Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan tidak mampu mencapai target yang ditetapkan pemerintah. Seorang ahli ekonomi dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Leo Putera Rinaldy, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun ini hanya akan mencapai 5,1%, lebih rendah dari target APBN 2025 sebesar 5,2%. Meskipun demikian, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 akan berada dalam kisaran 5,2% hingga 5,3%.
Salah satu sumber pertumbuhan ekonomi tersebut berasal dari stimulus dan pengeluaran fiskal. Menurut Leo, kontribusi stimulus fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 dapat mencapai 0,2 poin persentase (ppt). Selain itu, belanja modal pemerintah juga meningkat signifikan hingga 44% pada kuartal IV, dengan pola belanja yang mirip seperti pada kuartal II 2025.
Faktor-faktor tersebut dinilai dapat mengkompensasi efek bencana yang terjadi di Sumatra. “Kondisi-kondisi tersebut bisa membantu menyeimbangkan dampak negatif dari peristiwa alam,” ujarnya kepada Indonesiadiscover.com.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini, Leo melihat bahwa baik pertumbuhan maupun kualitasnya akan lebih solid. Hal ini didorong oleh realisasi pengeluaran fiskal yang lebih cepat dan awal setelah masa transisi serta adaptasi kebijakan di tahun lalu.
Pemerintah telah merencanakan strategi untuk mempercepat pengeluaran fiskal di awal tahun anggaran. Dalam hal ini, pemerintah akan melakukan front-loading, yaitu menarik utang atau mempercepat belanja negara dalam jumlah besar di awal tahun. Strategi ini dimaksudkan untuk memanfaatkan momentum permintaan Lebaran dan Imlek di kuartal pertama 2026. Selain itu, pemerintah juga akan memastikan transmisi kebijakan moneter yang lebih baik.
Dari sisi investasi, Danantara akan menjadi salah satu pendorong utama. Proyek ini melibatkan partisipasi BUMN serta sektor swasta, termasuk foreign direct investment (FDI). Dengan adanya keterlibatan berbagai pihak, harapan besar diarahkan agar pertumbuhan ekonomi dapat terus bergerak positif.
Beberapa faktor penting yang diperhitungkan oleh Leo antara lain:
- Stimulus fiskal: Kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2025 sebesar 0,2 poin persentase.
- Belanja modal pemerintah: Meningkat signifikan hingga 44% pada kuartal IV.
- Efek bencana: Dapat dikompensasi oleh faktor-faktor lain seperti stimulus dan pengeluaran fiskal.
- Realisasi pengeluaran fiskal: Lebih cepat dan awal setelah masa transisi kebijakan.
- Strategi front-loading: Mempercepat belanja negara di awal tahun anggaran.
- Momentum Lebaran dan Imlek: Digunakan sebagai peluang untuk meningkatkan permintaan.
- Transmisi kebijakan moneter: Diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
- Investasi Danantara: Melibatkan partisipasi BUMN, sektor swasta, dan FDI.
Dengan semua faktor tersebut, Leo optimis bahwa meskipun ada tantangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap memiliki potensi untuk tumbuh secara stabil dan berkelanjutan.



