Pengakuan IDF atas Korban Palestina, Sebuah Langkah Langka dalam Konflik Global
Pengakuan pihak berwenang Israel terhadap jumlah korban jiwa di Gaza menandai perubahan signifikan dalam cara mengukur dampak konflik. Para pemantau independen menyambut baik pengakuan ini, meskipun mereka tetap mengingatkan bahwa menghitung korban secara akurat di tengah perang tetaplah tantangan besar.
Setelah bertahun-tahun menolak data yang dikeluarkan oleh otoritas kesehatan Gaza sejak perang Israel-Hamas dimulai pada Oktober 2023, militer Israel (IDF) akhirnya setuju dengan angka yang menyebutkan bahwa sekitar 71.000 warga Palestina telah tewas dalam konflik tersebut. Angka ini berasal dari Kementerian Kesehatan Gaza, yang selama ini dianggap sebagai sumber data yang relatif dapat dipercaya oleh pengamat internasional.
Therese Pettersson, peneliti dari Uppsala Conflict Data Program (UCDP), Universitas Uppsala, Swedia, menjelaskan bahwa pengakuan IDF bukanlah hal yang mengejutkan. “Rekaman data kematian kami yang begitu rinci membuatnya semakin sulit untuk menyangkal apa yang terjadi,” ujarnya kepada DW.
Angka Korban yang Bertentangan di Perang Rusia-Ukraina
Dalam konflik lain seperti perang Rusia-Ukraina, situasi justru lebih rumit. Baik Moskow maupun Kyiv tidak merilis data korban jiwa secara rutin atau akurat. Bahkan, Rusia tidak memberikan pembaruan resmi selama lebih dari tiga tahun. Hal ini memperkuat kecenderungan pihak-pihak yang bertikai untuk membesar-besarkan kerugian lawan dan mengecilkan korban dari negara sendiri.
Shawn Davies, analis UCDP, menjelaskan bahwa ini adalah fenomena umum. “Biasanya mengecilkan korban dari negara sendiri dan membesar-besarkan keberhasilan perang. Ini soal menjaga moral pendukung dan menutupi biaya sesungguhnya dari perang.”
Metode Pemantauan Korban Jiwa yang Berbeda
Pemantauan korban konflik dilakukan melalui berbagai sumber, termasuk pernyataan resmi pihak yang bertikai, laporan rumah sakit dan kamar jenazah, kesaksian saksi mata, liputan media, hingga unggahan media sosial. Namun, karena kualitas dan kredibilitas sumber berbeda-beda, data harus diverifikasi silang.
UCDP cenderung mempercayai “kerugian yang diakui” oleh suatu pihak, tetapi lebih berhati-hati terhadap klaim mereka akan korban dari pihak lawan. Lembaga ini juga dikenal konservatif, hanya menghitung angka kematian, bukan luka atau orang hilang, dan menggunakan datanya sebagai dasar untuk memantau tren konflik.
Namun, ada metode lain yang digunakan lembaga lain. Contohnya, laporan terbaru think tank AS CSIS menemukan data yang berlawanan untuk beberapa klaim yang dikeluarkan Rusia. Dengan menggunakan berbagai data seperti Kementerian Pertahanan Inggris, media Rusia Mediazona, dan BBC Rusia, serta wawancara dengan pejabat pemerintah AS, Eropa, dan Ukraina, CSIS memperkirakan:
- Hingga saat ini, sekitar 1,2 juta jiwa korban dari pihak Rusia (tewas, luka, hilang), sepertiganya terjadi pada 2025.
- 275.000–325.000 tentara Rusia tewas hingga Desember 2025.
- 600.000 korban diperkirakan dari pihak Ukraina, termasuk 100.000–140.000 tewas.
“Angka-angka ini luar biasa,” tulis CSIS dalam laporannya, “Tidak ada negara dengan kekuatan besar yang mencapai angka korban sebesar ini sejak Perang Dunia II.”
Pendekatan yang Lebih Bermartabat
Lily Hamourtziadou, akademisi studi perang dari Birmingham City University, mengatakan bahwa pengakuan IDF terhadap angka Gaza adalah langkah langka dan positif. Meski demikian, ia memperingatkan bahwa bisa saja IDF tahu angkanya jauh lebih tinggi, sehingga menyetujui hitungan yang lebih rendah.
Menurut Hamourtziadou, mencatat dampak perang terhadap manusia adalah tanggung jawab negara. “Ini adalah tanggung jawab setiap negara, jika mereka menggunakan agresi melawan suatu populasi, mereka harus mengumpulkan data siapa saja yang terbunuh dan bagaimana mereka tewas … Ini adalah sebuah pendekatan yang lebih bermartabat.”
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang melampaui angka. “Laporan terkait korban jiwa kadang hanya sekadar angka, informasi sederhana seperti nama dan usia korban dapat ditambahkan. Hal ini dapat menghadirkan dampak kemanusiaan yang sering tenggelam di balik fokus media dan pemerintah pada kerugian militer.”



