro dan kontra, ia menegaskan bahwa kritik adalah bentuk kepedulian.

    Dan di tengah kegaduhan yang muncul, ia memilih untuk tetap berdiri pada substansi, sembari mengakui bahwa bahasa juga memiliki konsekuensi yang tak bisa diabaikan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

    31 August 2026

    Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?