Peristiwa Bunuh Diri Anak di Ngada, NTT Memicu Kepedulian
Peristiwa tragis yang terjadi di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini menarik perhatian publik. Seorang anak berusia 10 tahun, YBS, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Peristiwa ini tidak hanya menyedot perhatian masyarakat, tetapi juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan masyarakat luas.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau dikenal sebagai Cak Imin, tindakan tersebut tidak boleh terjadi. Menurut dia, tidak seharusnya anak-anak menghadapi masalah keuangan yang begitu berat hingga memicu tindakan ekstrem seperti bunuh diri. Terlebih, alasan yang disebutkan dalam surat YBS adalah karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp 10 ribu.
Tanggung Jawab Bersama untuk Mencegah Kejadian Serupa
Cak Imin menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi cambuk bagi semua pihak. Pemerintah dan masyarakat harus lebih peka terhadap kebutuhan dasar masyarakat, terutama anak-anak. Jangan sampai hal serupa terulang kembali, karena anak-anak adalah masa depan bangsa.
”Ini harus menjadi cambuk ya, kewaspadaan kita, kehati-hatian kita. Semua membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapapun. Pemerintah juga waspada, masyarakat satu dengan lain harus gotong royong,” ujarnya saat diwawancarai oleh awak media pada Selasa malam (3/2).
Menurut Cak Imin, penting untuk mencari akar dari peristiwa ini. Ia menilai, ada frustasi sosial yang mendasari tindakan YBS. Untuk menghindari hal serupa, masyarakat perlu saling terbuka dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Dengan demikian, tidak ada lagi masyarakat yang merasa terpuruk dan tidak memiliki solusi.
”Kita cari akar masalah, akar masalah frustasi sosial itu sudah sejauh mana. Tapi, yang penting keterbukaan, gotong royong. Menjadi cambuk kita untuk terus waspada,” tambahnya.
Kondisi Keluarga YBS yang Memprihatinkan
Sebelumnya, diberitakan bahwa YBS meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Dalam surat tersebut, ia menyebutkan alasan dirinya mengakhiri hidup. Salah satunya adalah karena ingin membeli buku dan pena seharga Rp 10 ribu. Namun, MGT, ibu YBS, tidak memiliki cukup uang untuk membelikan perlengkapan sekolah anaknya.
MGT kini menjadi orang tua tunggal setelah suaminya meninggal. Pekerjaannya hanya sebagai petani dan buruh serabutan. Di tengah kesulitan ekonomi, ia harus menafkahi lima orang anak. Kondisi ini membuat keluarga YBS sangat rentan terhadap tekanan ekonomi dan psikologis.
Kepedulian Masyarakat dan Pemerintah
Peristiwa ini menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih proaktif dalam memberikan dukungan kepada keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesulitan. Bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan perlindungan psikologis.
Dalam konteks ini, penting untuk memperkuat sistem jaminan sosial dan program bantuan darurat. Dengan adanya mekanisme yang tepat, masyarakat dapat lebih cepat mendapatkan bantuan ketika menghadapi krisis.
Selain itu, edukasi tentang pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak juga perlu ditingkatkan. Dengan saling terbuka, anak-anak akan lebih mudah meminta bantuan ketika menghadapi masalah.
Kesimpulan
Peristiwa bunuh diri YBS di Ngada menjadi alarm bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya mengajarkan pentingnya empati, tetapi juga menuntut respons yang cepat dan komprehensif dari pemerintah dan masyarakat. Dengan kolaborasi dan kesadaran bersama, diharapkan tidak ada lagi anak-anak yang terpaksa mengambil keputusan tragis akibat kesulitan ekonomi.



